
"Kamu mau apa?!"
Tak mengindahkan seruan Jasmine, jarak demi jarak dipangkas Austin. Melalui pergelangan tangannya, Jasmine terus diseret pria itu tanpa peduli siapa pun, termasuk Gaury yang saat ini tentu tengah menunggunya.
Melewati koridor belakang bangunan, lalu keluar melalui pintu yang menganga di penghujungnya. Entah dari mana Austin tahu, bahwa langkah cepat yang di ambilnya, berakhir di taman belakang bangunan tersebut--sesuai keinginannya.
Suara hingar bingar musik di keramaian pesta, terasa samar terdengar. Keadaan tempat itu cukuplah sepi. Selain suara lalu lalang kendaraan yang terhalang pagar tembok menjulang di sekelilingnya.
Jasmine sudah menangis. Ia tentu tak paham apa yang ingin dan akan dilakukan pria itu terhadapnya.
"Bilang kalo kamu gak sayang aku lagi. Bilang kalo kamu gak peduli aku lagi!" Nada bicara Austin terkesan berat dan menekan. Tubuh Jasmine telah ia kunci melalui sepasang tangannya yang ia gunakan untuk mencengkram pergelangan tangan Jasmine di samping tubuh yang ia benturkan di dinding.
Jarak mereka telah hampir terpungkas.
"Ayo bilang!"
Sentakan suara Austin terdengar semakin mengerikan di telinga Jasmine. Terlebih tatapan tajamnya yang membuat jantungnya serasa luluh lantak terserak-serak. Rasanya ia ingin mati saja jika begini. Tapi apa daya, selain air mata bodoh yang hanya bisa ia keluarkan sebagai jawaban--jawaban ambigu tentu saja.
"Jas ...." Tiba-tiba suara Austin turun melembut. Tatapan matanya pun telah sayu meredup. Diturunkannya kedua cekalan tangan Jasmine perlahan dan hati-hati. "Aku gak tahu apa yang salah dalam diri aku! Aku gak tahu apa yang bikin kamu bisa benci sama aku! Aku gak tahu kenapa wajah aku ini bisa bikin kamu takut. Yang aku tahu ... aku peduli sama kamu, Jas!" papar Austin nampak putus asa. "Tolong jelasin semuanya. Biar aku paham." Nada suara Austin semakin melemah.
Sebenarnya Jasmine cukup bingung menyikapi perangai pria itu. Di satu sisi, perbuatan kejinya di masa lalu, cukup membuat Jasmine kebas rasa dan menuai balas dendam dalam hatinya. Namun di sisi lainnya ... yang ia lihat dari pria di hadapannya saat ini, tak ada kebohongan. Tak ada peran bodoh yang dibuat seolah menutupi kesalahannya.
"Apa kamu lupa ...." Jasmine mulai menegakkan tubuhnya. " ... satu setangah tahun yang lalu ... kamu pernah bikin hidup aku hancur, sehancur-hancurnya?!" Dengan pandang seolah ingin mencabik.
__ADS_1
Austin melengak balas menatapnya. "Satu setengah tahun lalu?" ulangnya seperti orang bodoh.
"Ya!" Dari cahaya lampu yang tergantung di pinggir pohon di depan mereka, air mata Jasmine nampak bening berkilauan. "Kamu culik aku! Kamu perkosa aku! Kamu kurung trus ninggalin aku di dalam kamar gudang itu dalam keadaan mengenaskan!" Laju menutup mulutnya dengan pundak berguncang, mengiringi isak tangis yang tertahan.
Tubuh Austin nampak terhuyung ke belakang. Penjelasan Jasmine membuatnya gagal paham. Dicengkramnya kuat rambut dengan kedua tangannya--entah untuk apa, hingga menarik kulit keningnya mengencang dalam renggut menyakitkan.
"Perkosaan ...? Gudang ...?" Itu bukan sebentuk ucapan revisi, namun lebih merujuk pada sebuah pertanyaan untuk dirinya sendiri. "Kenapa aku sama sekali gak bisa inget itu?" Austin semakin pusing menghadapi isi pikirnya.
Menanggapi kicauan Austin, Jasmine terlihat mengernyitkan wajahnya. "Ma-maksud kamu ... kamu gak inget semua itu?" Tentu dengan ekspresi heran penuh kerutan tanya.
Austin menjatuhkan tubuhnya, duduk bersandar dinding seraya masih memegangi kepala, lalu menggeleng. "Gak, Jasmine. Aku gak inget apa pun soal itu. Aku gak tahu apa yang kamu bilang!" Terus saja menggeleng, melontarkan penolakan ingatannya atas hal-hal yang diceritakan Jasmine tadi tentangnya.
"Kamu yakin? Kamu gak lagi bodihin aku, 'kan?!" Jasmine ikut menurunkan tubuhnya--berjongkok di samping Austin. Ekspresinya masih dalam mode bingung dan penuh tanya.
Dentaman luar biasa menghentak seisi jiwa Jasmine. Nama Lily mungkin menjadi ajian yang menyebabkan perasaannya langsung menjadi sakit. Begitu sakit, hingga terasa menghukum dirinya yang jelas telah menelantarkan bayi perempuan itu. "Lily ...."
Austin menarik pinggang Jasmine hingga membentur tubuhnya, menciptakan posisi berdampingan tanpa Jarak dengan tangan melingkar di punggung hingga ke perut wanita itu.
Kaki Austin terselonjor keduanya ke depan. Sedang kaki Jasmine masih ia tekuk searah. Kedua lututnya berada di atas paha milik Austin.
"Dengerin aku, Jas ...." Austin kembali memulai. Tatapannya ia tusukkan pada Jasmine yang kini juga memandangnya dengan ekspresi berkecamuk. "Aku bener-bener gak tau, sedikit pun, tentang semua yang kamu bilang tadi. Dulu waktu kamu ceritain ke aku semua itu rumah seng, aku kira itu orang lain, dan bukan aku. Karena aku sama sekali gak inget apa pun soal itu. Yang aku rasain saat itu cuma simpati, yang sampe kemudian ... berubah jadi cinta."
Semakin dijejali kebingungan, begitulah pikiran Jasmine saat ini. Ia tak tahu kemana harus mengarahkan kalimatnya, karena bahkan satu kata pun ia tak mampu untuk merangkai.
__ADS_1
Dalam hatinya, apa yang terjadi pada pria itu? Kenapa bisa ia tak mengingat semuanya? Semua ketololan yang bahkan begitu sulit untuk dihapuskan Jasmine hingga kini dalam hidupnya.
"Jas ... buat aku paham. Buat semua perasaan aku sama kamu jelas. Apa bener-bener aku orang yang udah rusakin hidup kamu?"
Untuk setidaknya mendapatkan jawaban, Jasmine menatap Austin. Menelisik setiap bagian wajah yang mungkin berbeda dari pria yang telah menculik dan memperkosanya.
Hidung, mata coklat terang keemasan, rahang tegas, rambut pirang, dan yang paling meyakinkan ... sebuah tanda lahir di lengan atas pria itu, semua benar-benar jawaban yang tak bisa dielak. Jasmine masih sangat mengingat itu.
"Iya, aku yakin, kamu orangnya!" cetus Jasmine seraya menuntun wajahnya untuk tertunduk. "Aku gak mungkin salah," ia menandaskan.
Rasanya begitu sulit bagi Austin untuk percaya. Pandangannya ia lempar ke lain arah, untuk mengalihkan kecamuk di dadanya. Bagaimana bisa ia berlaku se-kriminal itu, terutama terhadap seorang wanita?
"Aku memang pernah amnesia!" Austin tiba-tiba mengungkapkan.
Ungkapan yang tentu saja langsung disambut Jasmine dengan ekspresi terperanjat. "A-amnesia ...?"
"Ya!" Wajahnya Austin hadapkan kembali pada Jasmine. "Hampir tiga bulan lamanya," lanjutnya. Diraihnya telapak tangan wanita itu untuk digenggamnya. "Tapi aku berhasil ingat semuanya ... terkecuali ... kamu!"
"Kenapa, kenapa bisa?" Jasmine nampak gelagapan.
"Aku gak tahu, Jas! Itu yang aku gak paham," kata Austin lemah dan bingung. "Kalo aku inget semuanya dari awal, aku gak mungkin sekonyong-konyong deketin kamu sampe rela rubah penampilan aku kayak orang bego. Kalo aku inget semuanya, aku pasti lari jauh-jauh dari kamu dan ngumpet di mana pun aku bisa, supaya aman dari kejaran polisi! Atau seenggaknya ... buat ngilangin jejak perbuatan aku ... aku lenyapin kamu!"
Tentu saja Jasmine terhenyak. Ia mencerna untaian kalimat Austin sedalam-dalamnya, lalu ....
__ADS_1
Dia benar!