Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 52


__ADS_3

Austin dan Kandyla semakin dibuat kebingungan. Sesaat setelah bangun dari tidurnya, lalu mendapati Austin berada di sampingnya, Jasmine terus meringsutkan tubuhnya ketakutan. Bahkan hingga meminta Kandyla mengusir pria itu dari ruangan.


"Jas! Kamu kenapa? Ini aku, Ben!" Austin terus meyakinkan.


"Nggak! Kamu bukan Ben! Kamu orang lain!" tolak histeris Jasmine di sela tangisnya.


Kandyla menarik kedua bahu sahabatnya itu. Menghadapkan ke arahnya, lalu menatapnya dengan sorot meyakinkan. "Jas! Kalo lu gak mau percaya dia, lu pasti percaya gua, 'kan?!"


"...."


Suara keras Kandyla sepertinya cukup ampuh. Jasmine terdiam mendongak menatapnya. Perlahan, Kandyla menurunkan tubuhnya duduk tepat di hadapan Jasmine. "Jas ... dia gak bohong. Dia itu Ben. Bapaknya anak lu," tukasnya meyakinkan.


Lahan kosong di sisian kasur Jasmine diduduki Austin hati-hati. Meski terlihat Jasmine lagi-lagi meringsut menjauhkan dirinya hingga mepet ke tepian ranjang, Austin tetap memaksa.


Dengan tatapan penuh kasih, ia meraih dagu manis Jasmine lalu dihadapkan ke arahnya tak peduli penolakan. "Lily Bennedict, putri kita ... nungguin kamu pulang bawa oleh-oleh boneka Winnie The Pooh segede alakajim. Juga Tara yang minta dibawain kunci inggris asli dari Inggris, biar dia bisa pamer sama anak-anak PAUD di seberang bengkel, gitu kata tu setan."


Kandyla menutup mulutnya menahan tawa. Bagaimana bisa Jasmine meragukan keaslian Bennedict, saat bahkan sintingnya pria itu masih rangkap tak terpisah dari jiwanya. "Bule gila!" decitnya dalam hati.


Dan Jasmine ....


"Ben ...." Tatapannya mulai sayu melembut.


Austin menganggukkan kepalanya dengan senyuman paling manis yang pernah ia produksi. "Iya, ini aku, Austin Bennedict, punya kamu." Sekilas dikecupnya punggung tangan Jasmine yang dari dua menit lalu ia genggam. "Percaya 'kan, sekarang?"


Jasmine mengangguk dengan luncuran air mata penuh haru, sebelum akhirnya menubrukkan dirinya ke dada pria itu, memeluknya sangat erat, seerat cintanya Kais pada Laila.


Tentu saja Austin membalasnya tak kalah ketat. Dikecupinya pucuk kepala Jasmine penuh rasa rindu. "Cepet sembuh. Trus kita jalan-jalan keliling kota ini."


Sontak saja Jasmine mengangkat kepalanya menatap pria itu, terkejut, sedikit saja. "Beneran?"


"Iya, Jas! Cabut dah tu," Kandyla menyergah. "Tapi jangan ilap, lu masih ada kewajiban di film!" katanya mengingatkan.


"Iya," sahut Jasmine dengan kekehan harunya, kemudian semakin merekatkan pelukannya pada Austin.


Ada banyak hal yang ingin Austin ketahui dari situasi ini sebenarnya. Semuanya terasa berbelit belum bisa dicerna kepalanya sama sekali.


Alasan Jasmine melakukan percobaan bunuh diri.


Pria yang menjawab telepon Denia mengaku sebagai dirinya.


Juga ... ketakutan Jasmine yang tiba-tiba saat mendapatinya tadi.

__ADS_1


Siapa sebenarnya pria itu?


Kenapa Jasmine seolah trauma?


Tapi ini jelas bukan waktu yang tepat untuk menggali alasan. Jasmine baru saja mulai membaik. Austin jelas sadar, ia tak boleh egois.


--


Satu jam kemudian ....


Jasmine tengah dalam pemeriksaan dokter di dalam ruangan. Dan inilah saat yang tepat bagi Austin mengorek informasi dari Kandyla.


Deretan kursi tunggu berjejer beberapa jarak di sekitar pintu ruang di mana Jasmine dirawat.


Dua bilah di antaranya telah diduduki Austin juga Kandyla.


"Jadi ... apa lu bisa kasi gua clue? Apa aja yang terjadi sebelum Jasmine nyoba bunuh diri?" Austin membuka pertanyaan.


Minuman botol beraroma jeruk diteguk Kandyla sebelum menjawab pertanyaan Austin. Bunyi gluk gluk di tenggorokannya bahkan hingga terdengar jelas ke sekitaran.


"Gua juga bingung, Ben!" katanya setelah menutup kembali botol minumannya. "Jasmine sama sekali gak mau bilang. Di mana dia malem itu, siapa cowok yang sama dia, juga ... apa yang bikin dia stress, ampe nekat mau bunuh diri."


Seperti gelembung kosong, Austin menanggapinya dengan pautan napas cukup terdengar berat. Dengan posisi duduk sedikit merosot, kepalanya ia taruh di ujung sandaran kursi, menengadah. "Serius? Dikit pun kagak ada yang bisa lu tangkep, Dyl?" tanyanya mulai bingung.


"Lu kagak liat Jasmine ketemuan sama siapa gitu selama nyampe sini?"


Kandyla menegaskan, "Kagak, Ben! Orang tiap waktu dia sama-sama gua terus," sanggahnya. "Kecuali emang malem pas kejadian dia gak pulang itu, gua lagi sakit perut, jadi tidur lebih cepet abisan minum obat."


"Hmm ... trus asisten kalian itu ... siapa kata lu tadi?" Austin masih mencoba.


"Denia?!" sahut Kandyla.


"Ya!"


"Dia juga kagak tahu, Ben! Kata dia malem itu Jasmine cuma izin mau ke taman belakang, nyari udara seger, gitu."


Mulai memijit pangkal hidungnya, tanda pria itu semakin merasa buntu. "Apa mungkin Jasmine diculik?" terkanya tiba-tiba seraya menoleh keruh pada Kandyla.


Kini keduanya saling menatap dengan kernyitan tebal penuh asumsi.


"Bisa ja--" Kandyla memotong kalimatnya sendiri, ketika tiba-tiba ingatannya berhasil merangkum sesuatu. "Eh, tapi kalo diculik ... paginya pas gua sama Denia telpon, dia gabakal nyaut dong?!"

__ADS_1


"Trus trus?!" Austin menegakkan gegas tubuhnya, menghadap Kandyla, tanggap semangat.


"Iya, Ben. Dia bahkan balik ke kamar hotel yang kita booking tu pake ekspresi girang. Trus gua liat ...."


Sepasang mata Austin keras menelisik wanita itu dengan picingan tajam. "Lu liat apa?" tanyanya penasaran.


Raut wajah Kandyla berubah tak nyaman. Seperti ganjalan telak yang membuatnya bahkan tak berani menoleh pria itu walau sekilas, selain melalui ekor matanya yang melirik ketar-ketir.


"Liat apa, Dylaa!" Austin mulai mendesak.


"Umm ...."


"Dil ...."


Sejenak menghimpun udara, memejamkan mata, lalu membuka seraya menghembuskan napasnya dengan cukup berat, Kandyla lalu mengungkap, "Pagi itu ... gua liat ...." Ia kembali terdiam cukup lama. Sedangkan Austin masih menunggu dengan tatapan tajam penuh intimidasi. "Gua liat ... di leher Jasmine ada dua kiss mark yang ukuran sama warnanya cukup jelas kentara. Ampe syuting aja dia pake syal."


Austin tentu terperanjat, tersentak, juga terkejut sekuat-kuatnya. "Maksud lu ... dia ....?"


Kandyla menyergah dengan anggukan. "Gua pikir gitu, Ben." Raut wajahnya tentu tak enak mengungkap hal intim semacam itu. Terlebih lelaki itu tak jelas wujud dan perangainya.


"Apa dia gak bilang sama sekali sama lu, dari mana dia semaleman?"


Kandyla menggeleng lagi-lagi. "Sayangnya nggak, Ben. Waktu itu kita langsung sibuk sama kegiatan syuting yang emang uda kesiangan. Jadi gua nggak sempet banyak nanya-nanya dia. Tapi ...."


Austin melengak. Kata 'tapi' Kandyla membuatnya sedikit mengharap titik terang, walau hatinya sudah cukup dibuat remuk perihal tanda ciuman di leher Jasmine, seperti kata Kandyla tadi.


"Tapi apa?!"


"Iya, gua baru inget." Mata Kandyla melebar seketika. "Jarak panggilan telpon, ampe dia balik ke kamar hotel tu, cuma sekitaran sepuluh menit aja, Ben!"


"Lu yakin?"


"Iya!"


Austin mulai menggunakan pikirnya, berasumsi ringan. "Kalo gitu berarti ... semaleman itu ... dia masih ada di sekitaran hotel."


"Bener!" Kandyla meyakinkan. "Bajunya aja masih pede pake baju tidur. Dia mulai keliatan aneh trus tiba-tiba ngurung diri di kamar mandi tuh, abis video call sama lu, Ben! Iya, gitu!"


Penuturan meyakinkan Kandyla itu membuat Austin langsung tercenung. Kini otaknya mulai ia paksa untuk bekerja.


Hingga sepersekian menit kemudian ....

__ADS_1


"Apa nama hotel yang kalian tempatin sekarang?"


Tanpa ragu, Kandyla menjawab, "Britannia Lisbon!"


__ADS_2