Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 21


__ADS_3

Di dalam mobil, Austin masih terdiam.


Wajahnya menyamping, menatap jalanan yang berlalu jarak demi jarak. Pandangannya kosong. Ia jelas tak sedang baik-baik saja.


Menilai kondisi sahabatnya yang tengah tak stabil, baik secara fisik mau pun emosional, Giordan akhirnya mengalah. Ia meninggalkan tugasnya untuk mengantar Austin pulang.


Mulanya pria yang masih berseragam dokter itu tak ingin mengganggu kediaman Austin, tapi rasa penasaran lebih mendominasi dalam dirinya.


“Le, lu gak apa-apa?” tanyanya memberanikan diri, seraya menoleh sahabat blonde-nya itu sesaat saja.


“Emang gua kenapa?” Austin balik bertanya, tanpa menolehkan kepalanya pada pria itu sedikit pun. Ia masih fokus pada sejurus pandangnya yang menurutnya lebih menarik, atau mungkin ... sebentuk sikap menyembunyikan.


Giordan berdecih kecil. Kemudi masih fokus dimainkannya. “Pait aja ni gua bacot,” ia memulai dengan wajah serius. “Biarpun kisah kita beda, tapi gua juga pernah rasain sama kek lu, Le. Sakitnya pasti gak jauh beda.”


Curhatan kecil sahabatnya itu tak sama sekali menarik minat Austin untuk mengalihkan pandang. “Gua gak sakit. Jan sok tahu lu!” Ia malah menghardik.


Menanggapi balasan yang tak sesuai harapan, Giordan hanya geleng-geleng dengan kekehan kecil.


Beginilah lelaki ... tak akan selamanya tangguh.

__ADS_1


“Tapi seenggaknya lu bisa move on kek gua,” tegur dokter muda itu. “Lupain yang tolol, cari yang top. Pacar gua lebih oke sekarang. Kagak bikin ngebul ati sama pikiran. Pinter-pinter sortir aja lu!” Ia mungkin menggurui.


“Sortir ... lu kata kacang kulit!”


Pada akhirnya Giordan menyerah. “Serah lu dah!”


Dalam kediaman perjalanan, tak terasa, mobil Giordan sudah memasuki halaman bengkel Austin. Ia turun dari dalamnya setelah mematikan mesin dan melepas safety belt.


Sedangkan Austin telah lebih dulu keluar. Setelah dengan nada datar mengucapkan terima kasih, si bule itu menaiki tangga samping bengkel--masuk ke dalam huniannya di lantai dua. Giordan hanya geleng-geleng saja menyikapi.


“Yo, mana si bule?” Tara menghampiri Giordan dan bertanya.


Sesaat Tara mendongakan kepalanya ke pucuk tangga, lalu kembali melihat Giordan yang mulai sibuk meneguk minumannya.


“Kakinya gak lu buntungin, 'kan?” tanya konyol pria berambut gondrong itu, dipulas sedikit wajah cemas.


“Pantat lu amputasi.” Giordan terkekeh. Ia sudah duduk di sebuh bangku plastik di dekat lemari berisi peralatan bengkel. “Cuma lagi PMS keknya dia,” sambungnya tak kalah konyol.


“Mungkin juga. Kayaknya gak lancar tu haid-nya. Jadilah songongnya keluar.” Tara menambahkan.

__ADS_1


Setelah memakan beberapa candaan konyol, Giordan akhirnya buka suara tentang pertemuan Austin dengan Jasmine.


Tentu saja Tara terkejut. “Sial. Nyesel gua gak anter dia. Padahal gua uda nasaran dari jaman jebot, pen ketemu sama si Jasmine yang bisa bikin gila si bule itu!” Pria itu menyesalkan. “Liat di poto aja kagak jelas.”


Giordan lalu mengolok, “Salah lu sendiri, teledor jadi temen.”


“Bengkel lagi rame, Begge! Sayang cuan lah gua!” hardik Tara.


“Bule mati baru lu kelojotan!”


“Tinggal kuburin!”


“Bangke. Dia denger mampus lu!”


“Lu juga!”


Pada akhirnya, perdebatan itu terhenti setelah sosok seorang wanita seksi dengan rok mini berkibar di atas lutut. Yukensi ketat setelannya menonjolkan isian kuttang yang menantang. Wanita berambut panjang itu, keluar dari dalam mobil, lalu berjalan mendekati keduanya.


Mata dan mulut Tara menganga seperti goa di film Mak Lampir. “Buseh, besarnyaaaa!”

__ADS_1


Kemudian ditimpal sinting oleh Giordan, “Balon yoga aja kalah, Tar!”


__ADS_2