
Komentar orang tentang nama panggilannya sudah ia telan layaknya meminum air. Terlalu biasa. Ia hanya menyukainya. Panggilan yang simple dan manis, semanis aroma shampo anak-anak yang merk-nya serupa dengan panggilan itu sendiri--hasil pemberian seseorang yang cukup memiliki tempat dalam hatinya di masa lalu.
Didy diambil dari selipan suku kata tengah nama aslinya--Kandyla. Si cewek rese yang tak sengaja ditemui Tara di kuburan dan berlanjut di restoran. Ingat?
Dia hanya seniman penyusur debu jalanan. Nangkring di bus hilir dan mudik seraya berdendang dengan petikan gitar lusuh yang didapatnya dari seorang teman. Kadang, ia juga menyusupkan diri ke kafe-kafe dan gerai-gerai kecil di pinggir jalan, untuk mendapatkan uang lebih--setidaknya begitu bentuk juangnya. Itu pun jika tak kena usir si mpunya usaha.
Kandyla terhitung tangguh untuk ukuran seorang wanita.
"Kalo lo mau mandi, di sana kamar mandinya." Sebuah pintu kecil yang terselip di samping--katakan saja dapur, ditunjuk Kandyla sembari menurunkan tubuh lelahnya untuk merebah. "Kalo mau bobo, sini bareng gue!" Beralih menepuk bantal kosong di sisinya.
"Iya. Gampang. Kamu istirahat aja yang tenang," kata Jasmine.
"Lo nyuruh gue mati?! Pake dikata istirahat yang tenang!" sembur Kandyla seraya meraih sebuah guling lusuh di sudut matras tipisnya.
Jasmine hanya tersenyum dengan gelengan kecil menanggapi. "Maaf. Gak gitu juga."
"Ya udah, gue bobo, ya, Jas."
"Hmm."
Koper merah kecil miliknya itu ditaruh Jasmine di sudut paling kanan ruangan di samping lemari plastik milik Kandyla. Dengan senyum masih terpulas di bibirnya, ia menurunkan tubuh lalu terduduk bersandar dinding.
"Kalo mati itu termasuk pilihan, gue udah milih mati dari jaman Mang Kosen masih punya kumis!"
Untaian kalimat Kandyla ketika menenangkannya di jembatan tadi, membuat Jasmine terkekeh tipis tanpa suara. Terlihat serius, namun pemilihan kata humoris yang diambilnya, cukup menjadi suntikan lain untuk Jasmine.
"Tapi gua mikir, idup itu bukan tentang jalan di tempat! Gua harus lari, atau seenggaknya ngerangkak, biar bisa nyampe ke gunung di mana pohon teduh itu bisa gua capai."
Berbeda dengan sebelumnya, kalimat lanjutan Kandyla tersebut membuat ekspresi Jasmine berubah menjadi senyuman samar. Ia belum tahu, bagaimana kehidupan sebenarnya gadis itu. Tapi dilihat dari sikap cerianya, apa iya dia memiliki masalah?
Mungkin hanya tentang sebuah cita-cita, pikir Jasmine menerka.
Sedangkan dirinya ... masalah hidupnya tak sesederhana sebuah rasa menginginkan. Bukan sejenis sisa kunyahan permen karet yang dilemparnya lalu menempel di rambut orang yang melintas, dimintai pertanggungjawaban ... selesai. Jika semudah itu, mungki ia akan rela membotaki rambutnya sendiri demi mengganti kerugian orang itu.
Semenjak kepergian keluarganya, hidup Jasmine nyaris hanya tentang huru-hara dan konflik. Bagaimana bisa disamakan dengan Kandyla yang nampak senang-senang saja, walaupun hidup seorang diri.
Meresapi perbedaan dan keadannya, tanpa terasa, air mata Jasmine kembali menitik.
__ADS_1
Membayangkan hal apa lagi yang akan dialaminya ke depannya. Dan sekarang ia ikut Kandyla, gadis pengamen yang rumah pun bahkan masih mengontrak.
Apakah ia hanya akan merepotkan gadis barbar itu?
....
Tidak!
Jasmine menegakkan kepalanya, menyeka pipinya yang basah dari sisa lelehan air mata, lalu berujar meyakinkan diri, "Aku harus memulai semuanya dari sini!"
___
Sore harinya.
"Lo yakin mau ikut gue ngamen?" Kandyla bertanya ragu.
Dan anggukan yakin justru diperlihatkan Jasmine. "Iya."
"Lo bisa nyanyi ... maen gitar?" tanya Kandyla seraya mengangkat gitar yang mulai diselepangkannya ke balik punggung.
"Maenin gitar, aku gak bisa," jawab Jasmine seadanya. "Kalo nyanyi ... umm ... sedikitlah!" lanjutnya dengan wajah sedikit ragu.
Perjalanan pertama Jasmine mengikuti Kandyla dimulai dari berjalan kaki, menyusur trotoar, dan berakhir di sebuah pasar.
"Oke, Jas! Tu kios bakso lagi rame. Kita nyanyi di sana, ya?"
Jasmine hanya mengangguk saat informasi dari mulut dan telunjuk Kandyla mengarah pada apa yang dikatakannya.
"Lo mau nyanyi apa?" tanya Kandyla sekilas menoleh Jasmine, lalu mulai memposisikan gitarnya di depan, siap main.
Untuk sejenak Jasmine nampak berpikir, lalu berceletuk setelah meraih hasilnya. "Malaikat juga tahu, Dewi Lestari," cetusnya sesaat kemudian. "Bisa?" tanyanya memastikan.
Kali ini Kandyla yang dibuatnya berpikir. Terlihat gadis tomboy itu merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan mengotak-atiknya. "Bentar gua chari chord-nya." Dalam beberapa saat ia nampak sibuk memainkan benda pintar buatan India miliknya itu.
"Lagunya gua tahu. Melo banget. Tapi kunci gitarnya, gue blom paham."
Jasmine hanya manggut-manggut, menunggu.
__ADS_1
Keduanya kini duduk di tepian tembok yang mengelilingi sebuah pohon di tengahnya.
Beberapa saat bait lagu dan chord-nya itu diulik Kandyla bersamaan dengan gitarnya tentu saja. Bibirnya nampak kedat-kedut bernyanyi dengan suara lebih mirip orang berkumur. Lalu ... "Oke, Jas, gue udah bisa! Ayo!"
Dengan langkah lebar, keduanya berjalan menuju kios bakso yang cukup ramai disesaki pengunjung sore ini.
Penampilan Jasmine cukup santai, rambut panjangnya diikat bulat membentuk cepol, dengan jeans dan kaos abu berlengan pendek, sepasang kakinya dialas sandal jepit spon milik Kandyla. Sedangkan Kandyla sendiri, seperti biasa dengan gayanya, jeans panjang robek-robek, dipadukan kaos putih pendek yang dibalutnya dengan flanel kotak-kotak berwarna biru di luarnya.
Perhatian semua orang kini tertuju ke arah mereka, ketika Kandyla mulai mengucapkan ajian pembukanya seperti biasa saat mengamen di dalam gerai, bus dan lain-lain.
Satu petikan manis jemari Kandyla di gitarnya mulai terdengar. Semua nampak tenggelam menikmati. Dan semakin tenggelam lagi ketika suara Jasmine mulai terdengar memasuki bait lagu mengisi tempo.
Kandyla bahkan sempat tertegun.
Lembut banget suaranya, Anjiirr.
Ia tersenyum senang seraya terus fokus pada kunci demi kunci juga petikan dan kocokan gitarnya. Juga tentu semua orang yang menontonnya di gerai itu, nyaris tak ada yang menyorot pandangan pada lain arah.
....
....
Waktu menunjukkan angka 20.37.
"Gila, Jas! Uang kita banyak banget malem ini." Lembar terakhir baru saja ditimpal Kandyla pada tumpukan uangnya. Wajahnya nampak girang menikmati hitungan uang yang sedikit melewati biasanya. Ia dan Jasmine kini duduk di sebuah bangku di kayu di depan toko yang telah tutup. "Suara merdu lu bener-bener bawa berkah!"
Jasmine tersenyum senang menanggapi. "Syukur deh."
"Gue bisa gak kena omel Mak Kontrakan lagi kalo tiap ari uangnya dapet sebejibun ini!"
Jasmine terlihat mengernyit. "Kamu dimarahin Mak Kontrakan?"
"Sering!" kata Kandyla dengan senyum lebarnya, seolah tak ada beban. "Tapi gue kebal!"
Andai dirinya bisa seperti Kandyla, mungkin hidupnya tak akan sekacau ini, pikir Jasmine sedikit menyesalkan.
"Jam sembilan gue harus kerja, gantiin bininya Bang Ale! Lo mau balik ke kontrakan, apa mau ikut gue?"
__ADS_1
Pernyataan itu cukup mengejutkan bagi Jasmine. "Kerja? Kerja apalagi?" tanyanya ingin tahu.
"Jaga warung kopi di ujung jalan sono!" ungkap Kandyla. "Uda kayak Orang Jawa yak, gua?" kicaunya lalu terkekeh. "Padahal emang iya!" Dan kemudian menjadi gelak.