
Kali ini bisakah ia menyalahkan takdir?
Takdir yang dirasanya tak pernah adil menghakimi?
Atau bisakah ia memilih untuk tak terlahir saja ke dunia ini?
Tidak berada di tengah pusaran badai ... lalu kenapa langkah hidupnya seolah berpijak hanya dalam kesakitan?
Tuhan ... kenapa aku tak Kau ikutsertakan untuk mati bersama keluargaku saja?
Kenapa aku musti Kau sisakan?
Jasmine terus mengeluh.
Didera luka, dirangkul getir, berjalan gontai menantang udara kelam yang mungkin sesaat lagi akan menerjunkan hujan. Terlihat dari kilat yang sesekali berkelebat, redup terang menimpa sekitar. Air mata tak henti mengalir meninggalkan jejak-jejak basah di pipi wanita itu hingga melewati tulang dagunya.
Masih dengan seragam pasien yang dipakainya--hasil dari mengelabui petugas, Jasmine melarikan diri dari rumah sakit, meninggalkan putri kecil yang baru dilahirkannya dua hari lalu, juga tentu saja ... Austin.
Mengetahui kenyataan bahwa pria itu adalah sosok pria laknat yang telah menghancurkan hidupnya, membuat Jasmine marah meradang. Lalu pergi menuruti kesakitan hati juga emosinya, tanpa berpikir bahwa ia baru saja mencampakan seonggok nyawa yang bahkan belum tuntas nama panjangnya ia berikan.
Lily ... bayi perempuan itu dinamainya Lily.
Sekarang ia telah fatal mengambil langkah, dengan meninggalkan malaikat kecil hasil pertaruhan jiwa dan raga yang dipercayakan Tuhan terhadapnya.
Seiring deras hujan mengguyur, tubuh Jasmine mulai melemah, lututnya bergetar hingga menjadikan langkahnya limbung tak seimbang. Entah kemana kaki itu menuntunnya, ia bahkan tak tahu.
Kembali ke kontrakan pemberian Austin?
Sama saja bohong ia melarikan diri.
Ke rumah seng di bantaran sungai?
Bangunan itu bahkan telah ditempati orang lain, setelah dihibahkan Austin pada orang yang lebih membutuhkan.
__ADS_1
Kini jalan buntu yang didapatnya.
Tubuh Jasmine yang dasarnya masih belum pulih itu perlahan meniti lemah. Pandangannya mulai berkabut meremang. Jalanan kelam bermandi hujan semakin tak bisa ditangkapnya dengan jelas. Katup matanya semakin terasa berat untuk terbuka, hingga ....
BRUK!
...****...
Rambut yang selalu disisirnya klimis itu kini terlihat semrawut dan teracak. Dengan wajah frustasi, Austin terus memacu mobilnya menembus derasnya hujan, menyusur jalanan--mencari Jasmine.
Sesekali ia turun untuk bertanya pada siapa pun orang yang didapatinya, bermodal potret Jasmine yang diperlihatkannya melalui ponsel, namun tak ada hasil. Semua orang yang ditanyainya menggerakan jawaban serupa--menggeleng.
Kontrakan telah didatanginya. Si Ncing tetangga rumah seng Jasmine juga telah dihubunginya, namun kedua tempat itu pun juga tak menunjukkan keberadaan Jasmine.
Hingga berjam-jam lamanya ia berusaha, bahkan tak terhitung sejauh mana ia dan mobilnya bergerak, tak setitik pun tindaknya memberi penerangan.
Entah kemana wanita itu.
Dengan wajah lusuh lebih dari frustasi, akhirnya Austin mencapai titik lelahnya malam ini. Berhenti di depan sebuah pom bensin yang mulai senyap pengunjung, ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Merasakan betapa lelahnya dia saat ini.
Austin benar-benar tak mampu mengolah rasa dan pikirannya, tentang siapa Jasmine dan apa yang dimaksudnya dengan darah daging?
Bagaimana bisa ia tiba-tiba menjadi ayah biologis bayi itu, di saat bahkan ia tak mengingat apa pun tentang masa lalunya bersama Jasmine.
Keesokan harinya.
"Ini orok siapa, Le?!"
Tara tentu saja terkejut. Wajah sepet juga kesadaran yang baru pulih setengahnya itu, tiba-tiba dihadiahi pemandangan mencengangkan pagi-pagi buta seperti ini. Ketika didapatinya Austin turun dari mobilnya dengan membawa seorang bayi di gendongannya. "Lu nyulik anak orang?!" cerocosnya seraya mengikuti Austin yang mulai memasuki kamarnya.
Dan Austin masih bergeming. Diletakannya bayi mungil yang nampak terlelap itu di atas kasurnya. Setelah itu baru ia mulai berujar, "Bantu cariin gua perawat, Tar!"
Tara berhambur mendekat pria itu lalu dibaliknya tubuh Austin dengan memegangi kedua pundaknya. "Gua tanya sekali lagi ...." Sekilas Tara mengalihkan wajahnya pada bayi itu, lalu kembali menatap Austin. "... itu ... anak ... siapa, Le?!" tanyanya dengan seperti medikte anak TK.
__ADS_1
Sepasang mata Austin ia sapukan ke wajah Tara yang menatapnya menuntut jawaban. Dan ia jelas bingung, bagaimana harus menjelaskan. Hanya palingan wajah dengan raut resah ia tunjukkan pada Tara.
Dan saat itulah, Tara mulai menyadari, ada yang tak beres dengan Austin. "Jelasin ke gua, Le?" tuntutnya penuh tekanan.
Sejenak Austin memejamkan mata, memaut dalam napas, yang lantas dihembuskannya kasar, kemudian mulai menegakkan wajahnya menatap Tara setelah cukup ketenangan didapatinya. "Gua bakal ceritain semua sama lu, abis lu dapetin orang buat rawat anak gua."
Kedua bola mata Tara sontak membola. "Anak lu, lu bilang?" tanyanya mengulang. Lalu digetar-getarkannya pundak Austin keras. "Jangan becanda lu, Bangsatt!"
Austin mengangguk rapuh. Tubuhnya masih kuat dicengkram Tara. "Iya, Tar." Lalu diraihnya secarik kertas di dalam saku depan kemejanya. "Lu baca ini."
Dengan gegas Tara merebut, membuka, lalu membaca isi yang tertuang di balik kertas yang mulai lusuh itu. Sepasang bola matanya meliuk bergerak-gerak tak percaya mengamati setiap makna coretan itu. "Jadi ... lu beneran bapaknya tu bayi?" tanyanya gamang. "Trus ... Jasmine itu ... salah satu korban lu? .... Gitu, Le?"
Autin berbalik badan seraya menggeleng keras. "Gua gak tahu." Dipautnya kembali rambut hitamnya itu kasar. "Anehnya gua sama sekali gak inget sama Jasmine, Tar!"
Tara semakin tak paham. "Maksud lu?" tanyanya mengikuti Austin yang telah duduk tertunduk menutupi wajahnya di atas sofa di satu sisi ruangan. "Trus Jasmine-nya mana?"
Pertanyaan Tara mengorek kembali kegalauan Austin. Lagi-lagi diusapnya wajah letihnya itu sekasar keset. "Dia cabut ninggalin gua sama bayi itu, Tar. Gegara dia liat KTP gua yang masih blonde," terangnya sesak. "Tapi anehnya, ingetan gua sama sekali gak ngasih penerangan soal siapa Jasmine, Tar. Yang gua inget, gua baru kenal dia belon ampe empat bulan ini!"
"Kok bisa?" Tara kian terheran. "Apa itu gegara lu pernah amnesia?!" terkanya dengan wajah menerawang.
"Gua pikir juga gitu, Tar."
"Hmm ... gini aja, Le." Raut wajah Tara tiba-tiba terlihat terang seolah menemukan sesuatu. "Pgimana kalu lu sama tu orok, lakuin tes DNA!" cetusnya dengan nada semangat, merasa idenya terlampau cemerlang.
Mendengar itu, Austin spontan melengak. Ekspresinya menyiratkan banyak hal, antara setuju, bingung, dan juga takut.
"Gimana, Le? Bagus 'pan ide gua?!"
Untuk beberapa jenak Austin nampak menimang. Tatapannya kini terjurus lurus pada bayi merah yang masih terlelap di atas ranjangnya. "Gua rasa nggak dulu, Tar. Kasian, Lily masih terlalu kecil."
Tara memundurkan kepalanya terperanjat. "Ngapa? Bukannya itu satu-satunya cara biar lu nyaho, tu dede beneran anak lu ape bukan?!"
Pandangan Austin berbalik pada Tara. "Sekali pun Lily terbukti bukan anak gua ...." Ia terdiam untuk sesaat. "Gua bakal tetep rawat, juga sayangin dia, Tar."
__ADS_1
Penuturan Austin kian membuat Tara gagal paham.
Ni anak, ape beneran bule? tanya konyol Tara dalam hati. Ngapa jadi melo gini?