Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 63


__ADS_3

Lengan dingin Jasmine digamit Andrew untuk kemudian membawanya melangkah ke depan, memenuhi lambaian tangan Austin yang meminta mereka mendekat.


Jasmine seolah mati rasa. Ia bahkan tak merasakan ketika sepasang kakinya telah sampai di penghujung panggung--di samping Austin.


Perasaannya jatuh tenggelam dalam ketakutan yang belum jelas kebenarannya.


Austin tersenyum menatap pasangan tak jelas di sampingnya secara bergiliran, kemudian kembali ke arah penonton.


"Kalian pasti bertanya-tanya ... kenapa ada dua Bennedict di atas pentas megah ini?" celetuknya membuka suara.


Belum sempat kalimat selanjutnya ia lancarkan, Lily nampak meronta, meminta dilepaskan dari gendongan. Bocah itu mungkin merasa pegal. Dengan terpaksa Austin menurunkannya. Membiarkan balita menggemaskan itu berlari ke arah Kandyla yang melambai tangan di belakang, lalu membungkuk menyambut terjangan tubuh gembul Lily.


Semua terkekeh melihat kelakuan bocah cantik berambut blonde itu. Betapa lucunya dia di mata semua orang.


Setelah semua dirasa aman, Austin mulai melanjutkan kembali.


"Kalian pasti kenal siapa gua?" Dia tersenyum manis. Susunan kata tak ia rubah dari gaya aslinya. "Ya, gua Bennedict! Lebih tepatnya ... Austin Bennedict--si Raja Lintasan, seperti yang kalian kenal selama ini," jelasnya ringan saja. Wajah tampannya kemudian ia alihkan pada Andrew. "Dan ini ...." Dirangkulnya pundak Andrew hingga posisi keduanya saling menempel tanpa jarak---menghadap lurus pada penonton.


Lengan Jasmine masih digenggam Andrew. Sedangkan wanita itu semakin tertekan ditendang keadaan. Apa sebenarnya yang akan dilakukan kedua bersaudara itu? Sesekali diliriknya Kandyla untuk mencari jawaban. Namun tak sekelip pun sahabatnya itu menunjukkan apa yang ingin diketahuinya. Terlihat dari gelengan yang berkali-kali digerakkan Kandyla--tanda ia tak mengerti apa pun perihal keadaan saat ini.


"Perkenalkan ... cowok yang gantengnya sepuluh derajat di bawah gua ini ...." Sesaat Austin terdiam dengan ******* senyum. Menciptakan teka-teki yang sebenarnya bisa terjawab hanya dengan sekali pandang.


"Dia Andrew--Andrew Bennedict, saudara satu bangsa, satu rumah, satu rahim, juga satu tanggal kelahiran sama gua. Dia kembaran gua. Kalian pasti uda bisa nebak itu, 'kan?"


Suara riuh terdengar cepat tanggap di bawah panggung.


Berbagai ekspresi diperlihatkan untuk menanggapi kenyataan yang baru saja mereka ketahui.


"Gua berdiri di sini bukan tanpa alasan," Austin melanjutkan. "Banyak hal yang [mungkin] harus kalian ketahui. Sebelum semua mengakar jadi gosip murahan yang gak ngiblat pada kenyataan."

__ADS_1


Semua terdiam menyimak.


Austin bergerak, mengubah posisinya yang semula di sisi kiri Andrew, menjadi penyekat di antara saudaranya itu dengan Jasmine. Ia berdiri di tengah-tengah.


Jasmine masih dalam keadaan bingung. Tak sepatah pun kata keluar dari mulutnya walau hanya sebentuk desis.


Satu telapak kanan Andrew dan satu telapak kiri Jasmine digenggam Austin. "Gua mau ngungkapin hal besar yang mungkin ... bisa bikin kalian jantungan ampe kalang kabut." Terselip kekehan tipis di antara nada bicara itu. "Selama ini kalian semua keliru. Bukan gua yang deket dan acapkali ketangkep kamera paparazi bareng Jasmine," ungkapnya. "Tapi dia nih." Diangkatnya tangan Andrew ke depan. "Kakak gua."


Keriuhan kembali terdengar memekakkan telinga. Austin lalu melanjutkan;


Jasmine dan Andrew diakuinya pernah menikah di beberapa tahun silam sebelum Jasmine terjun ke dunia hiburan. Keduanya kemudian berpisah karena suatu hal yang tak diungkapkannya secara mendetail. Dari pernikahan itu lahirlah Lily yang dirawat Austin sendiri, demi menghindarkan bocah itu dari ketegangan kedua orang tuanya.


Baik Jasmine ataupun Andrew, dikatakan Austin, bukan tidak menganggap keberadaan Lily. Keduanya bahkan sangat mencintai bocah itu. Namun Austin memilih merawatnya sebagai bentuk menengahi. Berharap masalah antara sepasang sejoli itu bisa terpecahkan dan bisa kembali menyambung rumah tangga mereka dengan penuh cinta seperti sebelumnya.


Austin juga mengujarkan, bahwa kekecewaan Jasmine tak lebih hanya karena masalah kualitas waktu yang sulit diperoleh saat mereka menjadi pasangan, karena kesibukan Andrew yang bekerja lintas negara.


Jasmine juga tak bermaksud membodohi publik. Ia hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua itu pada khalayak terutama penggemarnya.


Di posisinya ... Jasmine semakin tak bisa menahan tangisnya.


Semua rancangan alasan yang baru saja panjang lebar dibeberkan Austin, membuatnya shock luar biasa. Lututnya bergetar hingga tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri. Ia terkulai, jatuh tak sadarkan diri. Namun dengan sigap Austin menahan, yang lalu dilanjutkan Andrew untuk menyangga tubuh lemah wanita itu.


Semua yang ada di atas pentas mendekat mengerumuni, sebelum akhirnya Andrew membopong dan membawanya pergi meninggalkan panggung setelah mengucapkan sepatah kata maaf pada semua orang.


Austin melanjutkan dengan beberapa potongan kalimat penutup yang membuat semua wajah semakin terkagum-kagum akan sosoknya yang hangat. Terlebih saat direngkuhnya kembali tubuh Lily ke dalam dekapnya. Balita menggemaskan itu berulang kali dikecupnya.


Kandyla melemparkan senyuman bangga atas ide luar biasa mereka. Ini mungkin tak akan mudah. Menciptakan kebohongan besar semacam ini butuh keberanian yang tak bisa dianggap remeh. Gadis itu bahkan bingung, siapa saja yang terlibat di dalam sandiwara tingkat dewa itu? Tapi ia tak ingin berpikir banyak. Selain harapan kebaikan yang berulang kali digemakan dalam hatinya untuk Jasmine, Lily dan semuanya.


Semoga tak ada kekacauan apa pun lagi ke depannya.

__ADS_1


...****...


Di sebuah ruangan dengan tema silver elegant, terlihat jelas bergaya kental seorang pria.


Bastian Sigi!


Dengan rahang mengeras, kepalan kedua tangannya kencang mengurat.


Layar televisi di mana acara dadakan Jasmine dan Andrew tengah berlangsung, ditatapnya penuh amarah.


Ia merasa terbodohi. Wanita yang selama ini ia kagumi, ternyata bukan hanya ia yang mengidamkan. Terlebih, pesaingnya adalah orang yang tak pernah ia duga.


Ia tahu beberapa angsung dari mulut Jasmine. Pengakuan tentang adanya Lily membuatnya cukup terkejut, tapi bisa ia terima kemudian.


Tapi mengapa harus ada Bennedict lain di antara kebenciannya?


"Aaarrrgghh!" Sigi berteriak seraya memukul meja. Melampiaskan amarah yang tak bisa ia redam. Layar televisi yang menyala dimatikan lalu dilemparnya remote ke sembarang arah.


Dari ujung ranjang, ia kemudian berjalan menuju balkon kamarnya yang nampak redup tanpa cahaya lampu.


Gagang pembatas loteng dipegangnya erat hingga menimbulkam ruas tegang tulang-tulang jarinya. Berdiri menantang langit dengan wajah kelam.


Sigi murka. Ia tak suka tertolak. Dan sekarang, sesuatu lebih mengejutkannya--Andrew Bennedict.


Secara tidak langsung, ia memusuhi dua bersaudara itu dengan tema berbeda. Lintasan balap ... juga ... Jasmine! Masing-masing untuk Austin dan kembarannya.


Tapi mengingat kelakuan tololnya terhadap Jasmine tempo lalu, hati Sigi mulai melemah.


Tengadah kepalanya mulai ia turunkan. Merunduk dengan ekspresi berubah muram.

__ADS_1


Dalam lirih, ia lalu bergumam, "Gua harus lupain Jasmine ... mulai dari sini."


__ADS_2