Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 11


__ADS_3

Ruangan seukuran 4x5 meter itu disapu sepasang mata Austin yang kini tak lagi keemasan. Lantainya hanya terbuat dari ubin semen mix pasir tanpa kramik.


Sebuah kasur dengan ukuran paling kecil, berseprai coklat dengan corak batik jaman dulu, terhampar di sudut paling kanan ruangan. Hanya ada dua bantal dan satu guling di atasnya, namun cukup tertata rapi walaupun kasurnya telah tak lagi gemuk.


Lemari plastik yang hanya setinggi pinggang Austin, berdiri tepat di tengah ruangan. Sedang di sudut lainnya, sebuah meja berbahan kayu setinggi lima puluh senti, ramai tertata beberapa keperluan khas wanita--milik Jasmine tentunya.


Tak disangka Austin, di luaran yang nampak kumuh berserak sampah-sampah plastik, hasil mulung yang dikumpulkan berkarung-karung, ternyata serapi dan sewangi ini di bagian dalamnya.


Satu kata disimpulkan pria itu; Jasmine cukup pandai menjaga kebersihan dirinya.


"Silahkan duduk."


Dua kata itu memecah kenakalan mata Austin. Kepalanya teralih ke arah Jasmin yang telah menurunkan rendah tubuhnya bertumpuk kedua lutut, di samping kasur tipis miliknya.


Sebuah botol berisi air mineral bervolume 1,5 liter, terlihat dituangkan Jasmine pada sebuah gelas bening setinggi jengkal orang dewasa, yang lalu disodorkannya ke arah Austin setelah cukup penuh gelas itu terisi air.


Austin baru saja mendudukan tubuhnya bersilah kaki teralas sehelai karpet spon yang dibentangkan Jasmine sesaat setelah ia dan pria itu memasuki rumah.


"Makasih," kata Austin setelah menerima gelas itu dari tangan Jasmine.


Jasmine hanya menganggukkan tipis kepalanya. Ia mengambil posisi duduk sekitar dua meter di depan Austin. "Maaf, keadaan tempatnya seperti ini," ucapnya tak cukup nyaman.


Ditelisik dari sisi mana pun, Jasmine jelas tahu, bahwa pria di hadapannya itu pasti bukan berasal dari kalangan seperti dirinya. Pria itu bersih dan wangi, kulitnya putih kemerahan, kuku-kunya kinclong jelas terawat. Dan yang paling menonjol ... dia tampan!


Sisi manusiawi Jasmine menilai jeli.


"Maaf, kalo kedatangan aku, bikin kamu gak nyaman," tutur Austin membuka percakapan. Sekilas diteguknya air putih di gelas tanpa tatakan yang digenggamnya.


Dan itu diakui Jasmine terus terang; Ya, aku memang ngerasain itu. Namun tentu saja itu hanya disuarakannya dalam hati. "Umm ... nggak apa-apa, Mas."


"Panggil Benn aja!" sergah Austin. "Aku bukan Wong Jowo!" kelakarnya. Dan itu nyata!


Nama itu ia cubit dari penggalan nama akhirnya--Bennedict.

__ADS_1


"Benn?" Jasmine memastikan.


"Hmm."


"Umm ... baiklah ... Benn. Jadi ... apa maksud kamu tadi, kita udah ketemu berkali-kali?"


Wanita ini gak suka basa-basi rupanya, kata hati Austin menilai.


Lesung pipi pria itu nampak sangat manis seiring tarikan senyumnya. Tas plastik yang tadi dibawanya ia rogoh isiannya, tak lepas dari pengawasan mata Jasmine. "Gosah buru-buru," katanya santai saja. "Makan kue ini dulu, enak kayaknya!"


Rasa penasaran Jasmine jelas menggantung. Namun ia diam, tanpa ada niat berdemo pada pria berkacamata itu. Matanya kini terjurus pada sebuah kue tart berbentuk hati dengan empat buah cherry merah di tengahnya, menghias lelehan coklat yang lumer di sekujurnya.


"Kamu punya sendok kecil?" tanya Austin menatap Jasmine.


Wanita itu mengangguk. "Bentar." Tanpa mengangkat tubuhnya, Jasmine hanya merangkak sedikit bergeser meraih sebuah box plastik di kolong meja rias sederhananya, yang tertutup taplak berenda. Dibukanya kotak plastik berjinjing itu perlahan.


Dan nampaklah seluruh rengrengan peralatan makan Jasmine, mula dari sendok garpu, piring, dan beberapa gelas, yang tertata di dalamnya. Diambilnya sebuah sendok kecil sesuai permintaan Austin. "Ini."


Kini Jasmine sudah kembali ke posisinya semula, duduk di tepian kasurnya. Perutnya yang membuncit nampak dielusnya sesekali.


"Aaaaa ...."


Jasmine terperangah. Telapak tangan Austin terjulur ke hadapan wajahnya dengan secuil kue yang baru saja disendoknya. "A-aku makan sendiri aja," tolaknya tergagap.


"Gak apa-apa. Anggap aja ini permintaan maaf aku sama kamu."


Perkataan itu membuat kening Jasmine kembali berkerut keheranan. "Ma-maaf ... buat apa?"


"Nanti aku jawab, abis kamu nerima suapan dari aku." Modus granat Austin mulai keluar.


Dengan kaku Jasmine menerimanya. Perlahan ia membuka mulut untuk menerima suapan pria itu--demi pertukaran dengan sebuah penjelasan.


Senyum Austin mengembang lebar. Kegiatan itu berlanjut hingga beberapa suapan. Semakin lama keduanya berhadapan, semakin dalam tatapan yang tercipta di antaranya.

__ADS_1


Dia benar-benar manis, batin Austin mengagumi.


Tak terkecuali Jasmine. Wajah tampan itu siapa pun tak bisa mengelak, termasuk dirinya sendiri.


Menyadari jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak karuan, Jasmine menahan sendok ke sekian kalinya yang dijulurkan Austin ke mulutnya. "Cukup, aku udah kenyang. Perutku makin besar, aku makin gak bisa nerima asupan makanan terlalu banyak."


Rangkaian kata-kata Jasmine mengembalikan Austin pada kenyataan. Pikiran sintingnya yang sedari tadi melayang-layang menggambarkan banyak hal tentang Jasmine, menancap kembali pada titik kesadarannya. "Ou, oke." Ditaruhnya sendok itu di atas tart yang masih tersisa tigaperempat bagiannya.


"Bisa ceritain sekarang, gimana kamu bilang kita ketemu berkali-kali, tapi aku gak tau itu sama sekali?"


Pandangan Austin telak menusuk wajah manis Jasmine. Sejenak ia mengambil napas, yang kemudian dihembuskannya gegas.


"Bunga mawar putih, makanan gratis dari Mamak Warteg, gaun biru berenda, juga ... badut!" Sejenak terdiam. Lalu melontarkan terusan kalimatnya sedetik setelahnya, "Itu semua aku yang lakuin."


Nastya Jasmine telak menatap tak percaya setelah mendengar pengakuan pria yang terduduk bersilah kaki di atas karpet spon itu.


Sepasang betisnya yang terlipat didudukinya, nampaknya mulai terasa kebas. Sedikit bergerak mengambil posisi nyaman, namun tetap saja dengan perasaan gusar. "Ke-kenapa kamu lakuin itu? Siapa kamu sebenernya?"


Sesaat Austin menundukkan kepalanya, mencari kata yang pas untuk ia lontarkan sebagai bentuk jawaban untuk pertanyaan Jasmine. "Aku yang ampir nabrak kamu di jalanan atas waktu itu." Dan pria itu mengakui.


Jasmine melengak menatapnya. Ia jelas masih mengingat kejadian itu.


Jadi lelaki ini ... si pengemudi motor itu?


Cukup lama Jasmine terdiam menyikapi segala argumen di kepalanya. "Aku gak papa waktu itu. Cuma makanan aku aja yang ancur. Tapi kenapa kamu ngasih gantinya sebanyak itu?" tanyanya tak habis pikir.


Entahlah! Austin bahkan tak bisa menelaah rasa dan pemikirannya sendiri, kenapa ia bisa tiba-tiba begitu peduli pada seorang Jasmine, yang bahkan belum ia ketahui siapa wanita itu sebenarnya. Bersuami ataukah tidak.


"Apa kantong makanan juga uang tiga ratus ribu yang dikaitkan di atas pintu itu ... kamu juga yang kirim?" Jasmine lanjut bertanya penasaran.


Austin cukup tersentak karenanya. Namun kemudian tanpa ragu ia mengangguk. "Iya, itu aku. Aku dateng ke sini buat gentiin makanan yang ... yang anggep aja uda aku ancurin. Tapi kamunya gak ada. Jadilah aku kaitin di paku di atas pintu itu." Ia menjelaskan seraya menunjuk ke arah pintu yang baru saja disebutkannya.


Lain dengan Jasmine, raut wajahnya tiba-tiba berubah gamang. Ia mengingat ucapan si Ncing, jika pria yang mengaitkan makanan itu, adalah sosok seorang bule. Bahkan di hari-hari berikutnya, si Ncing masih saja mengungkit kekagumannya atas sosok itu. Tapi pria di hadapannya ini ... sama sekali bukan bule.

__ADS_1


__ADS_2