Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 58


__ADS_3

Waktu selalu punya jawaban atas setiap pertanyaan.


Ternyata kepingan ingatan Austin tentang Jasmine, bukanlah hilang, melainkan memang tak pernah ada di kepalanya.


Jasmine tak terbentuk dari kenangan yang pernah dilaluinya, melainkan ... dari selaksa kehidupan saudara kembarnya--Andrew Blue Bennedict.


Wajah serupa cukup menjadi boomerang yang membuat hidup kedua saudara itu seperti benang kusut.


______


Matahari tergeser dari tahtanya, digantikan cahaya lampu yang berpendar memenuhi kota.


Detik ini, setelah melalui perdebatan menguras perasaan tentang Lily, yang pada akhirnya menemukan titik temu dan penengah, kedua saudara kembar--Austin dan Andrew, kini duduk mengisi sepasang kursi rotan di serambi luar kamar Austin.


Dua gelas kopi hasil hidangan Nimas, sudah tersaji di atas meja penyekat di antara keduanya.


Sedangkan Tara memilih pergi ke tempat tongkrongan, guna memberi waktu lapang untuk kedua saudara itu.


"Drew ...." Sejenak Austin terdiam, menunduk menatap gelas berisi kopi yang dipegangnya.


Andrew yang mulanya asyik mengamati pergerakan seorang bapak paruh baya yang tengah sibuk membetulkan antena televisi di loteng sebuah rumah di ujung jalan, menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanyanya ringan.


Langit mendung tanpa kedipan bintang di atas sana ditatap Austin dengan kepala mendongak. Dilihat dari iras yang nampak merenung dan berpikir, sepertinya apa yang akan dilontarkan Austin cukup tertangkap serius dalam pandang Andrew.


"Bahagiain Jasmine," celetuk Austin tiba-tiba, tanpa mengalihkan wajah dari sejurus tatapnya di atas langit.


Gestur terperanjat ditunjukkan Andrew tentu saja.

__ADS_1


Sedari awal memilih tempat itu untuk bercokol mengisi waktu sebelum kantuk menyerang, obrolan keduanya tak jauh dari bahasan seputar masalah Lily, bisnis Austin, juga urusan pekerjaan Andrew di London. Tapi tentang Jasmine ... bukankah terlalu sensitif untuk dipilih?


"Maksud kamu apa, Aust?"


Punggung kekarnya Austin benturkan ke sandaran kursi seraya mendesah. Tak banyak berbasa-basi lagi, ia laju melontarkan apa yang tergantung di ujung lidahnya beberapa menit belakangan. "Abis semua kepahitan yang dia alamin, entah itu karena gua, atau pun elu, gua rasa ... dia berhak bahagia," tuturnya lalu menoleh ke arah Andrew.


Kerutan di kening Andrew cukup mewakilkan isi hatinya yang gamang. Sekelebat rasa sesal tiba-tiba menyeruak memenuhi seisi dadanya. Ia menunduk sekilas, lalu mengangkat wajahnya menatap beranda malam yang kelabu di depan sana. "Aku sadar aku banyak salah sama cewek itu, Aust. Tapi ... kenapa kamu minta aku bahagiain dia? Bukannya kamu sayang banget sama dia, ya?" Pria itu tak paham. Wajah Kelam Austin dipandangnya menuntut.


Sesaat mengusap kasar wajahnya untuk mengalihkan betapa kusut perasaannya saat ini, Austin lalu menjawab, "Gua udah putusin dia, Drew!"


Dan Andrew menanggapi dengan ekspresi dan gerak terkejut, "Kok bisa? Gimana ceritanya?"


Austin menghela pandangnya ke arah pria itu, menatapnya sejenak, lalu mulai menjelaskan lagi, "Pertemuan kalian, kehadiran Lily, sampe kelakuan lu di hotel London waktu itu sama dia ... gua rasa ... elu yang harusnya bertanggung jawab atas dia, bukan gua!"


Dalam sekejap, isi dada Andrew berdentam saling bertabuh. Semua yang dikatakan Austin, kini membayang di pelupuk matanya satu persatu seperti roll kamera yang berputar bergantian. "Tapi kamu 'kan sayang dia--"


"Gua cuma figuran yang gak seharusnya ngambil banyak peran di antara kalian." Austin menyergah. "Gua mohon ... ambil peran yang seharusnya lu peranin. Udah saatnya lu pertanggunjawabkan semua yang lu perbuat sama dia."


Wajah serius dengan raut kental meminta itu ditatap Andrew. Seraup napas berat diambilnya seraya menghela wajah ke lain arah. "Tadi siang, aku udah nemuin dia di apartemennya, Aust," ungkapnya terus terang.


"Oya?!" Austin menyela terkejut.


"Iya."


"Trus?"


Sebelum melanjutkan, kopi yang mulai mendingin itu disesap Andrew. Rasa manis jambu dari minuman itu menggenang di mulutnya lalu mengalir terbuang ke cekungan tenggorokannya.


"Aku ke sana cuma mau minta maaf. Tapi gak diduga, pas nyampe di apartemennya ... dia ...."

__ADS_1


....


....


....


"Sigi keparaaaat!!" Austin menggeram. Rahang tegasnya nampak mengetat, juga gigi yang bergemeletuk saling bergesek atas dan bawah. Sepasang tangannya mengepal keras hingga mencetak ruas tulang-tulang memutih di pangkal menonjol jemarinya.


Ya, Andrew menjelaskan apa yang dilakukan Sigi pada Jasmine sesuai apa yang dilihat dan dilakukannya. "Untung aja aku dateng di waktu yang tepat sama cewek tomboy temennya itu. Kalo nggak ... mungkin Jasmine udah mati bunuh diri karena frustasi," Andrew menambahkan.


"Cari mati manusia laknat itu!" Wajah Austin semakin memerah menahan murka. "Dulu dia oprek motor balap gua, ampe gua kecelakaan dan amnesia. Sekarang Jasmine ...." Tak cukup hanya dengan serapah, menyikapi perbuatan Sigi, mungkin harus dengan pergerakan. Antara tinju ... atau jeruji.


"Tunggu, Aust!" Andrew menjegal, tepat ketika Austin bangkit dari tempatnya. Ia tentu paham, apa yang akan dilakukan adiknya itu selanjutnya.


"Apa lu?!" Austin menghardik. "Gosah halangin gua! Cowok keparat itu harus gua kasih pelajaran!"


"Lalu aku?!" Andrew menyela cepat, kemudian berdiri seraya menerjangkan tatap kelam pada Austin. "Apa yang aku lakuin sama Jasmine lebih dari pria direktur itu, Aust! Lebih dari sekedar bikin kamu amnesia! Dulu aku ninggalin kamu tanpa kejelasan sampai akhirnya Mommy mati. Seharusnya kamu juga hukum dan kasih pelajaran aku, 'kan?! Jangan bertindak gegabah! Yang ada nanti kamu yang akan celaka!"


Sebentuk ungkitan, sekaligus saran yang dilontar Andrew dalam waktu bersamaan itu, membuat Austin seketika beku. Ia tercenung menatap kembarannya dengan tatapan gamang. Sesaat kemudian, bahu tegangnya mulai melemas. Dan .... "Lu bener!" Mengusap kasar wajahnya kemudian duduk kembali di kursinya. "Harusnya lu yang gua cekek duluan."


Andrew tersenyum tipis saja. "Tenangin diri kamu, Aust. Jasmine udah baik-baik aja," katanya seraya ikut menurunkan tubuhnya kembali ke tempat semula.


Dalam kediaman Austin, Andrew menatapnya lekat seperti tengah menilai sesuatu. Sampai ....


"Aust ... kalo kamu masih cinta dia, kenapa maksain diri minta aku gantiin?"


Cepat Austin menghela wajahnya pada pria itu. Sejenak terdiam, lalu terkekeh kemudian. "Gua bisa dapetin cewek kurang dari satu jam kalo gua mau," selorohnya. "Soal Jasmine ... gua emang pernah sayang sama dia, sebagai seorang lelaki dan kekasih. Tapi sekarang, rasa sayang itu udah beganti tema, Drew." Lalu membuang pandangnya ke lain arah dengan raut berganti gamang. "Tapi gua pengen tetep liat dia bahagia. Udah terlalu banyak kepahitan idup yang dia laluin gegara kita berdua ... terutama lu."


Austin lalu bangkit dan bergerak menghampiri pagar pembatas dan memegangnya dengan tubuh sedikit membungkuk. Malam semakin senyap terasa. Banyak rumah-rumah yang telah mematikan lampu bagian dalamnya. "Dia cewek baek, Drew. Lu akan bahagia sama dia."

__ADS_1


Punggung milik adiknya itu ditatap Andrew. Raut wajahnya menyiratkan sesi berpikir yang begitu pekat. Sejenak merunduk menatap lantai yang terinjak di bawah kakinya, lalu berjalan, mengambil posisi mensejajari Austin--menghadap satu titik yang sama.


"Demi menebus semua kesalahan yang udah aku ciptain ... aku siap bahagiain dia!"


__ADS_2