
"Bos! Di luar ...."
Nimas menggantung kalimatnya dalam mode ragu. Tangan kanannya masih tergantung di sisi pundak dengan telunjuk melenting mengarah ke pintu keluar.
"Apaan di luar?" Austin masih sibuk mengasak rambutnya yang basah, saat pintu itu di sibaknya. Ia baru saja selesai mandi, saat Nimas mengetuk pintu kamarnya untuk memberitahu suatu hal.
"Anu, Bos ... di luar ...."
Austin mendengus menanggapi. Daripada menunggu gadis pengasuh itu menjabarkan, lebih baik memastikan sendiri. Gegas langkahnya melewati Nimas yang masih bodoh di posisinya.
"Waduh, bakal perang lagi gak, ya?" batin Nimas khawatir seraya menatap punggung Austin yang mulai menjauh.
"Ada apaan sih di luar, ampe Nimas kaku macam patung spinx?" dengus Austin di tengah langkah.
Sepuluh detik kemudian ....
"Lu--" Seketika pria itu melengak. Sosok yang berdiri menunduk tepat di depan ambang pintu, disambutnya dengan mata membola.
"Apa kabar, Aust?" Andrew ... bentur tatapnya dari lantai ia angkat lalu beralih ke wajah Austin yang terkejut dengan kedatangannya.
Austin balik menatapnya dengan menambah sedikit ketajaman. "Mau apa lu?!" tanyanya tanpa basa-basi. "Kalo tujuan lu ke sini atas nama Lily, gua gak ada waktu!" Ia menghardik lebih dulu sebelum kakaknya itu melontar kata.
"Sayangnya iya!" sergah cepat Andrew.
Di antara sentaknya mendengar kalimat itu, Austin lalu berujar, "Kalo gitu mending lu pergi! Gua gak mau tahu, dari apa pun yang lu bawa. Sampe kapan pun, Lily bakal tetep sama gua!" Daun pintu ditariknya untuk menutup, namun dengan gegas ditahan Andrew menggunakan kedua tangannya.
Pintu tunggal itu membanting seketika.
Austin menanggapi dengan cengang.
"Perjalanan aku dari London cukup jauh, seenggaknya kamu biarin aku rebahan sebentar aja gitu," sanggah Andrew.
"Trus abis itu lu bawa Lily?!"
Hanya membeliak disertai dengusan kasar, Andrew menabrakkan dirinya pada sisi tubuh Austin yang melintang di depan pintu tanpa berkata apa pun--masuk ke dalam rumah.
"Wooyy! Gua blom izinin lu masuk!" teriak Austin seraya berbalik melihat Andrew yang berjalan menuju bagian lebih dalam ruangan.
__ADS_1
"Jangan lupa, Aust! Aku juga punya hak atas rumah ini!"
Skatmat sudah! Austin bisa apa?
Yang dikatakan Andrew benar adanya.
Ia berkacak pinggang dengan tampang gusar.
"Sial!"
Setelah cukup meredam perasaannya, Austin menyusul masuk dan mendapati Andrew sudah menelungkup di atas kasur, di dalam kamarnya. "Buset si Kampret! Maen molor-molor aja lu! Ini kamar gua, woyy!!"
Tidak ada tanggapan. Andrew tetap diam dengan posisinya.
"Kuping lu sowak?!" sembur Austin lagi. Ia mulai blingsatan. Antara kesal, dan tidak tahu harus apa.
"Aku cape, Aust," suara Andrew terdengar lebih mirip orang berkumur, karena mulutnya membentur bantal.
"Ya tapi jangan di kamar gua juga!"
Austin mulai frustasi. Walaupun meradang, tapi tidak mungkin 'kan ia menghajar pria itu hanya karena tidur di atas kasurnya?
"Hh! Serah lu dah! Gua mo nyatpamin Lily, biar lu kagak ada kesempetan ambil dia!" ujarnya seraya membuka lemari untuk mengambil setelan baju dan celana, sehubung tubuhnya yang masih polos, selain lilitan handuk yang menginterupsi area intimnya.
"Emang kamu yakin, kalo Lily anak aku?"
DEG
Austin melengak. Kerja sepasang tangannya sontak terhenti karena pertanyaan itu. Dengan perlahan dan raut gamang, ditolehnya Andrew yang ternyata sudah mengangkat tubuhnya--terduduk, sesaat saja, lalu lanjut mengambil sehelai kaos hitam dan celana training abu berlogo 'ADIDAS’, yang secara asal dipilihnya. "Lanjutin molor lu!" imbuhnya seraya berbalik, meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat.
Austin menghindar, Andrew menyadari. Ditatapnya pintu yang baru saja terbanting menutup itu dengan raut nanar.
"Sebegitu besarnya kamu sayang Lily, Aust," gumam Andrew seraya merogoh saku jaketnya.
Sehelai kertas dibukanya dari lipatan, lalu ditatapnya isi yang tertera di dalamnya.
Hasilnya ... 99,99% cocok.
__ADS_1
Seulas senyuman getir dipulas Andrew kala menatap deretan keterangan singkat di kertas itu.
"Lily anak aku, Aust," gumamnya lagi. "Tapi aku sama sekali gak pantes nyandang gelar sebagai ayah. Kamu yang lebih pantes."
Di kamar Lily.
Austin memandangi bocah yang tengah terlelap di atas kasur lantai bulatnya dengan hati kacau. Dibelainya lembut kepala dengan rambut pirang itu penuh kasih. "Maafin, Daddy, Sayang. Kalo suatu saat nanti ... Daddy terpaksa harus ninggalin kamu. Kamu harus bahagia, ya?" Sekelebat perih menggores ulu hatinya kala mengucapkan kalimat itu. "Daddy gak ada pilihan lain." Ia menggeleng. "Kamu bukan milik Daddy."
Sekeras apa pun mempertahankan, sekuat apa pun membentuk perlawanan, suatu saat Lily pasti tetap akan mencari induk dari darah yang mengaliri tubuhnya. Dan itu bukan dia. Austin tetap akan kalah pada akhirnya.
"Tapi cinta Daddy sama Lily ... gak akan luntur sampe kapan pun. Sampe Daddy gak bisa bernapas dan terkubur di dalam tanah." Lantas dikecupnya cukup dalam telapak tangan kembung dengan kulit halusnya itu diiringi tetesan air mata.
"Kamu yakin rela kalo Lily aku ambil, Aust?!"
Suara itu sontak membekukan Austin. Ia melengak mengangkat wajah. Perasaan gusar lagi-lagi menyergap tak terkendali, namun kali ini lebih kuat dirasakannya.
Andrew, tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan pria itu berada di sana dan sejauh mana ia mendengar celotehan miris Austin bersama bocah yang sama sekali tak menggubris.
"Darah dan gen yang mengalir di tubuhnya ... 99,99%, adalah darah dan gen yang sama dengan aku," lanjut Andrew seraya melangkah mendekat ke arah Austin.
Kertas hasil tes DNA itu diletakkan Andrew di hadapan adiknya di atas perut gembul Lily. Ia lalu berjalan menuju jendela yang terbuka setelah sejenak mengusap kepala Lily dengan senyuman hambar.
Walaupun kertas itu tak disentuhnya, tapi Austin jelas bisa membacanya. Semakin ke bawah, tulisan-tulisan penuh angka dan istilah aneh kedokteran tersebut, semakin mengacaukan hatinya. Tepat di angka 99,99%, air matanya mulai menggenang di pelupuk, membayang berkaca-kaca, lalu berjatuhan menimpa bagian kertas itu dalam satu kedipan saja.
Tak setitik pun kata mampu ia lontarkan. Rasanya terlalu menyakitkan.
Sepanjang sejarah dalam hidupnya ... hanya Lily yang mampu membuatnya terluka sedalam ini. Sakitnya bahkan lebih sakit dari ketika ia melihat jasad ibunya terbujur di brankar mayat dengan luka tembakan dan rembasan darah di tubuhnya saat itu.
Begitu agungnya sosok 'ayah' yang diperankannya, hingga membuatnya merasa kehilangan arah untuk melanjutkan hidup, hanya dalam lima detik saja.
"Jangan buat muka goodlooking kamu kayak sapi sembelit, Aust!"
Austin sontak mengangkat wajahnya menatap Andrew yang sudah duduk di hadapannya, tersekat tubuh Lily di antaranya.
"Apa lu kata?"
Andrew terkekeh menanggapi. Diraihnya satu tangan Lily, digenggam, lalu dikecupnya beberapa jenak, kemudian kembali menatap Austin. "Aku gak akan bawa Lily kemana-mana. Dia tetep bakal di sini, sama kamu ... sama kita berdua!"
__ADS_1