
Hingga sosok Adelia tak lagi terlihat di sana, Wisnu masih belum beranjak dari tempatnya. Hatinya tiba-tiba berdenyut sakit kala mengingat segala perhatian yang diberikan Adelia selama ini. Wanita itu bahkan tidak mengurangi sedikit pun kadar perhatiannya, meski dia telah menikah dengan Intan.
Belum lagi sikap sang ibu yang kelewatan jahat dan tidak pernah mendapat pembelaan darinya. Tanpa sadar Wisnu mengepalkan tangannya seerat mungkin.
...**********...
"Ma, aku tidak mau," ucap Adelia dengan wajah penuh ketakutan dan kemarahan. Wanita itu tidak peduli bila Ratna tersinggung dengan araut wajahnya, toh, beliau memang sangat keterlaluan kali ini.
Bagaimana tidak, pasalnya dengan alibi membebaskan Adelia dari segala hutang yang ada, Ratna meminta wanita itu untuk tinggal di bangunan kosong yang terpisah jauh dari rumah. Dulu bangunan itu dibuat Hariadi sebagai rumah santai mereka ketika Wisnu masih kecil, tetapi kini telah kosong dan rencananya akan dirubuhkan.
Mnendengar hal tersebut tentu saja Adelia tidak mau. Lebih baik dia dibuang sekalian di luar dari pada harus diasingkan begitu!
"Bila Mama memang sudah tidak berkenan denganku, maka aku akan ikhlas jika diceraikan oleh Mas Wisnu!" ungkapnya kemudian.
Ratna tersenyum sinis. "Kamu pikir saya tidak mau! Saya berharap sekali kamu bisa berpisah darinya, tetapi Wisnu keras kepala! Entah apa yang dia pertahankan dari wanita tak berguna seperti kamu!" seru Ratna.
"Aku akan bicara dengan Mas Wisnu, Ma," ucap Adelia lagi sembari berdiri dari posisi berlututnya.
Bak seorang budak, Ratna memang menyuruh Adelia untuk bersimpuh di atas karpet, sementara wanita itu duduk di sofa.
Sementara itu diam-diam Intan menguping pembicaraan mereka berdua. Wajahnya tampak kesal mengetahui Adelia menolak perintah Ratna untuk tinggal di sana.
Dia harus melakukan sesuatu agar Adelia tidak betah, karena Wisnu pasti tidak akan melepaskan wanita itu.
"Dasar wanita maandul kurang ajar! Berani-beraninya kamu pergi disaat aku belum selesai bicara!" teriak Ratna seraya menunjuk punggung Adelia. Namun, Adelia tak juga gentar. Dengan menahan air matanya, dia pergi meninggalkan Ratna begitu saja.
__ADS_1
"Mbak Adelia," sapa Intan yang baru saja naik ke lantai dua. Wanita hamil itu berjalan menghampiri Adelia yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa Intan?" tanya Adelia dengan nada datar. Dia sebenarnya malas sekali bertemu pandang dengan madunya tersebut. Terlebih, dia baru saja bertengkar lagi dengan Ratna.
"Mama kenapa Mbak? Marah-marah lagi sama Mbak ya?" tanya Intan pura-pura tidak tahu.
"Ya, begitu lah." Jawab Adelia sekenanya.
Intan tersenyum perihatin seraya memegang lengan Adelia. "Sabar ya Mbak. Dari pada Mbak meratapi kemarahan beliau, lebih baik kita berbincang di perpustakaan. Bagaimana?" kata Intan kemudian.
Adelia mengerutkan kening. Setelah lebih dari satu bulan tinggal, baru kali ini Intan berusaha mendekatinya. Ada apa? Adelia sudah cukup trauma dengan kejadian teh tersebut, dan dia tidak ingin bermasalah lagi dengan Intan.
"Lain kali saja ya Intan, Mbak mau istirahat," tolak Adelia halus. Namun, Intan enggan mendengarkan. Dia malah menarik tangan Adelia dan langsung mengajaknya ke lantai tiga.
Perpustakaan milik keluarga Kencana tidak lah terlalu besar, dan biasanya hanya Hariadi saja yang betah berlama-lama di sana.
Adelia sendiri walau sudah sepuluh tahun tinggal di sana, hanya pernah beberapa kali saja memasuki ruangan itu dalam setahun. Dia lebih senang membaca melalui ponselnya.
Adelia menatap salah satu sofa big bean yang berada di salah satu pojok ruangan. Sofa tersebut adalah tempat kesayangan Hariadi, sang ayah mertua yang kini dirindukannya.
Entah apa alasannya, Hariadi yang sudah pensiun dari kantor memutuskan untuk mengawasi beberapa cabang kantor di luar kota sejak Wisnu menikah dengan Intan. Oleh sebab itu dia jadi jarang berada di rumah, dan membuat Ratna semakin bebas menyiksanya.
Walau Hariadi terkadang tidak berani membela Adelia, tetapi beliau lah satu-satunya orang di keluarga yang masih mau memanusiakan dirinya. Itu lah mengapa Adelia merasa sangat sedih mengetahui Hariadi tidak akan sering-sering tinggal di sana.
"Mbak!" panggilan Intan tiba-tiba menyadarkan dirinya. Wanita muda itu kemudian meminta tolong Adelia untuk mengambilkan salah satu buku yang terletak di paling atas rak buku.
__ADS_1
"Maaf ya Mbak, aku tidak berani menaiki tangga," ucap Intan seraya mengusap perutnya.
Adelia menghela napas lalu mengangguk. Dia pun mengambil tangga kecil untuk dinaiki.
"Yang mana bukunya, Ntan?" tanya Adelia yang kini sudah berhasil menaiki tangga kayu tersebut.
"Itu Mbak, sebelah sana, judulnya xxxxx!" Tunjuk Intan. Namun, Adelia tak juga menemukan bukut tersebut.
"Coba aku lihat dulu di komputer," ujar Adelia. Hariadi memang membuat daftar isi buku di komputer, demi memudahkannya untuk menemukan bacaan yang diinginkan.
"Oke!"
Intan tersenyum tipis. Saat Adelia sedang turun, tiba-tiba wanita muda itu sengaja menendang sedikit kaki tangga, hingga menyebabkan tubuh Adelia oleng.
Seperti yang diharapkan Intan, tubuh Adelia pun oleng ke kanan, sedangkan tangga kayu tersebut oleng ke arah kiri tepat menuju wanita itu.
Intan sebenarnya bisa saja menghindar. Namun, dia memilih menahan tangga tersebut menggunakan tangan kanannya, dan perlahan-lahan membawa tangga itu ke atas tubuhnya yang sengaja direbahkan, agar terlihat seperti jatuh tertimpa tangga. Sementara Adelia yang jatuh betulan, kini meringis kesakitan tanpa memerhatikan Intan.
"Akkh!" Intan mengaduh kesakitan.
Adelia seketika menoleh dan terkejut mendapati keadaan Intan.
"Intan!" seru Adelia seraya bangkit dari lantai. Akan tetapi wanita itu berteriak, sebab pergelangan kakinya ternyata terkilir.
Adelia panik kala Intan kini jatuh pingsan. Dia tak mungkin berteriak karena ruang perpustakaan ini kedap suara.
__ADS_1
"Ya Allah, Bu Intan, Bu Adel!" Ratih, salah seorang asisten rumah tangga yang sedang bertugas di lantai tiga tiba-tiba masuk ke dalam perpustakaan dan mendapati mereka berdua dalam keadaan demikian.