Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 35. Polemik Intan dan Attan.


__ADS_3

Adelia melempar tas kerjanya di atas ranjang sebelum kemudian merebahkan diri di sana.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan dia baru saja kembali dari luar kota setelah melakukan perjalanan dinas bersama Alex. Wanita itu benar-benar menghabiskan waktunya dengan bekerja keras demi menghilangkan segala ingatan tentang Wisnu mau pun Intan.


Ya, Adelia tidak bisa memungkiri perasaan rindu yang datang mengusik. Sebab, biar bagaimana pun, dia telah hidup bersama Wisnu selama sepuluh tahun lamanya. Namun, bukan berarti Adelia akan luluh terhadap pria itu karena dia sudah mengukuhkan hatinya untuk berpisah.


Dan niatnya tersebut ternyata sudah disampaikan kepada sang ayah mertua sejak beberapa hari lalu, saat beliau pergi mengunjunginya.


Mendengar keputusan sang menantu kesayangan, Hariadi tentu saja tidak bisa menolak. Dia membebaskan Adelia untuk mengambil jalan hidupnya masing-masing. Adelia adalah wanita cerdas dan terhormat. Bagi Hariadi sendiri, dia tak pantas bersanding dengan Wisnu.


Akan tetapi Hariadi tidak mengizinkan Adelia untuk mengajukan gugatan. Alih-alih bercerai resmi, pria itu lebih memilih agar Adelia menggantung pernikahan mereka untuk sementara waktu guna memberi Wisnu pelajaran.


Dari yang Adelia dengar dari sang ayah mertua, Wisnu memang sedikit berubah setelah kepergiannya. Pria itu jadi mudah terpancing emosi. Berkali-kali Wisnu juga mendatangi rumah keluarganya untuk mencari tahu keberadaan Adelia, hingga menyebabkan keributan besar.


Entah apa yang dicari Wisnu. Benarkah dia merasa kehilangan Adelia, atau hanya terbiasa bersama wanita itu.


...**********...


"Mas, aku mau pergi ke tempat Tante Mona nanti siang, terus aku mau menemaninya berbelanja hari ini. Boleh, kan?" tanya Intan di sela-sela sarapan pagi mereka.


"Terserah." Jawab Wisnu datar. Pria itu sama sekali tidak mengangkat wajahnya saat menjawab pertanyaan sang istri.


"Kok, terserah? Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Intan dengan wajah merengut. Dia memang menyadari perubahan sikap Wisnu sejak kepergian istri pertamanya tersebut.


"Iya terserah saja." Setelah berkata demikian, Wisnu pun menyudahi sarapan paginya dan langsung berdiri dari kursi.

__ADS_1


"Loh, Nak, makanannya belum dihabiskan!" ujar Ratna yang juga berada di sana.


"Tidak lapar, Ma. aku berangkat dulu." Wisnu mencium tangan sang ibu, lalu menghampiri Intan.


Intan berdiri hendak mengantarnya ke depan, tetapi Wisnu menolak. "Di sini saja," ucap pria itu.


Intan mau tidak mau menurut dan hanya mencium tangan sang suami. Sementara Wisnu sama sekali tidak mencium keningnya seperti biasa.


"Pasti Mas Wisnu kepikiran Mbak Adel, Ma," ucap Intan dengan nada tak suka, ketika Wisnu telah pergi dari sana.


"Tenang saja, Sayang. Nanti juga dia akan melupakan istrinya itu. Biarkan saja dulu." Ratna berusaha menenangkan hati menantunya tersebut.


"Sampai kapan, Ma? Ini sudah satu bulan sejak kepergian Mbak Adel!"


Ratna hanya bisa menarik napas melihat kekesalan Intan.


...**********...


Sehari-hari pria pengangguran sekaligus suami dari Mona tersebut memang menghabiskan waktunya dengan bersantai saja. Apa lagi mereka baru saja pindah ke salah satu apartemen mewah milik Wisnu.


Wisnu memang meminjamkan apartemen tersebut untuk mereka tinggali agar lebih dekat dengan Intan. Wisnu sama sekali tidak tahu bahwa Attan, om dari istri keduanya, hanyalah seorang pria pengangguran yang bergantung hidup dengan uang kiriman Intan.


"Indah, Indah! Cari kerja lagi sana! Kerjaanmu sehari-hari di rumah saja!" kata Mona yang baru keluar dari kamar mereka.


"Alaaah, nanti saja! Aku masih mau menikmati hidup begini!" ujar Attan santai. "Lagi pula untuk apa aku bekerja? Selama Intan bisa terus mempertahankan Wisnu dan menyembunyikan fakta tersebut dengan baik, kita bisa tetap hidup enak tanpa bekerja, kok!"

__ADS_1


Mendengar perkataan sang suami, Mona langsung memukul lengannya keras. "Husst, sudah aku bilang untuk tidak membahas hal sensitid itu! Bagaimana kalau ada yang dengar!"


Attan mengaduh kesakitan dan langsung terduduk dari posisinya. "Ck, sakit, yank!" keluhnya. "Lagian siapa juga yang akan dengar? Kan, cuma ada kita di sini! Aku hanya menyayangkan saja, karena Intan bisa kebobolan dengan pria lain, padahal jelas-jelas dia bisa memiliki anak dengan Wisnu. Untung saja pria kaya raya itu ternyata memiliki otak bod0h!"


"Siapa yang kebobolan, Om?" Tanpa keduanya sadari, Intan tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu apartemen. Matanya tajam memandang Attan yang kini tampak kikuk.


Melihat kemarahan Intan, Mona buru-buru menghampirinya.


"Sayang, kamu sudah sampai?" tanyanya.


"Siapa yang kebobolan? Om jangan sok tahu ya, ini anak Wisnu, darah dagingnya! Jadi, jangan sembarangan kalau bicara!" Tidak terima dengan perkataan Attan, wanita itu kembali bersuara.


Attan berdiri dari sofa dan meminta maaf. "Bu bu bukan begitu, Intan, tapi ...."


Intan membuang sekotak kue yang ada di tangannya dan mulai meneriaki Attan.


Mona berusaha menenangkan Intan dan mengusir Attan pergi dari hadapan mereka.


Atta mau tidak mau menurut. Dia pun enyah dari hadapan Intan dan Mona menuju kamar tidurnya. Sementara Mona mendudukkan Intan yang mulai bercucuran air mata di ruang tamu.


"Ini anak Wisnu, Tante!" ucapnya sengau.


"Iya, Tante tahu, Sayang. Maafkan om-mu ya? Kamu tahu sendiri bagaimana dia, kan?" kata Mona sambil mengelus lembut lengan Intan.


"Bilang padanya untuk tidak berkata macam-macam, Tan!"

__ADS_1


Mona menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Iya, Sayang, iya."


Intan terdiam. Dadanya tampak turun naik menahan emosi. Sekelebat bayangan seorang pria hadir di ingatannya.


__ADS_2