
Alex yang tidak mengerti akan arah pembicaraan Adelia, memutuskan untuk menyusul wanita itu menuju meja kerjanya. Alex pun turut duduk di kursi lain yang berada tepat di hadapan wanita itu.
"Pak, bukankah Bapak ada pertemuan penting setelah acara ini? Jangan tiba-tiba menghilang!" seru Adelia.
"Sekretarisku saja menghilang, jadi bagaimana aku akan bekerja," jawab Alex santai yang langsung membuat Adelia terdiam sejenak.
"Saya akan menyusul. Ada beberapa hal yang harus saya urus di sini," ujar wanita itu seraya membuka laci mejanya guna mencari sesuatu.
"Apa?" tanya Alex penasaran.
Adelia berhenti melakukan kegiatannya, lalu menoleh ke arah Alex sambil mendengkus kesal.
Mengetahui arti tatapan Adelia, Alex pun kembali membuka suara. "Jadi, apa kamu mau menjelaskan maksud dari perkataanmu tadi? Siapa sebenarnya orang yang takut kamu sakiti?"
"Kita sedang di kantor, Pak!" jawab Adelia seraya membuang muka. Suasana tampak hening sejenak. Tidak terlihat satu orang pun yang berada di lantai tersebut, sebab acara sudah selesai dan sebagian besar penghuni kantor telah pulang ke rumah.
__ADS_1
Adelia kemudian berdiri dari kursinya setelah mendapat beberapa berkas yang dimaksud. "Saya permisi dulu, Pak," pamit wanita itu cepat. Namun, Alex langsung menangkap tangan Adelia.
"Kamu tidak perlu khawatir oleh kehadiran Carla." Seolah tahu apa yang ada dipikiran Adelia, Alex lantas menyuarakan pendapatnya.
Adelia mengerutkan kening lalu tertawa hambar. "Jangan sok tahu, Pak. Saya sama sekali tidak memikirkan apa pun, lebih-lebih soal Nona Carla."
Helaan napas keluar dari mulut Alex. "Aku sudah mengenalmu lama, Del," ucapnya.
"Tidak selama itu, Pak!" tegas Adelia dengan raut tidak suka.
"Bapak tidak tahu apa-apa soal saya, jadi jangan berspekulasi macam-macam!" Adelia berusaha melepaskan tangan Alex yang semakin mengeratkan genggamannya.
"Siapa yang berspekulasi macam-macam?" tanya Alex dengan alis terangkat.
"Bapak!" seru Adelia.
__ADS_1
"Ck, kita sebenarnya lagi ngomongin apa, sih!" ujar Alex jengkel. Pria itu dengan kesal malah menarik tangan Adelia cepat, hingga tubuh wanita menempel erat ke dadanya
"Pa pak!" pekik Adelia panik. Wanita itu berusaha melepaskan diri, tetapi Alex menahannya.
"Jangan lari lagi, Del, selama ini aku telah berusaha keras menahan diri," ucap Alex. Raut wajahnya yang semula tenang dan biasa-biasa saja, kini tampak sangat serius. Entah mengapa, hal itu malah membuat Adelia merasa takut.
"Aku sangat mencintaimu, Del," ucap Alex sembari mendekatkan diri pada wajah wanita itu. Satu tahun lebih adalah waktu yang cukup lama baginya untuk menahan diri, sekaligus memberi kesempatan pada Adelia mengasingkan diri darinya. Dan kini, dia tidak akan mengalah lagi.
Adelia jelas terbelalak kaget. Tubuh dan tangannya yang semula meronta kini tampak kaku saat Alex dengan lembut mengecup mesra bibir tipisnya.
Adelia hendak menjerit, menolak apa yang sedang dilakukan pria itu. Namun, detak jantung Adelia malah berlaku sebaliknya. Belum lagi perasaan-perasaan meletup yang dia rasakan dalam dirinya.
Adelia menyukainya. Dia tidak bisa memungkiri perasaan nyaman yang muncul saat ini.
Saat mereka berdua tengah sibuk menyelam dalam pikiran masing-masing, seorang pria yang baru saja tiba di sana sontak menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Wisnu hanya bisa mematung, kala mendapati wanita yang pernah menemani hidupnya kini berada di pelukan pria lain. Pria yang terlihat sangat tulus dan mampu memberi kebahagiaan, lebih dari apa yang dia berikan dulu.