Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 40. Pertengkaran.


__ADS_3

"Terima kasih, Adel," ucap Alex sembari melirik Adelia penuh arti.


"Sama-sama, Pak," jawab Adelia sambil menganggukkan kepala. Saat wanita itu hendak pergi meninggalkan kedua pria itu, Alex memanggilnya kembali.


"Adel, siapkan beberapa berkas yang waktu itu saya minta," titah Alex.


"Baik, Pak." Adelia pun pergi meninggalkan tempat.


Suasana pun mendadak hening sejenak. Wisnu tampak termangu, meninggalkan beberapa map yang harusnya dia baca dengan saksama.


"Ada apa Pak Wisnu?" tanya Alex begitu mendapati wajah tegang Wisnu. Diam-diam pria itu tersenyum sinis.


Dia senang sekali melihat raut wajah Wisnu saat bertemu dengan Adelia yang kini telah berubah sepenuhnya. Apa lagi saat Adelia bersikap seolah tidak mengenali Wisnu.


"Pak, siapa wanita tadi, bagaimana Anda mengenalnya dan sejak kapan dia bekerja di sini?" tanya Wisnu yang telah tersadar dari rasa terkejutnya.


"Ahh, dia pengganti sekretaris saya yang sedang cuti. Memangnya kenapa?" tanya Alex lagi.


Wisnu terdiam. Dalam hati, dia menerka-nerka, benarkah Alex sama sekali tidak mengetahui apa pun soal Adelia, atau pria itu hanya berpura-pura?


"Saya seperti mengenalinya," gumam Wisnu dengan suara sangat kecil. Entah Alex bisa mendengarnya atau tidak.


Di lain sisi, Adelia terlihat mengembuskan napasnya dengan penuh kelegaan, sembari menyembunyikan diri di bilik toilet. Walau tadi tampak gagah dan penuh percaya diri, tetap saja di dalam hatinya muncul berbagai macam ketakutan.


Adelia bahkan berusaha tidak menatap wajah Wisnu lebih lama, agar hatinya tak goyah.


Setelah berkali-kali meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja, Adelia pun keluar dari toilet untuk menyiapkan berkas yang dimaksud Alex. Namun, ketika wanita itu keluar dari sana, sosok pria yang sempat membuatnya takut tersebut tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Adelia terkejut bukan main saat di depan matanya, Wisnu tengah berdiri dengan tatapan tajam. Pria itu segera menarik tangan Adelia kasar menuju lorong kantor yang sepi.


Adelia merintih kesakitan sambil terus berusaha melepaskan diri dari Wisnu. Akan tetapi, kekuatannya tidak lah sebanding dengan pria itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" sentak Wisnu keras.


"Apa maksud Anda. Saya tidak mengenali Anda!" jawab Adelia lantang. Wanita itu tahu benar, jika aktingnya tidak lah mempan pada Wisnu. Namun, dia tetap enggan mengakui jati dirinya pada pria brengseekkk itu.


"Del, jangan bercanda! Aku tahu, kamu Adelia, istriku! Apa yang kamu lakukan di sini dan bagaimana bisa kamu bekerja di tempat ini?" Wisnu berusaha mendesak Adelia agar mau bicara.


"Saya benar-benar tidak mengerti!" kilah Adelia.


Wisnu tampak marah. Dengan kasar dia menarik tangan Adelia untuk melihat cincin pernikahan mereka. Namun, cincin itu ternyata tidak ada, tetapi di jari Adelia meninggalkan bekas.


"Kamu kemanakan cincin kita?" tanya Wisnu.


"Del!" bentak Wisnu.


"Memangnya ada apa dengan cincin tersebut? Apa kamu ingin mengambilnya? Silakan saja, aku akan segera mengirimnya ke rumah."


Mendengar pengakuan Adelia, membuat raut wajah Wisnu berubah sesaat. Adelia tidak lagi memanggilny dengan sebutan 'mas'.


"Kamu benar-benar Adelia. Aku tidak ingin hanya cincin itu yang kembali, Del. Sekarang kita pulang, agar kamu bisa meluruskan segalanya."


Adelia mengerutkan kening. "Meluruskan segalanya? Apa maksudmu?"


"Ya. Semua yang kamu lakukan pada Intan waktu itu. Aku tidak ingin mendengar hanya dari satu pihak saja."

__ADS_1


Mendengar perkataan Wisnu, Adelia tertawa sinis. "Lalu, apa yang akan berubah? Apa kamu akan percaya pada apa yang aku katakan?"


"Del ...."


"Oh, apa kamu mau, aku meminta maaf pada Intan, seperti yang diinginkan ibumu?" Mata Adelia memicing sinis saat memotong perkataan Wisnu. "Maaf saja, aku tidak akan pernah melakukannya, sebab dia lah yang seharusnya bersujud di kakiku karena telah membuat cerita bohong!"


"Del, bukan begitu. Aku memercayaimu, tetapi ka—"


"Sudah, cukup Pak Wisnu. Kalau Anda memang memercayai istri Anda, lakukan lah sejak dulu disaat dia diinjak-injak oleh mertua dan istri muda Anda. Ingat lah, dia bahkan memercayai Anda, ketika Anda dengan kurang ajar berselingkuh di belakangnya!"


Setelah berkata demikian Adelia pun pergi meninggalkan Wisnu sendirian di lorong. Namun, baru beberapa langkah dia pun berhenti dan berbalik ke arah pria itu.


"Selamat menempuh kehidupan baru yang bahagia bersama anak dan istri Anda, Pak. Sampaikan salam saya untuknya, katakan padanya bahwa saya sangat mengapresiasi setiap pengorbanan yang dia lakukan demi mencari perhatian Anda dan keluarga Anda, dengan rela menyelakai diri dan bayinya sendiri!"


Dengan kepala tegak Adelia pergi melangkah meninggalkan Wisnu yang tertegun menatap kepergiannya.


Pria itu sama sekali tidak menyangka, bahwa dalam jangka waktu tak sampai tiga bulan, Adelia sudah berubah menjadi pribadi yang cukup tegar.


Tidak! Sejak dulu Adelia memang memiliki ketegaran dan ketabahan hati, hanya saja kini dia terlihat lebih berani dalam menunjukkannya.


Wisnu bersandar lemas pada dinding sembari mengepalkan tangannya. Sementara Adelia terus berjalan sambil sesekali menghapus air matanya yang telah menetes.


Saat tiba di depan ruangan Alex, sebuah tangan tiba-tiba menarik tangan Adelia.


"Hei, a—" Adelia tak mampu melanjutkan perkataannya, ketika tiba-tiba tangan itu menarik dan mendekap tubuhnya erat.


"Menangislah, Del, menangislah," ucap Alex lirih.

__ADS_1


Adelia terdiam mematung. Dia sangat ingin melepaskan diri dari kungkungan Alex. Namun, kali ini dia benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Alhasil, Adelia menumpahkan air matanya tersebut dalam dekapan Alex.


__ADS_2