
Adelia menganggukkan kepalanya, tatkala Alex memerintahkan wanita itu untuk mendampingi dan mengajari Steve di kantor. Namun, dia menolak dengan tegas saat sang adik dengan santainya malah meminta Adelia untuk menjadi sekretaris pribadinya.
"Aku hanya mengizinkan Adelia untuk mengajarimu di kantor sampai kamu bisa bekerja sendiri, tapi jangan sekali-kali mengambil milikku, Steve!"
Adelia tercekat mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Alex kepada Steve. Meski mungkin maksud perkataan Alex tidak seperti yang dia pikirkan, tetapi tetap saja membuat perasaannya menjadi sedikit kurang nyaman.
Sementara itu, Steve hanya menanggapi dengan senyum simpul. Alex benar-benar menunjukkan sikap waspada agar dirinya tidak mendekati Adelia.
"Oke, terserah Kakak saja!" sahut Steve sembari melenggang pergi menuju tempat kerjanya yang berada di sisi lain ruangan. Steve memang meminta ruangan di lantai yang sama dengan Alex, dan Alex terpaksa menurutinya agar pria itu mau bekerja di sana.
Ruangan tersebut tidak terlalu besar dan cukup diisi oleh delapan orang timnya.
"Selamat pagi," sapa Steve pada timnya. Manajer tanpa pengalaman itu bisa melihat dengan jelas sorot keraguan yang terlontar dari para anak buahnya. Maklum saja, siapa yang bisa memercayai seseorang yang bahkan tidak pernah menyentuh meja kerja? Apa lagi sampai dipimpin oleh orang tersebut.
"Pagi, Pak," jawab ketujuh karyawan dengan nada kurang semangat.
Adelia tersenyum, berusaha memahami kegelisahan mereka. "Saya harap, kalian sudi membantu membimbing Pak Steve dalam pekerjaannya. Jangan sungkan untuk melaporkan segala sesuatu kepada saya," ujar wanita itu ramah.
"Baik, Bu!" Begitu mendengar perkataan Adelia, para karyawan tampak lebih bersemangat menjawab wanita itu.
Steve hanya bisa menghela napas. Agaknya dia perlu beradaptasi sekaligus mengambil hati anak buahnya agar bisa mendapatkan kepercayaan dari mereka.
...**********...
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, ketika Adelia, Alex, dan Steve bergerak menuju apartemen kedua pria itu.
Adelia yang tengah menyetir mobil sesekali tampak mengintip kaca spion guna menatap pantulan wajah Steve yang terlihat jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Ya, kedua pria itu baru saja bertengkar kecil perihal tempat tinggal. Alex meminta Steve untuk tinggal bersamanya di apartemen keluarga mereka. Namun, Steve menolak karena ingin tinggal seorang diri.
Untuk yang satu itu, Alex tentu saja tidak mengabulkan sebab tahu betul bagaimana perangai adiknya. Oleh karenanya, dengan sedikit ancaman, pria itu pada akhirnya berhasil membuat Steve bungkam dan menurut.
Jadilah sepulang dari kantor, Adelia menemani kedua pria itu untuk membeli perlengkapan kamar dan pribadi Steve.
"Berusahalah hidup teratur, lama kelamaan akan terbiasa nantinya," ucap Alex tiba-tiba.
Steve yang duduk di sebelah sang kakak hanya bisa mendengkus kesal. Tak berapa lama, mereka pun tiba di depan lobi apartemen.
Alex langsung menyuruh Adelia pulang dengan membawa mobilnya agar tidak kemalaman.
"Sudah, pakai saja! Besok kamu bisa menjemput kami."
Adelia pun menganggukkan kepala. Ini adalah kali pertama Adelia membawa pulang mobil Alex, sebab biasanya bila mereka pulang dari kantor bersama, justru Alex lah yang mengantar Adelia sampai di rumah.
Wanita itu pun pamit kepada Alex dan Steve.
Alex dan Steve pun mengangkat beberapa barang ke dalam. Namun, Alex sempat memerhatikan mobilnya bergerak pergi hingga tidak terlihat lagi.
__ADS_1
"Matamu bisa-bisa menggelinding keluar, Kak!" celetuk Steve sembari tersenyum sinis.
Mendapat sindiran demikian, Alex mendelik kesal ke arah Steve. "Adik kurang ajar!" sungutnya sembari meletakkan kembali barang yang dia bawa ke lantai, lalu pergi meninggalkan sang adik begitu saja.
"Hei, Kak, kenapa ditaruh lagi? Siaallaan!" teriak Steve. Beruntung dua orang security datang untuk membantu pria itu.
"Ah, Tuan Steve!" pekik salah seorang security yang sudah berusia cukup tua. Tentu saja beliau mengenali keluarga mereka.
Steve dengan ramah menyambut sang security dan berkenalan dengan security lain yang merupakan pekerja baru di sana.
...**********...
"Kamu yakin nggak mau datang, Nak?" Suara Aini terdengar di ponsel Adelia. Keduanya tengah melakukan video call begitu Adelia selesai mandi dan berganti pakaian.
"Tidak, Bu, aku sudah meminta Ibu Linda untuk mengurus segalanya," jawab Adelia sembari sibuk menyisir rambutnya yang setengah basah.
Besok adalah jadwal persidangannya di pengadilan agama dan Adelia tidak berniat datang ke sana. Dia menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada pengacaranya di Jakarta.
"Baiklah kalau begitu, nanti Ibu akan hubungi lagi ya, Nak? Kamu jaga kesehatan di sana dan jangan lupa makan," ucap Aini lembut.
Adelia tersenyum dan menatap sang ibu penuh kehangatan. "Ibu juga ya? Salam untuk Bapak, Mbak Dinda, dan semuanya."
Aini menganggukkan kepalanya dan mengakhiri video call dengan mengucapkan salam. Adelia menjawab salam tersebut dan langsung memegang ponselnya.
__ADS_1
Sebuah pesan singkat kemudian datang ke dalam ponselnya.
...Mbak Adel, semua sudah selesai, dan besok saya akan kabari setelah selesai sidang....