Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
64. Akhir Kisah.


__ADS_3

"Del!" Alex yang baru saja keluar dari ruangan, sedikit heran dengan keadaan sang pujaan hati yang hanya mematung di meja kerjanya.


Pria itu pun berjalan mendekati Adelia dan memanggilnya kembali sembaru menyentuh punggung tangan Adelia yang terasa dingin.


Adelia tersentak. Wanita itu ternyata tanpa sadar larut dalam ingatan setahun silam, di mana Wisnu datang ke tempat ini untuk meminta maaf.


Ya, hidup Wisnu sekeluarga berubah seketika. Tidak hanya fakta soal anak dalam kandungan Intan saja yang harus dihadapi pria itu, tetapi juga kondisi kesuburannya. Belum lagi bagaimana keluarga Wisnu harus rela kehilangan rumah mewah yang telah huniannya selama ini akibat perbuatan Ratna.


Rupanya wanita itu diam-diam memberikan sertifikat rumah kepada salah seorang teman sosialita yang baru dikenalnya sebagai investasi bisnis. Namun, bisnis itu bahkan tidak pernah ada.


Ratna nyaris gila. Dia dirawat di rumah sakit dan beberapa kali dipindahkan ke perawatan kejiwaan, sementara Intan dan Mona sejak diusir dari rumah tidak pernah lagi muncul seolah ditelan bumi, dan untuk Attan, Hariadi berhasil menjebloskannya ke penjara.


Akan tetapi ada satu hal yang membuat kebahagiaan Adelia akan pembalasan keluarga Kencana sedikit terusik. Apa lagi kalau bukan Hariadi, sang mantan ayah mertua. Beliau seperti terjebak dalam kubangan neraka dengan hidup bersama orang-orang bermasalah.


Hariadi harus bangkit seorang diri demi mengurus perusahaannya, sebab, Wisnu tidak lagi bekerja.


Kendati demikian hubungan mereka masih terjalin dengan baik. Adelia masih sering menghubungi Hariadi guna menanyakan kabarnya dan sama sekali tidak membahas soal Ratna, Wisnu, mau pun yang lainnya.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Alex dengan raut khawatir.

__ADS_1


Adelia menggelengkan kepala. "Tidak ada. Maaf, bukannya bekerja, aku malah melamun."


Alex tidak menanggapi perkataan Adelia dan memilih mengambil buket bunga tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Alex lagi.


"Tentu saja." Senyum tipis terpatri di wajah cantik Adelia.


Alex membalasnya sama, lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Adelia.


"Ayo, Steve sudah menelepon. Dia menunggu di bandara." Katanya.


Adelia mengambil tangan Alex untuk bangkit lalu melepaskannya lagi. Dia tidak ingin orang-orang kantor melihat hal ganjil seperti itu dan Alex mengerti.


Pria itu memang butuh waktu untuk menenangkan diri setelah insiden yang terjadi pada Intan. Meski dia tidak lagi mencintai wanita itu dan enggan menganggap anak kandungnya, tetapi tetap saja ada sebagian kecil dari hati Steve yang terluka, entah apa.


"Duduklah di depan, biar aku saja yang menyetir mobil," titah Alex.


"Tidak! Aku sekretarismu, jadi sudah sepatutnya aku yang menyetir dan kamu duduk di belakang," kata Adelia menolak.

__ADS_1


Alex tidak mengindahkan. Tanpa memerdulikan tatapan dua orang satpam, dengan sopan dia membukakan pintu mobil untuk Adelia.


"Pak, malu!" seru Adelia jengkel.


"Sudah kubilang, aku tidak suka panggilan itu!" sahut Alex.


"Ingat, kita tidak pernah memiliki hubungan apa-apa loh, Pak, jadi tidak ada yang salah dengan panggilan yang saya sematkan untuk Anda," jawab Adelia yang mulai mengubah cara bicaranya lagi.


"Kamu menyakiti hatiku, Adelia."


Bukannya merasa bersalah, Adelia malah tersenyum geli dan meminta Alex untuk tidak banyak bertingkah. Keduanya pun pergi meninggalkan kantor untuk menjemput adik dari pria itu.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


.......


...TAMAT...


__ADS_2