
Setelah kejadian terakhir, Intan benar-benar memperlakukan Adelia tak lagi ramah. Meski tidak sejahat Ratna, Intan selalu berusaha menyakitinya dengan memperlakukan wanita itu bagai asisten rumah tangga. Intan bahkan tak segan memarahi Adelia jika berbuat salah, seperti saat ini.
"Mbak, yang benar saja! Bajuku sobek begini, Mbak! Jangan karena aku meminta untuk tidak dicuci menggunakan mesin, Mbak jadi marah gini sama aku, dong! Ini baju kesayanganku!" seru Intan seraya mengacungkan selembar pakaian mahal miliknya yang telah rusak setelah dicuci oleh Adelia.
Adelia sendiri tidak menampik kerusakan yang terjadi pada pakaian Intan setelah dicuci. Namun, dia menolak dituduh menjadi penyebab kerusakan, sebab Adelia sempat meninggalkan ruang laundry untuk mengangkat telepon dari ibunya.
Saat itu lah Adelia mengira bahwa ada seseorang yang masuk dan mengacaukan segalanya. Namun, Adelia tak berani mengungkapkan hal tersebut karena takut akam menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Terlebih, Adelia juga tidak memiliki bukti valid sebab beberapa CCTV dicabut atas permintaan Intan. Entah apa yang ada dipikiran Wisnu hingga mau menuruti Intan untuk mencabut sebagian CCTV di rumah itu.
"Aku sempat meninggalkan tempat ini, Intan," ujar Adelia.
"Lalu, apa hubungannya dengan pakaianku?" tanya Intan. "Oh, Mbak mau menuduh orang lain memasuki tempat ini ya? Mbak mau melimpahkan kesalahan pada orang lain, hah!" sambungnya.
Adelia lantas menggelengkan kepala. Dia salah bicara. "Bukan begitu Intan, Mbak hanya ...."
"Pokoknya aku tidak mau tahu Mbak, bagaimana pun caranya Mbak harus bertanggung jawab!" Setelah berkata demikian, Intan pun berjalan meninggalkan Adelia seraya melempar pakaian tersebut ke wajahnya.
Adelia menarik napas panjang. Beruntung Ratna sedang tidak ada di rumah, kalau tidak, dia sudah pasti akan menjadi bulan-bulanan Ratna saat itu juga.
Adelia pun memandangi pakaian tersebut dengan raut pilu. Semoga saja usahanya untuk memperbaiki pakaian Intan bisa diterima.
__ADS_1
Sementara itu Intan tertawa puas setelah berhasil mengerjai Adelia.
Ya, orang yang telah merobek pakaian tersebut adalah dirinya sendiri. Berkat bantuan salah seorang asisten rumah tangga yang menjadi sekutunya, dia berhasil masuk ke dalam ruang laundry tanpa sepengetahuan Adelia.
"Dasar wanita bodoh! Dia bahkan tak bisa membedakan mana pakaian mahal dan tidak!" Tawa kembali terdengar dari mulut wanita muda itu.
"Nikmatilah neraka duniamu, Mbak Adel!" gumam Intan sinis seraya mengusap perut buncitnya.
"Dan kamu harus lah berguna bagiku kelak, karena aku telah sudi memeliharamu di tubuh ini!" kata Intan sembari menatap perutnya penuh kebencian.
...***********...
Wisnu mengangguk pelan. Tak seperti Adelia yang tak pernah absen menyambut kepulangannya dulu, Intan justru tidak ingin direpotkan dengan hal-hal seperti itu. Intan juga tak pernah menyiapkan air hangat untuknya mandi.
Yang rajin sang istri lakukan sepulangnya bekerja adalah meminta barang-barang mewah.
"Mas, tadi aku lihat di e-commerce ada stroller lucu banget deh. Harganya nggak mahal kok, puluhan aja. Nanti kita beli ya Mas? Oh iya, aku juga mau beli parfum D*** keluaran terbaru ya Mas," ujar Intan dengan suara lemah lembut.
Demi terkabulkan keinginannya, yang bisa Intan lakukan hanyalah membantu Wisnu membuka sepatu, dasi, dan jas kerja saja.
"Mas, kok diam saja sih?" tanya Intan sembari mengguncang tubuh Wisnu.
__ADS_1
"Iya, nanti kita beli, tapi sebelum itu ada yang mau aku tanyakan dulu," ucap Wisnu dengan raut wajah serius.
"Apa?" tanya Intan.
"Aku selama ini memang membebaskanmu untuk membeli apa pun, dan tidak pernah sekali pun bertanya. Namun, akhir-akhir ini aku mendapat laporan kartu kredit bahwa kamu sudah hampir menggunakan seluruh limit yang ada hanya dalam waktu singkat. Sebenarnya apa yang kamu beli dengan uang itu dan ke mana barang-barangnya?"
Mendapat pertanyaan dadakan seperti itu, Intan meneguk ludahnya gugup. Alih-alih menjawab, Intan justru menatap nanar Wisnu.
"Mas menuduh aku boros ya? Padahal selama kita bersama, kamu tahu sendiri seperti apa aku. Jujur saja, aku menggunakan uang itu untuk membantu keuangan tante Mona, satu-satunya yang aku miliki." Intan terlihat menghapus setitik air mata yang hendak mengalir membasahi pipinya.
"Mas tahu benar, aku dibesarkan dengan keringat dan air mata oleh tante Mona dan om Attan. Jadi salahkah bila aku sekarang membalas budi? Apa lagi om Attan kini sedang mengalami kesulitan finansial karena baru saja ditipu. Jadi aku membelikan mereka beberapa barang agar nanti bisa dijual kembali saat butuh."
Mendengar jawaban Intan, Wisnu tersentak. "Maaf, bukan maksudku begitu, Sayang. Kenapa kamu tidak bilang langsung saja padaku, dan mengapa harus membeli barang mewah?"
Intan menunduk takut. "Agar tante Mona bisa memakainya terlebih dulu Mas! Aku lah yang meminta tante Mona untuk menunjukkan pada semua orang yang pernah merendahkan mereka, bahwa kami kini hidup bahagia..Apa kah itu salah? Apa kah membahagiakan keluarga istrimu sangat merugikan Mas? Kalau memang iya, aku akan menelepon tante Mona dan meminta beliau untuk mengembalikan barang-barang tersebut!" Intan bangkit dari posisi duduknya hendak mengambil ponsel. Namun, Wisnu segera menahannya.
Dia memeluk Intan sambil meminta maaf karena telah menanyakan hal tersebut.
"Lakukan apa yang membuat keluargamu bahagia, Sayang," ucap Wisnu.
Intan mengangguk sambil menangis. Wisnu sama sekali tidak tahu kalau wajah Intan kini sedang tersenyum lebar.
__ADS_1