Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 58: Terkuak.


__ADS_3

Sebuah mobil limousine hitam berhenti tepat di depan lobi hotel. Adelia sontak memandangi suasana di luar melalui kaca mobil, sembari berusaha menenangkan hatinya dari kegelisahan.


Setelah memastikan dirinya baik-baik saja, dia pun keluar dari mobil mengikuti Alex dan Steve. Namun, wanita itu kembali berdiam diri di sana.


Mengetahui gelagat yang cukup aneh dari Adelia, Alex dengan hati-hati bertanya, "kamu oke?"


Adelia mengalihkan pandangannya pada Alex dan menjawab dengan jujur, "oke, Pak. Hanya sedikit tidak tenang saja."


Alex menganggukkan kepala. Tanpa penjelasan lebih, dia tentu memahami apa yang dirasakan Adelia saat ini. Apa lagi kalau bukan karena Wisnu? Sebab ini adalah acara besar perusahaan keluarga sang mantan suami, jadi sudah tentu para tamu undangan yang hadir adalah orang-orang yang sangat dikenali wanita itu.


"Kalau kamu tidak berkenan, kamu bisa menunggu di hotel saja. Masih ada Steve di sini yang akan menemani." Alex dengan ramah menawarkan hal tersebut pada Adelia. Namun, wanita itu menolak.


"Tidak, Pak, saya baik-baik saja," jawabnya sembari melirik ke arah Steve yang hanya menatap dingin Adelia sebelum membuang muka.


Mendapati perlakuan demikian dari adik bosnya, Adelia hanya bisa menghela napas pasrah. Ya, sebab Steve memang terlihat berubah sejak pertemuan mereka di rumah wanita itu beberapa waktu lalu.


Steve sebenarnya tidak benar-benar memusuhi Adelia, dia hanya malas dan memilih menjaga jarak darinya, sebab Adelia sekali lagi pernah meminta Steve untuk melupakan Intan dan fokus bekerja. Namun, Steve dengan tegas mengatakan, bahwa sia harus memberi pelajaran mereka terlebih dahulu, minimal sekali seumur hidup.


"Aku tak sudi melihat ketenangan di wajah mereka!" ucap Steve setelah Adelia mencoba bicara.


Setelah benar-benar yakin, Adelia diikuti Alex pun melangkah pergi, menyusul Steve yang lebih dulu melangkah.


"Jangan khawatirkan apa pun, ada aku," bisik Alex di sela-sela perjalanan mereka.


Adelia hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Saat tiba di dalam ballroom, degup jantung Adelia kembali bertalu keras, sebab dia bisa dengan jelas mengenali beberapa orang di sana, termasuk sanak keluarga Wisnu. Mereka sama sekali belum menyadari kehadirannya karena sibuk memerhatikan Hariadi yang sedang melakukan pidato di atas panggung.


"Del," panggil Alex yang ternyata telah berjalan cukup jauh di depannya.


Adel dengan senyum tipis mempersilakan Alex untuk melanjutkan langkahnya menuju kursi yang disediakan, sementara dia mengikuti dari belakang.


Saat itulah perlahan-lahan mata para tamu undangan mulai beralih pada sosok anggun Adelia, yang berjalan perlahan di tengah-tengah mereka menggunakan gaun mewah berwarna merah hitam. Gaun yang bahkan tidak pernah bisa dipakai wanita itu, meski dulu dia adalah istri dari seorang pengusaha kaya raya.


Bisik-bisik pun mulai terdengar, hingga Ratna yang sedang duduk tenang di kursinya tiba-tiba terperanjat, ketika salah seorang istri pejabat perusahaan menyolek lengannya.


"Itu bukannya Adelia, mantan menantumu, Jeung?"


Mendengar hal tersebut, Ratna bergegas membalikkan tubuhnya dan terkejut. Wanita itu terlihat marah saat mengetahui kedatangan Adelia, dan langsung berdiri dari tempatnya guna menghadang sang mantan menantu.


"Hei, mau apa kau datang ke acara ini, dasar wanita tidak tahu malu!" umpat Ratna tanpa memerdulikan reputasinya sebagai istri dari pemilik perusahaan. Agaknya dia sama sekali tidak tahu bahwa Adelia merupakan sekretaris dari salah satu kolega Wisnu.

__ADS_1


Mendapat perlakuan demikian dari sang mantan mertua, Adelia hanya menganggukkan kepala sambil membalas tatapan Ratna dengan ekspresi tenang. " Saya datang untuk memenuhi undangan, Nyonya Ratna," jawabnya.


Ratna mengerutkan kening. "Undangan? Memangnya siapa kau? Siapa yang mengundangmu, hah!" teriaknya nyalang.


Melihat keributan yang ditimbulkan Ratna, Hariadi bergegas turun dari panggung, begitu pula dengan Alex yang berbalik menghampiri Adelia, lalu Wisnu.


"Nyonya, tolong sopan santunnya, ini adalah sekretaris saya!" tegas Alex begitu tiba di sebelah Adelia.


Mendengar perkataan Alex, Ratna sontak tertawa sinis. "Wanita kampungan ini seorang sekretaris? Hahaha, yang benar saja!" Ratna pun berdeham dan mengalihkan pandangannya pada khalayak ramai lalu berkata, "para tamu undangan yang saya hormati, maafkan saya atas kejadian tidak terduga ini. Mungkin di antara kalian ada yang bertanya-tanya, mengapa saya begitu berapi-api melihat kedatangan wanita ini?"


Suara gemuruh pun semakin terdengar ramai, sebelum akhirnya Ratna meneruskan perkataannya. "Ya, sebab wanita ini adalah mantan menantu saya, seorang wanita jahat yang telah menyakiti putra saya dan istrinya yang sekarang!" seru Ratna lantang. "Bahkan, dia pernah nyaris membunuh calon cucu saya hanya karena iri dengan kehamilannya!"


Mendengar perkataan yang dilontarkan Ratna, suasana pun semakin riuh.


"Ratna!" pekik Hariadi yang meminta Ratna untuk tidak menghancurkan acara mereka. Namun Ratna tampak masa bodoh. Dia bahkan dengan gamblang menjawab pertanyaan salah satu koleganya yang penasaran dengan pernikahan sang putra.


"Jadi, putramu berpoligami, begitu maksudnya, Jeung?"


"Ya, Wisnu, putraku, memang berpoligami. Namun, hal tersebut tidak menyalahi aturan, kan? Apa lagi, selama sepuluh tahun istri pertamanya tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga kami. Sebagai anak tunggal, keluarga kami harus memiliki penerus perusahaan, dan hal ini tentu saja sangat penting!" kata Ratna tanpa memerdulikan tatapan marah Hariadi.


"Dia pun setuju dan ikhlas menerima pernikahan tersebut, tetapi apa nyatanya? Dengan tega dia malah menyelakai madu dan calon anak di kandungannya, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf, seperti layaknya seorang pengecut!" sambung Ratna sembari menunjuk-nunjuk wajah Adelia.


"Hentikan omong kosong Anda, Nyonya! Jika memang Anda wanita bermartabat, seharusnya Anda malu!" sentak Alex yang tidak bisa menahan emosi.


"Hei, jaga bicara Anda ya? Memangnya kamu tahu, dia seperti apa? Kamu itu tidak tahu apa-apa, Tuan! Saya lah yang tahu benar keluarga sekretarismu itu!" pekik Ratna.


"Memangnya, Anda tahu seperti apa istri dari putra Anda yang sekarang, Nyonya?"


Semua mata tiba-tiba beralih pada sesosok pria yang baru saja membalikkan kata-kata Ratna. Siapa lagi kalau bukan Steve?


Intan yang ikut memerhatikan mereka dari tempat duduknya tiba-tiba mengernyitkan kening, kala mendapati sosok familiar tersebut.


"Siapa kamu? Berani sekali ikut campur urusan ini!" kata Ratna.


Steve tersenyum tipis. Namun, alih-alih menjawab, dia malah mengalihkan pandangannya pada Intan yang detik itu juga menyadari sosok tersebut.


Dalam sekejap wajah Intan berubah pucat dengan sorot mata gelisah. Begitu pula dengan Mona dan Attan yang terkejut mendapati sosok Steve di sana dengan setelan jas mewah.


"Saya adalah penerus kedua perusahaan Crystal Company!"

__ADS_1


Bagai di sambar petir, Intan terkejut mendengar jawaban Steve. Pria yang selama ini dinilainya tak lebih dari seorang gembel jalanan ternyata merupakan bagian dari keluarga konglomerat seperti Wisnu.


"Lalu, apa urusanmu, hah? Kau hanya orang luar di sini!" tanya Ratna sengit.


"Tentu aku memiliki urusan yang belum selesai dengan Intan. Benar begitu, Intan?"


Bagai tersiram air dingin, Intan membeku di tempat. Dia tak mampu mengucap sepatah kata pun demi menjawab perkataan Steve. Namun, Mona dan Attan berusaha melindungi Intan dengan memasang badan mereka.


"Oh, jadi kamu si gembel itu! Berpura-pura gembel dan memeras uang keponakanku, lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Kau pikir dengan mengaku sebagai keluarga konglomerat, situasi akan berubah!"


Mendengar perkataan Mona, Steve tertawa keras. "Hai, Aunty, tolong, berkacalah sebelum bicara. Siapa di sini yang sedang melakukan penipuan?" Seuluas senyum tipis terpatri di wajah pria itu.


Mona sontak terbungkam, apa lagi saat Wisnu yang tidak mengerti apa-apa mulai membuka suaranya. "Apa maksud Anda, Pak?"


Steve terdiam penuh arti, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Adelia.


Adelia dengan mata basah memberi isyarat pada Steve untuk tidak mengatakan apa pun. Namun, pria itu sepertinya benar-benar bertekad untuk menghancurkan Intan, sebab, sedetik kemudian, pria itu terlihat menoleh satu tempat, sebelum akhirnya sebuah layar muncul di panggung.


"Ada apa ini, Steve?" ujar Alex pada sang adik.


"Nikmati saja pertunjukan ini," jawab Steve.


Semua mata mulai tertuju pada layar yang kini menampilkan rekaman CCTV Mona dan Attan yang tampak keluar dari penjara.


Mereka berdua adalah sepasang sejoli yang sering melakukan penipuan. Umumnya penipuan yang mereka lakukan adalah investasi bodong.


Itulah narasi yang terdengar di dalam video, sebelum beberapa saat kemudian beralih pada Intan yang terlihat masih belia.


Siapa sangka, wanita yang terlihat plos dan masih duduk di bangku sekolah tersebut merupakan pekerja sseekkss komersil.


Steve pun mulai membuka suara dengan menceritakan pertemuan mereka, yaitu saat Intan sedang menjalin hubungan dengan seorang pria beristri, Wisnu.


"Semua tipu daya yang mereka lakukan tak lebih untuk menimbun pundi-pundi uang!" ungkap Steve.


Pria itu kemudian berjalan maju mendekati Ratna sambil berkata, "Tidak terkecuali pada keluarga Anda, Nyonya," ucapnya sengit.


"Apa maksudmu, Bedebah?" Alih-alih sang ibu, Wisnu lah mengajukan pertanyaan demikian dengan raut wajah marah.


Steve tersenyum tipis. "Bayi yang ada dalam kandungan istrimu adalah bayiku, Bapak Wisnu yang terhormat!"

__ADS_1


Adelia yang syok setelah mendengar ucapan Steve, refleks menutup mulutnya dan mundur dua langkah. Dia nyaris saja tumbang jika Alex tidak bergegas merangkul tubuh wanita itu.


Suasana benar-benar tidak terkendali. Kehebohan terjadi di mulut para tamu undangan, sedangkan Ratna dan Mona berteriak histeris hendak menggapai Steve yang berdiri santai di sana. Sementara Intan dengan wajah seputih kapas terkulai lemas di kursi.


__ADS_2