Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 31. Pencarian Adelia.


__ADS_3

"Ibu Adelia sudah sampai dengan selamat, Tuan." Suara seorang pria terdengar dari balik telepon. Hariadi diam-diam menghubungi seseorang di dalam perpustakaan yang sedang sepi.


"Oke. Layani apa pun keperluan Ibu Adelia. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi terlebih dahulu sebelum kalian pergi!" pinta Hariadi tegas.


"Baik, Tuan!"


Hariadi menutup sambungan teleponnya kemudian bersandar pada sofa yang kini dia duduki. Dalam hati, Hariadi bersyukur Adelia telah tiba di sana dengan selamat. Kini giliran menghadapi kemarahan Wisnu yang mungkin saja akan meledak, saat mendapati Adelia tidak berada di rumah.


Baru saja Hariadi memikirkan hal tersebut, Aminah tiba-tiba datang ke perpustakaan dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Tuan, Pak Wisnu sudah kembali. Beliau mengamuk, mendapati Ibu Adel tidak berada di rumah!" seru wanita itu.


Hariadi menghela napasnya. "Turun lah duluan," titah pria itu yang langsung dituruti oleh Aminah.


Sementara itu di lantai dua, Wisnu tampak gusar menanyakan keberadaan Adelia kepada seluruh pekerja di rumah. Namun, tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan sang istri pertama, termasuk Aminah.


Aminah pikir, pencarian Wisnu terhadap Adelia didasari perasaan bersalah atau takut akan kehilangan wanita itu. Namun, nyatanya tidak.


Ratna lah yang mengompori Wisnu untuk segera menghakimi Adelia sesampainya di rumah. Akan tetapi, begitu melihat Adelia tidak ada di sana, bukannya menenangkan sang putra, Ratna malah semakin memanasi hati pria itu dengan kata-kata yang tidak pantas dikeluarkan oleh mulut seorang mertua terhadap menantunya.


"Wanita itu pasti melarikan diri! Dia pasti sengaja berbuat onar di sini terlebih dahulu, sebelum kabur dari rumah ini, Wisnu!" ucap Ratna terus menerus. "Kurang ajar sekali dia, sudah membuat Intan dan calon anakmu celaka bukannya meminta maaf tapi malah kabur seperti orang pengecut!"


"Siapa yang kurang ajar Ma?" Hariadi yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai dua, berjalan menghampiri mereka dengan langkah santai.


Melihat kedatangan sang suami, Ratna langsung mengoceh. "Pa, ke mana Adelia? Papa kan, di rumah, jadi seharusnya tahu dong ke mana dia!"


"Papa sibuk di perpustakaan!" jawab Hariadi singkat. "Memang dari mana kalian tahu Adelia kabur? Dia membawa semua barang-barangnya?" tanya pria itu kemudian.


"Ck, barang-barangnya semua ditinggal, bahkan ponsel pun tergeletak di kamarnya! Dia pasti sengaja meninggalkan rumah tanpa membawa apa-apa agar kita tidak bisa menghubunginya!"


"Jangan mengambil kesimpulan sembarangan! Bisa saja Adelia hanya pergi sebentar. Lagi pula untuk apa kamu cari istrimu, jika kamu hanya ingin memaki demi membela istri mudamu, Wisnu!" Mata tajam Hariadi beralih pada sang putra kesayangan.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang ayah, Wisnu cukup tersinggung. Sebenarnya pria itu tidak ingin memarahi mau pun memaki Adelia, justru dia ingin menanyakan kembali kronologi yang ada. Namun, ocehan sang ibu membuat kepala Wisnu hampir pecah. Wanita itu benar-benar tidak bisa diberi peringatan hanya melalui kata-kata saja.


Baru saja Wisnu hendak membuka suaranya, Ratna kembali berkoar. "Wajar bila Wisnu memaki Adelia, karena dia hampir menyelakai Intan dan cucu kita! Kenapa Papa malah membelanya, sih!"


"Kamu terlalu banyak mulut dan ikut campur urusan rumah tangga putra kita, Ratna!" sentak Hariadi yang langsung membuat Ratna berang. Keduanya bertengkar selama beberapa saat, sebelum Wisnu meminta mereka untuk berhenti.


"Dari pada bertengkar lebih baik bantu aku mencari Adelia, dan Mama, tolong, diam sejenak! Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengompor-ngompori!"


Ratna terdiam dengan wajah memerah malu. Disaksikan hampir seluruh pekerja di rumah, wanita itu dibungkam oleh kedua orang tercintanya.


"Aku akan ke rumah orang tua Adelia!" seru Wisnu sembari berlalu meninggalkan mereka.


...**********...


Dinda baru saja menutup sambungan telepon dari Adelia. Wanita itu langsung menghubungi keluarganya begitu tiba di kota tujuan menggunakan ponsel baru.


"Syukurlah adikmu baik-baik saja, Nak," ucap Aini yang juga ikut dalam perbincangan di telepon.


Aini menganggukkan kepala, lalu menatap sang suami dengan pandangan nanar. "Apa ini benar-benar keputusan yang terbaik ya, Pak?"


Arwan mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Pasti, Bu. Ini jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Bapak tidak sudi Adelia terus-terusan disakiti oleh mereka."


Suasana hening sejenak.


"Ya sudah, Bapak mau ke toko dulu. Dinda, tolong jaga ibu ya?" pinta Arwan.


"Iya, Pak!"


Saat Arwan baru saja melangkahkan kakinya di teras, tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah muncul dan berhenti tepat di depan rumah mereka.


Wisnu seorang diri keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju rumah mertuanya.

__ADS_1


Arwan memberi kode pada istri dan anaknya untuk tidak keluar dari dalam rumah.


"Assalamualaikum, Pak," ucap Wisnu sembari mengulurkan tangan hendak mencium tangan sang ayah mertua.


"Walaikumussalam!" Arwan bergegas menarik tangannya sebelum Wisnu benar-benar mendaratkan bibirnya di sana.


"Ada apa Wisnu? Tumben sekali kamu datang berkunjung ke sini? Biasanya hanya Adelia saja yang datang."


Wisnu terdiam, tampak canggung dan takut untuk menjawab pertanyaan Arwan.


"Kamu ke sini sendirian? Mana Adelia?" tanya Arwan lagi.


Mendengar pertanyaan sang mertua, raut kebingungan sontak tertera di wajah Wisnu. "Anu, Pak ... ada sesuatu yang ingin saya bicarakan soal Adelia," ucapnya sesopan mungkin sembari tertunduk.


Arwan mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan putriku?"


Wisnu mengangkat kepalanya dan menelisik ke dalam rumah. Di ruang tamu yang menyatu dengan ruang televisi, Wisnu bisa melihat mertua dan kakak iparnya sedang berbincang.


Wisnu terdiam, tapi matanya seolah menyiratkan sesuatu.


"Ahh, saya buru-buru mau ke toko, jadi tidak apa-apa kan, kalau kita bicara begini saja?" Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Wisnu, Arwan pun membuka suaranya.


Wisnu tersentak kaget lalu menganggukkan kepala. Dia tahu benar sang ayah mertua enggan menyambut kedatangannya yang memang tidak pernah sudi bertandang ke sana sebelum-sebelumnya.


Tak betah berlama-lama di sana, Wisnu pun mengutarakan pertanyaannya. "Pak, apa Adelia pulang ke sini? Kami sedang sedikit bertengkar dan Adelia tidak ada di rumah."


Arwan terdiam. Suasana canggung dan sedikit mencekam sangat dirasakan Wisnu.


"Kamu adalah suami Adelia yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas dirinya. Jadi, mengapa kamu menanyakan keberadaan Adelia di sini?"


Wisnu bungkam seketika.

__ADS_1


__ADS_2