
Suasana sore di rumah itu benar-benar kacau balau. Mereka mengusir Intan saat itu juga dari rumah, bersamaan dengan beberapa helai pakaiannya yang sudah terinjak-injak tanpa dimasukkan ke koper. Tak ada pembelaan dari Ratna, sang ibu mertua yang selalu menganggap dirinya adalah menantu kesayangan. Wanita itu bahkan tidak sudi menatap wajahnya saat dia mengiba.
Intan menangis histeris. Wajahnya yang semula terlihat cantik dengan riasan mahal kini tampak acak-acakan. Pakaian wanita itu bahkan tidak tertutup dengan benar karena Wisnu sempat menyeretnya hingga membuat beberapa bagian terkoyak. Hancur sudah semua rencana yang telah dia persiapkan dengan matang. Intan tidak lagi bisa menyandang predikat nyonya besar keluarga Kencana.
"Kalian baajjiiingan! Kalian binatang!" Hanya itu kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Intan. Hingga beberapa saat kemudian, Mona dan Attan tiba di sana. Kondisi mereka terlihat sama persis dengan sang keponakan, sebab ternyata, Wisnu telah menghubungi orang suruhannya untuk mengusir kedua orang tersebut dari apartemen tanpa membawa apa-apa.
Melihat kondisi Intan yang berantakan, Mona bergegas lari menghampiri. "Ya Tuhan, Sayang, kamu baik-baik saja? Ada apa sebenarnya?"
"Wisnu, Tan, Wisnu!" jawab Intan sambil menangis.
Wajah Mona berubah marah. Dengan langkah tegas dia berjalan menuju pintu rumah Wisnu untuk masuk demi menanyakan alasan ini semua, tetapi beberapa pekerja rumah tangga langsung melarangnya.
__ADS_1
"Apa-apaan kalian! Saya mau masuk, saya mau mendengar alasan Wisnu kenapa seperti ini?" Mona terus berusaha merangsek masuk.
Melihat usaha sang istri tidak membuahkan hasil, Attan langsung membantunya. Dia bahkan hampir memukul seorang pelayan wanita, jika saja Hariadi tidak muncul dan menghentikannya.
"Tidak tahu malu sekali kalian, masih berani muncul di sini!" seru Hariadi dingin.
"Untuk apa kami takut. Anda dan keluarga Anda lah sudah berlaku kurang ajar, Pak! Apa alasan kalian mengusir kami, bahkan mengusir Intan yang sedang hamil besar?" Attan menatap tajam Hariadi.
"Karena Steve?" Kali ini Mona ikut masuk ke dalam pembicaraan. "Kalian percaya dengan apa yang telah dikatakan pria brrenggssek itu? Cih, yang benar saja! Saya tidak terima mendapat perlakuan kurang ajar ini! Akan saya tuntut kalian semua!" ancam Attan.
Hariadi sontak tertawa sinis. Pria itu kemudian meminta sesuatu kepada salah seorang suruhannya, yaitu beberapa lembar kertas yang tidak diketahui isinya. Kertas-kertas itu kemudian dilemparkan ke wajah Attan hingga berhamburan.
__ADS_1
Attan marah. Namun, pria itu kemudian tidak sengaja membaca beberapa kalimat pada kertas tersebut. Sedetik kemudian wajahnya berubah pucat pasi.
"Omong-omong itu adalah laporan penggelapan dana yang dilakukan oleh Anda pada salah satu perusahaan milik kerabat saya lima tahun lalu. Siapa sangka, tindakan saya untuk mencari tahu tentang Anda, membawa saya pada satu fakta terpendam."
Suasana berubah sunyi senyap, sebelum akhirnya Hariadi melangkah mendekati Attan dan kembali bersuara. "Soal kehamilan Intan, kami juga memiliki bukti soal kebenarannya. Jadi, silakan tuntut saya dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya!"
Jantung Attan berdetak keras. Wajahnya kini jauh lebih pucat dari sebelumnya, seolah darah tersedot habis dari tubuhnya. Sementara itu, Mona berusaha menyadarkan suaminya. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa Attan pernah melakukan kejahatan lain di belakangnya lima tahun silam.
Bersamaan dengan itu, suara sirine mobil polisi terdengar memekakkan telinga. Mereka semua langsung membawa pergi Mona dan Attan, tidak terkecuali dengan Intan.
Intan semakin menangis histeris saat sorot matanya tiba-tiba menangkap sosok Wisnu yang hanya berdiri tegap di balik jendela rumah.
__ADS_1