Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 61. Azoospermia.


__ADS_3

Seorang pria dengan tubuh lesu terduduk mematung, kala dokter yang baru saja menangani dirinya, memberi kabar soal hasil tes kesuburan yang dia jalani seminggu lalu.


Wisnu dengan kesadaran diri, tanpa memberitahu siapa pun, berinisiatif datang ke rumah sakit. Hal yang sejak dulu enggan dia lakukan, meski Adelia sempat meminta. Wisnu bahkan merasa tersinggung dan langsung memarahi wanita itu, bila dia membahas hal-hal tersebut. Sebab, Wisnu yakin, dia seribu persen sehat.


Akan tetapi, kenyataan pahit menghantamnya telak. Dokter dengan penuh kehati-hatian memberitahu dirinya, bahwa dia mengidap Azoospermia.


Azoospermia merupakan kondisi dimana tidak terdapat sel spe*ma sama sekali alias kosong di dalam air m*ni. Kondisi ini diperkirakan hanya dialami sekitar satu persen pria di dunia.


Ada dua jenis azoospermia, yaitu obstruktif dan non-obstruktif. Dokter masih mencari tahu penyebab yang dimiliki Wisnu.


"Kita akan lakukan beberapa tes untuk mengetahui penyebabnya, termasuk tes genetik guna mendeteksi tanda-tanda kelainan, seperti syndrom klinefelter," ucap sang dokter kemudian.


Wisnu terdiam dengan mata berkaca-kaca, mengingat kembali penjelasan awal sang dokter soal kelainan genetik yang menjadi salah satu penyebab kondisinya. Sebab, jika hal itu yang terjadi, maka kondisi Wisnu tidak dapat disembuhkan.


Tangan Wisnu yang berada di pangkuannya sontak mengepal. Kekecewaan, rasa sakit, hancur, bercampur aduk menjadi satu. Belum lagi perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul ke permukaan dan menghantam batinnya telak.


Perasaan bersalah yang timbul karena memikirkan Adelia, wanita yang selama ini dia hinakan karena tak mampu memberinya keturunan. Siapa sangka, bahwa di antara mereka, dirinya lah yang ternyata tidak bisa memberikan keturunan.


Perasaan bersalah tersebut bahkan mampu mengalahkan kesakitannya atas kenyataan, bahwa anak yang dikandung Intan bisa dipastikan bukan anaknya.


...**********...


Intan baru saja selesai berganti pakaian, ketika Wisnu dengan wajah marah masuk ke dalam kamar mereka, lalu menarik wanita itu keluar. Wisnu bahkan tidak peduli, saat Intan terjerembab di lantai depan kamar mereka.

__ADS_1


"Aw!" pekik Intan. "Mas, apa-apaan kamu! Apa yang kamu lakukan?" sambung wanita itu.


"Pergi dari rumahku!" seru Wisnu yang langsung masuk ke dalam kamar dan kembali keluar sembari membawa beberapa helai pakaian lama Intan, lalu melemparnya ke wajah wanita itu.


Intan yang terkejut, sontak berteriak histeris sambil menangis. Suaranya yang keras membuat seluruh penghuni rumah datang menghampiri mereka, termasuk Hariadi dan Ratna.


Melihat keadaan menantunya, Ratna bergegas menghampiri wanita itu. "Wisnu! Apa-apaan sih, kamu! Kenapa kamu melakukan ini pada Intan? Ingat, Intan sedang hamil!" serunya marah.


"Aku tidak peduli! Sekarang, usir dia dari rumah ini, aku tidak mau melihatnya!" jawab Wisnu dingin sembari menatap Intan bengis.


"Semua yang kau miliki adalah milikku, jadi jangan berani-berani membawa barang-barang selain pakaian lamamu!"


Hariadi berusaha menenangkan putra tunggalnya. Dia menghampiri Wisnu dan menanyakan tindakannya yang tiba-tiba seperti ini.


Wisnu yang semula terlihat berapi-api, kini tampak sedikit tenang. "Anak yang dia kandung memang bukan anakku, Pa!" jawab pria itu tiba-tiba dengan suara bergetar.


"Kamu masih memikirkan kata-kata pria gila itu, Wisnu? Keterlaluan sekali kamu, seharusnya kamu lebih memercayai Intan dari pada pria itu. Jelas-jelas dia hanya ingin balas dendam karena peenah dicampakkan!" Ratna langsung berkoar-koar tanpa memerdulikan raut wajah Wisnu yang kembali berubah.


Bukannya diam, Ratna bahkan kembali mengungkit-ungkit dan membawa-bawa nama Adelia. "Mama yakin sekali, Adelia dan pria itu telah bekerja sama demi menjatuhkan kamu. Kamu harusnya sadar itu!"


"Tolong, Ma, jangan bawa-bawa orang yang tidak bersalah."


Mendengar perkataan Wisnu, Ratna refleks tertawa. "Tidak bersalah katamu? Hahaha, Wisnu, wanita pembawa siaall itu lah yang menyebabkan hidupmu menderita. Sudah tidak becus mengurus suami, miskin, manduull pula! Jadi apa yan—"

__ADS_1


"Aku lah yang manduull, Ma!"


Suasana mendadak hening seketika, saat Wisnu dengan gamblangnya meneriakkan sepenggal kalimat memalukan tersebut.


Butuh waktu bagi ketiganya bereaksi, terutama Ratna yang kini malah tertawa getir. "Ka kamu ya yang benar kalau bicara, Sayang! Banyak orang di sini, jangan bikin malu! Selama ini jita tahu kalau Adelia lah yang bermasalah."


"Tapi dia sudah pulih. Selama ini, aku ... kita hanya fokus melihat kondisi dan kekurangan Adelia. Aku, bahkan Mama sama sekalitidak menerima, saat Adelia memintaku untuk ikut diperiksa, karena dia belum juga hamil, padahal dokter jelas-jelas sudah menyatakan kesembuhan padanya." Sorot mata Wisnu berubah sendu.


"Aku diam-diam sudah memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ... kondisiku bahkan jauh lebih parah dari Adelia!" sambung pria itu.


Ratna yang syok bergegas bangkit dan menghampiri Wisnu. "Hasil pemeriksaanmu pasti ada kesalahan, Nak. Kamu tidak mungkin maanduul, keluarga kita tidak ada yang seperti itu! Siapa? Katakan siapa dokternya, biar Mama tuntut dia!" seru Ratna sembari mencengkeram kedua lengan Wisnu.


Alih-alih menjawab perkataan sang ibu, Wisnu malah meminta Intan untuk segera angkat kaki dari rumah mereka.


Intan tak bisa berkutik. Wajahnya sudah sepucat kapas dengan bibir terkunci. Hanya air mata yang senantiasa mengalir membasahi pipi wanita itu, berharap Wisnu dapat iba padanya.


"Wisnu!" Ratna yang merasa diabaikan mulai mengguncang tubuh sang putra. "Ayo, kita cari dokter lain! Kalau perlu kita pergi ke luar negeri. Dokter-dokter di sana jauh lebih kompeten!"


"Pa, ayo, Pa! Jangan diam saja!" pekik Ratna pada sang suami. Namun, Hariadi mengabaikannya.


Hariadi malah menyuruh salah seorang pekerja di rumah mereka untuk memanggil beberapa orang penjaga guna mengusir Intan.


Intan panik. Dia bangkit dari posisinya dan bersimpuh di kaki Wisnu. Sambil memeluk kaki sang suami, Intan memohon agar pria itu mau memaafkannya.

__ADS_1


"Sayang, sayang, kumohon beri aku kesempatan! Aku ... aku akan mengguguurrkan anak ini kalau memang kamu tidak menghendaki, tapi kumohon, jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku ya, Mas, aku mohon!"


Mendengar perkataan biaddaab Intan, Wisnu kembali berang. Dia dengan keras menampar wanita itu, dan kali ini Ratna sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadapnya. Ratna hanya bisa menangis meraung-raung sembari terduduk di lantai.


__ADS_2