
"Nyonya Intan dan bayinya tidak apa-apa. Namun, beliau harus dirawat selama beberapa hari di sini agar bisa kita pantau."
Mendengar penjelasan Dokter Kusuma, baik Wisnu dan Ratna mengembuskan napas lega.
"Benar cucu saya tidak apa-apa, dok?" tanya Ratna sekali lagi.
Dokter Kusuma tersenyum. "Iya, tidak apa-apa, Nyonya. Syukurlah beliau segera dibawa ke sini secepatnya, jadi hal-hal yang kita takutkan tidak perlu terjadi."
"Terima kasih, Dok, terima kasih!" ucap Wisnu, sebelum kemudian samg dokter undur diri.
Wisnu lantas duduk di hadapan Intan yang tampak tertidur. Pria itu dengan lembut mengelus perut buncit sang istri dan mencium tangannya.
"Kalian membuat aku takut," ucapnya lirih.
"Ini semua karena ulah si Adelia!" celetuk Ratna sinis. "Maunya apa sih, wanita itu? Kalau dia iri karena Intan hamil anakmu, seharusnya dia bisa lebih berusaha dong!" sambungnya keras.
Wisnu terdiam, enggan menanggapi celotehan ibunya. Yang ada dipikiran pria itu kini hanya keselamatan bayinya dan Intan sendiri. Namun, Ratna terus saja mengoceh dengan mengungkit-ungkit soal kesalahan-kesalahan kecil yang pernah Adelia lakukan.
"Sudah, besok Mama akan mengurus perceraian kalian! Kalau begini terus, bukan tidak mungkin cucu Mama akan kembali dirundung bahaya!"
Mendengar kalimat terakhir Ratna, Wisnu sontak mengalihkan pandangannya pada sang ibu. "Ma, ini rumah tanggaku, jadi biarkan aku yang memutuskan apa pun!" sentaknya.
Ratna terkesiap. "Loh, Mama ini hanya ingin membantumu, Wisnu! Kamu harusnya bisa hidup tenang dengan Intan dan anak kalian, ngapain harus memelihara wanita itu di rumah."
"Ma!" Wisnu tiba-tiba meninggikan suaranya. "Bisa tidak jangan menyebut Adelia seperti itu. Biar bagaimana pun juga dia adalah istriku yang sah. Selama ini aku selalu berusaha menuruti setiap perkataan Mama, termasuk mengabaikan kewajibanku sebagai suami Adelia. Di matanya saat ini, aku sudah terlihat sangat buruk, jadi, tolong, jangan membuat ini semakin buruk! Bukan kah seharusnya Mama sebagai orang tua membantu menengahi kami, bukannya malah mengompori?"
__ADS_1
Ratna membelalakkan matanya saat mendengar semua keluh kesah yang telah Wisnu tahan selama ini.
"Wisnu, kamu nyalahin Mama?" tanyanya dengan raut wajah marah. Ratna tentu saja tersinggung dengan ucapan sang putra yang dinilai kelewatan.
"Terserah Mama mau menganggap apa, yang jelas aku sudah lelah, dan tolong jangan berisik, Intan butuh istirahat."
Ratna mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Seluruh kebencian yang memang dia tanam hanya untuk Adelia semakin membesar.
"Aku akan membuat perhitungan padamu, wanita jaalaaanngg tak tahu diri!" gumamnya.
...**********...
"Baiklah, terima kasih." Hariadi menutup sambungan teleponnya dengan seseorang, lalu berbalik menatap Adelia yang terduduk di ranjang dengan tatapan kosong.
Adelia menganggukkan kepala. "Aku tidak lagi diharapkan di sini, Pa. Kalau Mas Wisnu menginginkan perceraian, silakan, aku tidak akan menghalangi-halangi," jawab Adelia dengan suara serak.
Hariadi duduk di sebelah Adelia. "Maafkan Papa, Nak. Kalau memang kamu tidak mau pergi tidak apa-apa."
Adelia menggelengkan kepalanya. "Aku ingin memulai hidup baru tanpa embel-embel Mas Wisnu." Adelia kemudian menatap wajah sang ayah dengan tatapan nanar. "Pa, maafkan aku karena tak mampu menjadi menantu yang baik. Aku tidak rela melepaskan Papa untuk menjadi mertua bagi orang lain, tapi aku juga tidak mungkin terus-terusan diperlakukan seperti ini. Terima kasih untuk segalanya ya, Pa?"
Lelehan air mata kembali membasahi pipi Adelia.
Hariadi tersenyum lembut, meski matanya tampak basah. "Ada atau tidaknya ikatan kamu dengan Wisnu, tidak mengubah apa pun Del. Bagi Papa, kamu adalah anak kandung Papa yang tidak pernah Papa miliki."
Tangis Adelia kembali pecah. Keduanya saling berpelukan guna mengungkapkan perasaan sayang masing-masing.
__ADS_1
"Bu, Aminah boleh ikut?" Aminah yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar tiba-tiba bersuara. Mata wanita itu juga tampak basah.
Adelia melepaskan pelukan ayahnya dan berjalan menghampiri Aminah. "Jangan Aminah, hidupmu lebih terjamin di sini. Doakan saya saja ya?"
"Tapi, Bu?" Aminah kembali menangis.
Adelia memeluk erat Aminah dan menenangkannya. "Terima kasih untuk kebaikanmu selama ini ya? Saya pasti tidak akan melupakanmu, Aminah," ucap Adelia lirih.
Aminah sontak membalas pelukan majikannya tersebut.
Wanita itu kemudian pamit pada Hariadi dan Aminah, yang sengaja tidak ikut mengantar kepergiannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Pergilah ke rumah singgah dan temukan pagar belakang yang terkunci. Buka dengan kunci ini dan jalan lah terus mengikuti jalan setapak. Nanti kamu akan menemukan sebuah danau umum. Di sanalah kamu akan menemukan sebuah mobil hitam yang akan membawamu pergi."
Itu lah sepenggal kalimat dari sang ayah mertua yang terus diingat Adelia. Wanita itu terus berjalan tanpa lelah setelah berhasil membuka pagar di belakang rumah singgah yang sudah ditumbuhi semak belukar.
Siapa sangka, rumah besar tersebut ternyata memiliki sebuah jalan rahasia menuju danau dan fasilitas umum. Hariadi memang sengaja menutup jalan tersebut karena dulu sering dimasuki oleh orang asing.
Tidak ada satu pun barang yang dibawa Adelia, selain hanya selembar pakaian yang melekat di tubuhnya. Ponsel, dompet, dan semua yang dia miliki ditinggalkan atas perintah Hariadi.
Tepat ketika kaki Adelia melangkah keluar menuju danau, sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari sana.
Seorang pria berpakaian serba hitam menyambut kedatangan Adelia dan memintanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Adelia menurut. Tanpa menoleh ke belakang, dia pergi meninggalkan rumah yang pernah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari sepuluh tahun itu.
__ADS_1