Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 32. Keributan antara Wisnu dan keluarga sang mertua.


__ADS_3

"Kemarin kami bertengkar hebat, Pak, dan Adelia memutuskan pergi dari rumah," ujar Wisnu. "Saya kira Adelia berada di sini karena dia pergi tanpa membawa apa-apa."


Arwan senantiasa memandangi Wisnu tajam. "Memang di mana kau saat Adelia pergi, dan apa yang membuat kalian bertengkar?"


Wisnu tampak kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan sang ayah mertua. Haruskah dia menjawab pertanyaan tersebut dengan fakta atau sebaliknya? Terlebih, cara bicara Arwan yang mulai berubah membuat pria itu sempat ragu.


"Adelia tanpa sengaja menyelakai Intan, Pak. Sekarang Intan masuk rumah sakit akibat pendarahan."


Wisnu memilih mengatakan hal yang sejujurnya pada sang ayah mertua dengan harapan mendapatkan pengertian dari beliau. Namun, bukannya mendapat respon baik, Arwan malah semakin terlihat marah.


"Bagaimana bisa Adelia sampai melarikan diri? Kau tahu sendiri, dia tidak pernah sepengecut itu. Apa lagi seperti yang kau bilang, dia tidak sengaja melakukannya!"


Wisnu tampak gusar. Pria itu tak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan tajam Arwan.


"Pak, boleh saya masuk ke rumah? Saya ingin memastikan keberadaan Adelia," ujar Wisnu yang langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan Arwan.


Arwan berusaha mencegah dengan memegangi tangan wanita itu. Namun, tenaga Wisnu yang lebih besar membuat pegangan Arwan terlepas.


Melihat Wisnu masuk tanpa permisi, Dinda yang sedang menemani ibunya segera menghardik sang adik ipar. Dia mendorong tubuh Wisnu agar segera keluar dari sana.


"Adel! Keluar Adel! Kau pasti ada di dalam, kan? Jangan bersembunyi!" teriak Wisnu sembari terus berusaha menerobos masuk.


"Hei, pria gillla, pergi dari sini! Kau sudah memperlakukan Adel layaknya seekor binatang, sekarang kau mencari-carinya! Pergi kau!" hardik Dinda.


"Mbak, lepaskan aku! Aku tahu Adelia ada di sini! Kalian semua sebenarnya tahu kan, soal kepergian Adelia!" pekik Wisnu.

__ADS_1


"Dasar pria gillla! Tolong, tolong!" Tahu bahwa Wisnu tidak akan pergi dari rumah begitu saja, Dinda memilih berteriak guna memanggil para tetangga.


Tanpa menunggu waktu lama, beberapa orang tetangga mulai berhamburan keluar rumah menuju rumah keluarga Arwan.


Mereka sempat terkejut mendapati Dinda dan Wisnu saling dorong mendorong.


"Ada apa ini?" tanya Reno, salah seorang tetangga.


"Bang Reno, tolong bantu saya usir pria gilllaa pelaku kekerasan dalam rumah tangga ini!"


Mendengar perkataan Dinda, Reno beserta tetangga yang lain sontak dipenuhi kebimbangan. Mereka tahu itu bukan urusan mereka. Namun, Dinda terus mendesak mereka untuk membantu. Apa lagi, Arwan tampak duduk kepayahan di kursi teras.


Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, para tetangga akhirnya menarik Wisnu paksa dan menyuruhnya pulang.


"Aku hanya ingin mencari istriku dan mengajaknya pulang!" pekik Wisnu ketika berada di luar rumah.


Di dalam rumah, Aini menangis sesenggukkan sembari ditenangkan beberapa ibu-ibu yang juga datang. Untuk saat ini dia mengesampingkan rasa malu kepada para tetangga. Biarlah mereka tahu, toh, selama ini lingkungan tempat tinggalnya termasuk dalam lingkungan yang sehat. Jadi, tidak ada yang namanya gosip di antara para tetangga.


Merasa kalah, Wisnu akhirnya memutuskan untuk pergi, sambil berjanji akan kembali ke rumah itu lagi.


Dinda yang tidak terima segera melempar sebuah batu besar hingga membuat kaca depan mobil Wisnu pecah.


...**********...


"Ma, ke mana Mas Wisnu?" tanya Intan dengan kondisi yang masih terlihat lemah.

__ADS_1


Ratna yang baru sampai di rumah sakit bergegas menghampiri Intan dengan raut wajah khawatir. "Syukurlah kamu sudah sadar, Nak!" serunya.


Intan mengangguk pelan.


"Apa ada yang sakit, Sayang?" tanya Ratna kemudian.


Intan memegang perutnya. "Perutku sedikit sakit, Ma. Aku takut!" Air mata segera mengalir membasahi pipi Intan.


Ratna yang panik segera menawarkan diri untuk memanggil dokter. Namun, Intan menolaknya.


Ratna pun menurut dan segera memeluk Intan demi menenangkan dirinya. Padahal tanpa diketahui Ratna, Intan sebenernya sudah bangun sejak tadi. Perawat pun sudah memeriksakan kondisinya dan dia dalam keadaan baik-baik saja.


"Cepatlah sehat Sayang, kamu sudah tidak perlu lagi khawatir, karena wanita itu telah pergi dari rumah bak seorang pengecut yang tidak bertanggung jawab."


Mendengar perkataan sang ibu mertua, Intan terkejut sekaligus senang. Dalam dekapan Ratna, wanita itu tersenyum sangat lebar.


"Mbak Adelia pergi, Ma? Kenapa bisa?" tanya Intan yang langsung memasang wajah sendu.


"Dia kabur dari rumah tanpa membawa barang-barangnya!" kata Ratna.


"Ya Tuhan, Ma, kasihan sekali Mbak Adel. Tolong cari Mbak Adel, Ma, aku yakin sekali Mbak Adel tidak sengaja melakukannya!" pinta Intan yang tentu saja hanya sandiwara belaka.


Mendengar permintaan Intan, Ratna justru terenyuh dengan kebaikan hati menantunya tersebut. "Padahal dia sudah hampir menyelakai kalian, Nak, tapi kamu masih berbaik sangka padanya. Kenapa bukan kamu saja yang lebih dulu bertemu dengan Wisnu," ucap Ratna dengan raut wajah penuh haru.


"Ma, Mama jangan bilang begitu. Mbak Adel juga wanita yang baik, hanya saja sesuatu mungkin membuatnya sedikit berubah, tapi aku yakin, beliau masih sangatlah baik."

__ADS_1


Ratna kembali memeluk tubuh Intan, sementara Intan diam-diam tersenyum sinis. Dalam hati dia bersumpah tidak akan membiarkan Adelia menginjakkan kakinya di rumah besar itu lagi.


__ADS_2