
Mobil tersebut rupanya membawa Adelia ke sebuah pelabuhan.
"Silakan, Nyonya," pinta sang supir yang baru saja membukakan pintu mobil. Dari wajahnya, supir tersebut mungkin hanya memiliki selisih usia beberapa tahun dengan Adelia.
"Ini di mana? Saya mau dibawa ke mana?" tanya Adelia dengan tatapan khawatir. Meski pria muda itu merupakan suruhan Hariadi, Adelia tetap saja merasa cemas dan takut.
"Akan ada helikopter yang sedang menunggu Anda."
Mendengar jawaban si supir, Adelia sontak mengerutkan keningnya. "Helikopter? Bukan kah ini pelabuhan?"
Si pemuda tersebut tidak menjawab. Dia hanya meminta Adelia untuk keluar dan mengikutinya.
Adelia mau tidak mau menurutinya. Mereka berjalan menyusuri plabuhan dengan langkah cepat, hingga tiba di sebuah tempat yang cukup sepi.
"Tunggu lah di sini Nyonya, mereka akan segera menepi," ucap pria tersebut sembari menunjuk ke laut. Tepatnya ke sebuah kapal pesiar mewah yang tengah bergerak ke arah mereka.
Adelia tercengang, sebab di atas salah satu bagian kapal besar tersebut, terdapat sebuah helikopter yang terpakir di atasnya.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang diinginkan sang ayah mertua? Jika beliau memang ingin membantunya pergi, mengapa tidak melalui jalan biasa saja.
Adelia hendak mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi dia sudah bisa menebak kalau pria muda yang menjadi supirnya tersebut tidak akan sudi menjawab.
Alhasil, Adelia memilih menunggu kapal tersebut bersandar saja.
...**********...
Seorang wanita berpakaian modis dengan dandanan cukup mencolok, turun dari taksi yang ditumpanginya. Wanita itu kemudian berjalan masuk ke dalam mall seorang diri.
"Ck, gara-gara si Wisnu pelit, Intan jadi menunda kiriman uangnya untukku!" Mona dengan langkah centil tampak bergumam sendirian. Wanita yang gemar sekali menghambur-hamburkan uang tersebut, selalu saja mengungkit-ungkit masalah Wisnu yang memergoki Intan menggunakan banyak uang. "Untung saja aku memiliki kartu kredit sendiri. Jadi aku berniat akan memakainya dan meminta Intan untuk membayar tagihan kartuku nanti." Sambung wanita itu.
Akan tetapi, jiwa hedonisme wanita itu rupanya tetap menggebu-gebu. Alhasil, dia yang kini sedang mengadakan temu janji dengan teman-teman sosialitanya, memilih menggunakan kartu kreditnya sendiri dan akan meminta Intan untuk membayar tagihannya nanti.
"Aunty Mona!" Saat Mona hendak masuk ke dalam salah satu restoran yang ada di dalam mall tersebut, suara seseorang pria tiba-tiba terdengar memanggilnya.
Mona refleks menolehkan kepala ke sumber suara dan mendapati sosok pria yang sangat dikenalnya.
__ADS_1
"Steve!" pekik Mona dengan wajah horor selama beberapa detik.
"Kenapa, Aunt? Sudah lama kita tidak bertemu, loh!" seru Steve ramah sembari memeluk tubuh Mona.
"Omong-omong, Aunty sedang apa, dan ... em, bagaimana kabar Intan?" tanya Steve kemudian. Wajahnya tampak ramah dan menyenangkan
"Steve, pergilah. Tidak perlu lagi kamu mencampuri hidup Intan!" desis Mona dingin.
"Loh, jelas aku masih memiliki urusan dengannya, Aunt! Intan memiliki sesuatu milikku, dan aku memutuskan untuk mengambilnya!" Wajah ramah Steve kini berubah seketika.
Mona terbelalak. "Cih, jangan bercanda kamu! Sejak berakhirnya hubungan kalian, kamu sudah tidak berhak atas apa pun yang dimiliki Intan!" Mona lalu memasang senyum sinis. "Lagi pula, bukankah aku sudah pernah menyuruhmu untuk berkaca? Hidupmu dulu selalu bergantung pada Intan. Dia memberikan segalanya untuk pria bule miskin seperti dirimu!"
Steve bungkam dengan wajah yang mulai memerah.
"Kini Intan sudah bahagia dengan suaminya. yang bahkan tidak akan mampu kamu saingi seujung kuku pun!" kata Mona lugas.
Suasana di antara mereka sempat hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya Steve mulai tertawa terbahak-bahak. Sembari menyeringai dia pun mendekatkan diri kepada Mona. "Kapan-kapan, aku ingin berbincang dengan pria kaya itu!"
__ADS_1
Mona terdiam. Meski dia tengah berusaha untuk tidak terlihat panik, tetapi keringat sebesar biji jagung mulai membanjiri wajahnya.