
Enam bulan lalu.
"Sialan, apa-apaan kau! Siapa kau, berani-beraninya menyeretku pergi, hah!" teriak Clara penuh emosi, saat Wisnu berhasil menariknya masuk ke dalam lift.
Clara mencoba menekan tombol lift agar berhenti, supaya dia bisa kembali pada Adelia dan Alex. Namun, lift terus saja berjalan turun.
"Banngssatt! Apa yang kau lakukan? Aku harus memberi pelajaran pada wanita jjallaang itu!"
Mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Clara tentang Adelia, Wisnu yang sedang berdiri bersandar dengan cepat menegakkan tubuhnya. Pria itu dengan dingin menarik tangan Clara dan berusaha memberinya peringatan.
"Jangan pernah kau menghina wanita itu, atau ...."
Clara mencibir. "Atau apa? Kau mengancamku? Hahaha!" Tawa wanita itu menggema, saat mengetahui Wisnu seolah tidak mampu melanjutkan perkataannya.
Wisnu menghela napas kasar lalu menghempaskan tangan Clara begitu saja setelah meremasnya keras.
"Wanita itu tidak pernah benar-benar hidup bahagia. Bertahun-tahun dia mengalami kesakitan tak berujung, jadi aku tidak akan pernah membiarkan dia mengalaminya lagi."
Clara sontak mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Mengapa kau berkata seolah-olah kau mengenalnya?" tanya wanita itu penasaran.
Wisnu terdiam sejenak. " ... karena Aku memang mengenalnya.
Clara mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Baru saja dia hendak membuka suaranya, Wisnu tiba-tiba menatap wanita itu dingin sambil berkata, "akan ku buat hidupmu berantakan, jika kau berani mengganggunya lagi! Kau punya kuasa, aku pun demikian. Kita lihat, kaki siapa yang masih mampu berdiri tegak kalau mencoba memaksa!"
Satu sisi hati Clara bergetar mendengar peringatan Wisnu yang tampak tidak main-main. Belum lagi melihat bagaimana raut wajahnya yang terlihat menyeramkan.
Clara yang tidak pernah mengalami hal demikian tentu saja sakit hati. Dia pantang diinjak, apa lagi oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Namun, entah mengapa, Clara tak mampu berkutik lagi.
__ADS_1
Lift berbunyi. Begitu pintu lift terbuka, Wisnu dengan santai berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Clara.
Clara mengepalkan tangannya.
...**********...
Suara tamparan keras terdengar menggema di dalam rumah mewah tersebut. Clara yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam sana hanya bisa tercengang, saat tiba-tiba Robert, sang ayah, menamparnya. Hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh pria itu.
"Pa, apa yang Papa lakukan?" tanya Clara dengan suara bergetar. Hubungan mereka memang kurang harmonis karena sifat Clara yang sulit diatur. Itulah sebabnya, dia sama sekali tidak keberatan saat sang putri memutuskan untuk pergi ke luar negeri demi mengejar tujuannya.
"Papa pikir, kau akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah tinggal sendirian di negeri orang, tetapi nyatanya hal itu sama sekali tidak berpengaruh."
"Apa maksud Papa? Kenapa Papa menamparku?" Clara mulai menitikkan air mata.
"Kau tahu, mengapa Papa tidak lagi berhubungan dengan Alex?"
"Sebab Papa telah menyebabkan kerugian, tetapi Alex sama sekali tidak menuntut Papa! Dia bahkan dengan bijak membiarkan Papa memperbaiki kesalahan, tapi dengan satu syarat bahwa Papa tidak boleh lagi mengganggunya."
Clara terbelalak lebar. "Memangnya apa yang Papa lakukan?"
"Mau Papa jelaskan pun, tidak akan pernah membuatmu mengerti, karena sejak dulu kau sama sekali tidak mau tahu urusan soal perusahaan kita! Kau hanya sibuk memikirkan dirimu yang egois itu, bahkan kini malah mengganggu wanita lain."
Mendengar perkataan ayahnya, Clara tersentak kaget. "Maksud Papa ap—"
"Alex memberitahukan semuanya! Disaat Papa berharap, dia mau menghubungi Papa lagi untuk bersilaturahmi, nyatanya dia malah menghubungi Papa hanya untuk melaporkan kelakuanmu yang kurang ajar!"
Clara dilanda kepanikan. Dia berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Namun, Robert dengan tegas kembali berkata, "beberapa tahun lalu kau pergi atas kemauanmu, Clara, tetapi sekarang Papa yang akan mengirimmu ke luar ... dan jangan pernah coba-coba untuk kembali, sebelum Papa meminta!"
__ADS_1
"Pa!" Clara menangis histeris. Dia bersimpuh guna meraih kaki sang ayah, tetapi beliau dengan cepat melangkahkan kaki meninggalkan putrinya itu.
Teriakan Clara yang putus asa terdengar memenuhi seluruh ruangan.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...(BENAR, BENAR, BENAR) TAMAT✌️...
__ADS_1