
"Hei!" Teriakan seorang wanita tiba-tiba menghentikan kegiatan Adelia dan Alex. Adelia dengan sigap mendorong tubuh pria itu hingga nyaris terjerembab.
Wisnu yang sedang berdiri di sana terkejut, tatkala seorang wanita berpenampilan glamour berjalan melewati dirinya dengan tatapan marah. Suara stiletto yang dipakai wanita itu bahkan menggema memenuhi seluruh ruangan.
Adelia terbelalak, sebab tak hanya mendapati Clara di sana, melainkan Wisnu juga.
"Brenggseekk! Bukankah sudah kubilang untuk menjauhi Alex! Kau sendiri yang mengaku, kalau kau tidak ada hubungan khusus dengannya!" Clara yang emosi langsung menghampiri Adelia dan menamparnya keras.
Mendapati perlakuan demikian, Adelia terdiam tidak berkutik. Wanita itu syok dengan apa yang baru saja dilakukan Clara padanya. Tak hanya itu, Alex dan Wisnu pun tak kala terkejutnya. Alex yang tak sempat menyelamatkan Adelia bahkan berteriak marah dan meminta wanita itu untuk tidak berbuat macam-macam pada Adelia.
"Memangnya apa yang kau lakukan padaku, hah? Apa!" pekik wanita itu sembari memandangi Alex dengan gestur menantang.
Alex naik pitam. Pria itu baru saja akan menampar Clara, kalau saja tidak keduluan Wisnu.
Adelia dan Alex tercengang. Wisnu dengan napas terengah-engah seolah menahan emosi mengancam Clara untuk tidak melukai Adelia.
"Bajjiinggann! Siapa kau berani-berani menamparku, hah!" Clara hendak menyerang Wisnu, tetapi Wisnu dengan cepat menarik secara kasar tangan wanita itu. Keduanya pun berlalu diiringi teriakan-teriakan dan sumpah serapah Clara.
"Kamu tidak apa-ap ... Del!" seru Alex begitu mendapati air mata yang mengalir membasahi pipi Adelia. Dengan lembut Alex mengusap air mata tersebut dari pipi Adelia yang lebam.
Adelia menepis tangan Alex sambil memalingkan wajahnya. "Sudah kukatakan, aku tak ingin membuat seseorang marah!" serunya. "Seharusnya kamu mengerti!" Tatapan tajam sontak dilayangkan Adelia kepada pria itu.
"Kamu tidak menyakiti siapa pun! Aku dan Clara tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kisah kami telah selesai sejak lama!" tegas Alex.
"Tapi dia tidak menganggapnya demikian!" sahut Adelia.
"Itu urusannya, bukan urusanku! Urusanku adalah meyakinkanmu, mencintaimu, dan menjadikanmu teman hidupku, Adelia Cempaka Maharani!" ujar Alex cepat yang malah membuat Adelia bungkam seribu bahasa.
__ADS_1
...**********...
Steven sekali lagi menatap secarik kertas berisi alamat panti asuhan yang dia dapatkan dari salah seorang suruhannya. Itu adalah alamat yang diyakini sebagai tempat tinggal Intan dan anaknya.
Steven menghela napas. Matanya dengan saksama menjelajahi tiap sisi bangunan tua bertingkat dua tersebut, sebelum kemudian melangkahkan kaki memasukinya.
Di sana, Steven disambut oleh salah seorang pengurus panti bersama Nia, wanita muda yang telah bekerja secara sukarela di sana selama kurang lebih dua tahun.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak," ujar Nia ramah.
Steven mengeluarkan secarik foto Intan yang tengah hamil dan memberikannya pada Nia. "Saya mencari wanita ini. Saya dengar, dia tinggal di sini bersama anaknya. Di foto ini dia sedang hami besar, tetapi sekarang, mungkin, anaknya sudah berusia s—"
"Satu tahun." Nia dengan raut sedih melanjutkan perkataan Steven.
Steven terkejut, tetapi kemudian menganggukkan kepala.
Steven terdiam. Dia tentu tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada orang asing. Belum lagi kalau orang tersebut menilainya jahat karena telah menelantarkan anak biologisnya.
"Saya teman Intan. Sudah lama saya ingin menemuinya," jawab Steven.
Nia tersenyum tipis lalu mengangguk. "Mbak Intan pasti orang baik, sampai-sampai pria tampan seperti Anda mencarinya," ujar wanita muda itu yang langsung mempersilakan Steven untuk ikut dengannya.
Di sepanjang perjalanan banyak sekali anak-anak panti yang penasaran dengan kedatangan Steven. Namun, mereka takut untuk mendekat, terlebih setelah melihat raut wajah Steven yang datar.
Steven bukannya tidak ramah, dia hanya sedang berusaha mengatur suasana hatinya, agar tidak salah langkah saat bertemu dengan Intan nanti.
Keduanya sampai di dalam ruangan berukuran sedang yang tampak seperti ruang bermain anak-anak di bawah tiga tahun. Ada sekitar lima anak yang bermain di sana dengan didampingi dua orang pengasuh. Nia memperkenalkan dua pengasuh tersebut pada Steven.
__ADS_1
Steven menerima uluran tangan mereka seraya menatap heran sekeliling tempat, sebab di sana dia sama sekali tidak melihat sosok Intan.
Sesaat kemudian, Nia yang alih-alih memanggil Intan malah berjalan menghampiri seorang anak laki-laki bertubuh padat dan berkulit putih, yang sedang bermain alat musik. Nia menggendong anak tersebut dan membawanya ke hadapan Steven.
"Halo, Uncle tampan, kenalkan namaku Bobby," ucap Nia seraya menirukan suara anak kecil.
Steven terperangah. Matanya terkunci pada sosok mungil yang kini balas menatapnya dengan pandangan polos. Sedetik kemudian Steven menyadari, bahwa mungkin hanya orang bodoh saja yang tidak dapat melihat kemiripan mereka.
Bobby benar-benar terlihat seperti replika mini dirinya.
"Ayo, Bobby, sapa ... Daddy." Nia memberanikan diri berkata demikian, sambil menyodorkan anak tersebut.
Steven tersentak lalu mengalihkan pandangannya pada Nia. Ya, Nia bahkan bisa menebak hubungan mereka berdua.
Nia membalas tatapan Steven dengan senyum tipisnya. Dia lalu mengangguk, meyakinkan Steven untuk menggendong Bobby.
Steven dengan takut-takut mengambil Bobby dan meletakkannya di pangkuan. Bobby tenang. Dia sama sekali tidak memberontak dan malah sesekali tertawa riang. Sementara Steven memegangi pundak Bobby agar tidak terjatuh.
"Bobby biasanya rewel dengan orang asing yang baru ditemuinya," ucap Nia.
Steven tidak menjawab. Pria itu hanya menunduk, menatap Bobby dalam diam, sebelum akhirnya kembali mengingat sesuatu.
"Ibunya, ke mana ibunya?" tanya Steven.
Nia yang semula tengah tersenyum lembut sembari memainkan pipi gempal Bobby, sontak menghapus senyum di wajahnya. Wanita muda itu menatap Steven dengan pandangan nanar sambil berkata, "Mbak Intan telah meninggal dunia saat Bobby masih berusia lima bulan."
Steven sontak mengangkat kepalanya. Tangan pria itu lunglai di samping tubuh Bobby.
__ADS_1