
"Kamu mau ke mana, Sayang?" Intan dengan wajah panik berusaha mengejar Wisnu yang keluar dari kamar dan pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru.
Pria itu masih sama marahnya seperti kemarin. Tidak ada ketenangan yang tertera di diri Wisnu sejak menerima surat perceraian dari pengadilan.
"Kembali ke kamar, ini bukan urusanmu!" sergah Wisnu tanpa sedikit pun menoleh ke arah sang istri muda.
"Memangnya Mas mau ke mana? Apa Mas mau menemui Mbak Adel?" terka Intan dengan nada tidak nyaman guna menunjukkan ketisaksukaannya.
Wisnu berhenti tepat di depan pintu rumah dan menatap dingin Intan.
Intan memegang tangan suaminya lembut dan kemudian membawa tangan tersebut ke perutnya. "Sayang, dengarkan aku! Percuma saja kamu pergi menemuinya, semua sudah menjadi keputusan mutlak Mbak Adelia."
Mendengar celotehan Intan yang terkesan menyetujui langkah Adelia, Wisnu pun tertawa kecil. Sambil menatap sinis Intan, dia pun berkata, "kenapa memangnya? Kamu takut Adelia akan mengubah keputusannya bila aku memohon? Aku tahu, kamu senang dengan berita ini, Intan!"
Intan terkesiap. Wajahnya menyiratkan seorang pelaku kriminal yang telah tertangkap basah atas perbuatannya.
"Bi bicara apa kamu? Ak aku ...."
Muak mendengar perkataan Intan, Wisnu melanjutkan langkahnya menuju mobil dan pergi begitu saja.
...**********...
"Jangan lari-lari Tiwi, nanti jatuh!" Teriakan halus Adelia terdengar di telinga gadis kecil keponakannya tersebut. Tiwi dan Adelia baru saja kembali dari minimarket di seberang jalan.
Tiwi berbalik menatap Adelia kemudian tertawa kecil. "Bunda lama! Ayo, Bun, cepetan!" katanya riang sambil berlalu meninggalkan Adelia.
Adelia menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. Senyum tipis terukir di wajah cantik wanita itu, kala menatap sang keponakan tercinta.
Ketika Adelia hendak sampai ke rumah, tiba-tiba sebuah mobil sedan yang sangat di kenalnya berhenti tepat di sebelah Adelia.
Wisnu keluar dari dalam mobil dengan wajah marah. Pria itu tanpa belas kasihan menarik tangan Adelia dan mencengkeramnya keras.
__ADS_1
"Hei, lepaskan aku!" teriak Adelia sembari menghempaskan tangan Wisnu. "Apa yang kau lakukan!" hardik wanita itu ketika berhasil melepaskan tangannya.
Wisnu tersenyum sinis. "Seharusnya aku lah yang berkata demikian! Apa yang telah kamu lakukan pada pernikahan kita? Kamu pikir, kamu bisa lepas dariku dengan mudah, Del?" kata pria itu sinis.
Adelia dengan penuh keberanian menatap balik Wisnu, sementara dia berjaga menjaga tangannya agar tidak lagi terjangkau oleh pria itu. "Bisa atau tidak, lebih baik kita buktikan saja nanti di pengadilan. Kamu sudah mendapat surat panggilannya, bukan?"
Mendengar pertanyaan Adelia yang terkesan meledek, Wisnu dengan kasar menarik lengan baju Adelia. Saat itu lah Dinda keluar dari rumah sembari membawa sapu ijuk.
"Lepasin tangan sampahmu itu dari adikku!" teriak Dinda sambil mengacungkan sapu tersebut ke arah Wisnu.
"Jangan ikut campur kamu, Mbak! Urusan saya cuma sama Adelia!" sergah Wisnu.
Dinda naik pitam. "Heh, laki brengsseeek, Adelia itu adikku, dan kamu udah buat ulah di rumah ini, jadi nggak sepantasnya kamu ngomong begitu di sini!"
Mendengar teriakan Dinda yang sangat keras membuat satu persatu tetangga berhamburan keluar rumah.
Adelia yang tidak ingin menjadi tontonan akhirnya memilih untuk mengajak Wisnu pergi guna berbicara. Namun, Arwan yang baru tiba di rumah melarang keras. Sang ibu ternyata menyusul suaminya ke toko mereka, sesaat setelah Wisnu datang.
Wisnu yang merasa tertohok dengan kata-kata Arwan terdiam sejenak. Bagaimana tidak, pria itu baru saja memberi sindiran halus padanya.
"Pak, saya tidak ingin bercerai dengan Adelia!" tukas Wisnu tegas.
Mendengar perkataan tersebut, Arwan terdiam sambil memandang Wisnu aneh. "Apa alasannya? Mengapa kamu mau mempertahankan istri yang tidak berguna Wisnu? Ingat, ibumu bahkan menghina Adelia sebagai wanita mandduul tak tahu diri." Arwan menoleh sejenak ke arah sang putri sebelum melanjutkan perkataannya lagi. "Saya tahu semuanya Wisnu, semuanya. Dari mulai perlakuan ibumu pada Adelia, dan juga perlakuanmu. Jadi, yang saya ingin tahu adalah, mengapa kamu begitu ingin mempertahankan Adelia padahal kamu selalu menyakitinya."
Suasana mendadak hening. Luka hati Adelia yang sempat samar kini tampak nyata kembali ketika mengingat bagaimana perlakuan keluarga Kencana padanya beberapa tahun terakhir ini.
Wisnu sendiri mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Arwan. Dia tak ingin mengatakan dengan gamblang, bahwa dia masih mencintai Adelia walau tak senyata dulu.
"Begitu saja pakai tanya, jelas-jelas anakmu itu main guna-guna!"
Alih-alih Wisnu yang menjawab, suara Ratna lah yang lebih dulu menginterupsi dengan lantang. Wanita itu rupanya menyusul sang putra tunggal bersama Intan, menantu kesayangannya.
__ADS_1
Ratna melangkah angkuh mendekati Wisnu dan keluarga Adelia.
"Apa maksud ucapan Mama?" tanya Adelia yang masih menghormati Ratna.
"Cih, jangan panggil aku seperti itu, aku tidak sudi memiliki menantu tukang main dukun!" seru Ratna.
"Jaga bicara Anda, Ibu Ratna!" Kali ini Arwan lah yang membuka suaranya.
"Loh, memang benar, kok! Buktinya Wisnu tidak mau menceraikan Adelia, padahal jelas-jelas Adelia bukan istri yang berguna."
Arwan mengepalkan tangannya begitu mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Ratna. Dinda yang sudah diselimuti emosi hendak menghampiri Ratna, tetapi Aini keburu menahannya.
"Bandingkan saja dengan Intan. Masih muda, subur, cantik, dan bukan berasal dari keluarga kampungan! Dan saya yakin sekali dia mengguna-gunai Wisnu!"
Dinda yang tidak bisan menahan diri lagi pun akhirnya membuka suara. "Hei, tante-tante sombong, kalau ngomong jangan sembarangan! Jangan-jangan menantu pel*cuurmu itu kali yang doyan main dukun, buktinya dia berhasil menggaet putramu!"
"Jangan lancang kamu ya!" Intan membelalakkan matanya.
Ratna menyilangkan tangan ke perut Intan guna menahan sang menantu untuk bersabar.
"Hei, kamu wanita kampung! Seharusnya kamu dan keluargamu sadar mengapa Wisnu bisa berbuat demikian. Apa lagi kalau bukan ketidakbecusan adikmu itu dalam memiliki anak. Kamu saja lama baru punya anak." Ratna menatap keluarga Adelia satu persatu sembari dengan sinis sambil berkata, "jangan-jangan keluarga kalian keturunan manduul! Pantas saja, sudah manduuull, jalaaangg pula!"
Suasana seketika memanas setelah Ratna dengan kurang ajarnya menghina keluarga Adelia.
Adelia naik pitam. Saat dia berjalan menuju Ratna tiba-tiba seseorang sudah melesat duluan dan menampar keras wajah wanita itu hingga sudut bibirnya berdarrahh.
Adelia, Wisnu, Intan, Dinda, Arwan, dan seluruh tetangga yang menyaksikan pertengkaran tersebut terkejut bukan kepalang dengan tindakan Aini terhadap besannya. Pasalnya wanita itu dikenal sebagai pribadi yang sangat lembut.
Ratna dengan tangan gemetaran menghapus setitik darrahh di sudut bibirnya lalu berteriak keras. "Wanita siallaaaaan!"
Ratna dengan beringas berusaha meraih tubuh Aini yang kini terlihat menantang. Meski air mata bercucuran karena merasa sakit hati dengan hinaan Ratna, Aini berusaha tegar. Dia bahkan sama sekali tidak memerdulikan image baik hati yang selama ini disandangnya.
__ADS_1