
Adelia baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar. Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, dia akhirnya tiba di sebuah tempat yang sama sekali belum pernah dikunjunginya, subuh hari tadi.
Alih-alih rumah seperti yang dikatakan Hariadi, Adelia justru tinggal di sebuah apartemen mewah di dalam kawasan elit kota kecil ini.
Sesampainya di sana, Adelia bahkan tidak perlu bersusah payah menyiapkan segalanya, sebab semua kebutuhan wanita itu sudah terpenuhi dengan baik oleh orang-orang suruhan mertuanya tersebut.
Adelia semula menolak perlakuan istimewa yang didapatkannya, tetapi Hariadi bersikeras. Apa lagi beliau berkata bahwa Adelia masih lah menantu kesayangan beliau.
Mendengar hal itu, Adelia sempat bersedih. Andai saja suaminya memiliki hati seperti Hariadi, mungkin hidupnya akan sangat bahagia.
"Ibu Adel." Ketukan pintu pada kamarnya tiba-tiba terdengar. Itu adalah Nadia, salah seorang suruhan Hariadi yang akan bertugas menjaga Adelia selama di sana.
Nadia memang tidak akan tinggal di sana, tetapi wanita itu akan rutin mengunjungi Adelia dan sigap apa bila diperlukan.
Adelia membuka pintu kamarnya dalam keadaan sudah berpakaian rapi, meski rambut masih belum tersisir.
__ADS_1
"Makan siang untuk Anda sudah saya siapkan. Saya juga sudah menyiapkan beberapa dokumen untuk keperluan wawancara Anda dua hari lagi," ujar Nadia sopan.
Adelia meringis tak enak. "Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini. Saya malah terkesan jadi kurang mandiri," ucapnya.
Nadia tersenyum santun. "Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu. Bila Ibu butuh bantuan, jangan lupa untuk menghubungi saya," pinta wanita muda berusia 27 tahun itu.
Adelia menganggukkan kepala lalu berterima kasih. Wanita itu pun mengantarkan Nadia sampai ke pintu depan, meski sempat mendapat penolakan.
Selesai mengantar Nadia, Adelia berjalan menuju meja makan.
...**********...
"Intan, Sayaaang!" Mona dengan langkah tergopoh-gopoh menghamburkan diri ke arah Intan yang sedang terduduk di atas ranjang. Wanita itu baru saja selesai menghabiskan sarapan paginya disuapi oleh Ratna.
"Kamu tidak apa-apa, Nak? Mana, mana yang sakit Sayang?" tanya Mona dengan raut panik.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Tante," jawab Intan lembut.
"Syukurlah, syukurlah!" gumam Mona.
"Iya, tidak perlu khawatir, Jeng, Intan dan bayinya baik-baik saja. Untung Wisnu sigap membawa Intan ke rumah sakit," ujar Ratna.
Mona mengangguk-anggukkan kepalanya sekilas, lalu mulai mencibir. "Saya benar-benar tidak habis pikir dengan menantu Mbak Ratna yang satu itu! Bisa-bisanya dia menganiaya keponakan saya hingga seperti ini. Bagaimana ini Mbak Ratna? Hidup Intan akan sangat terancam!"
Ratna lantas meminta maaf pada Mona. "Maaf ya Jeng. Kejadian kemarin benar-benar di luar kemampuan kami. Saya juga menyayangkan sikap wanita itu, tapi tenang saja, wanita itu sudah pergi dari rumah bak seorang pengecut. Meski saya sakit hati karena dia tidak bertanggung jawab, tapi setidaknya Intan akan hidup tenang karena wanita itu sudah tidak ada."
Mona bernapas lega. Wanita itu turut menghina Adelia dan menyayangkan sikapnya yang dinilai sangat rendahan tersebut.
Wisnu yang baru saja hendak masuk ke dalam ruangan, memilih mengurungkan niatnya setelah mendengar perkataan jelek dari Ratna dan Mona. Hatinya panas mendengar hinaan yang terlontar dari mulut mereka untuk Adelia.
Mengapa? Mengapa setelah Adelia pergi, hatinya mendadak seperti ini, padahal dulu dia sama sekali tidak memerdulikan air mata dan nasib pahit yang dialami Adelia.
__ADS_1
Wisnu menyandarkan tubuhnya di dinding sembari memejamkan mata. "Del, di mana kamu?" gumam pria itu lirih.