
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, ketika mobil yang dikendarai Adelia tiba di bandara untuk mengantar Alex dan Steve ke Jakarta. Keduanya berniat menemui Wisnu untuk membicarakan pekerjaan mereka.
Alex yang mengerti akan kondisi Adelia, meminta wanita itu untuk tidak ikut dalam perjalanan bisnis ini. Itu lah mengapa, dia mendapuk Steve untuk ikut bersamanya.
Adelia tidak menolak, sebab dia memang enggan untuk melihat wajah sang mantan suami terlebih dahulu. Butuh waktu bagi wanita itu untuk menyesuaikan segalanya.
"Maaf, Pak," ucap Adelia kepada Alex.
Alex menganggukkan kepala. "Aku mengerti. Kalau begitu, kami berangkat dulu. Titip kantor," ujarnya kemudian.
"Baik, Pak." Adelia membungkukkan badannya sedikit dan tetap berada di sana selagi kedua pria itu berjalan menjauhinya.
"Jangan tekuk wajahmu! Biasakan diri bersikap semestinya, sebab kau akan sering menemaniku bertemu klien-klien penting!" tegur Alex saat mendapati raut wajah kurang mengenakkan dari sang adik.
Steve mendecih. "Sudah kubilang, ini kali pertama dan terakhir aku menemani perjalanan bisnismu, karena menggantikan Adelia!" tegas pria itu. "Lagi pula, mengapa Adelia harus tetap berada di kantor selagi kita pergi, padahal dia sekretaris pribadimu, Kak?" sambungnya. Steve yang tidak mengetahui apa-apa soal masalah yang menerpa Adelia.
Alex tidak menjawab dan malah mempercepat langkahnya. "Cepat! Lelet sekali kau, seperti perempuan!"
Steve membelalakkan matanya. "Siaaall, tunggu!"
Perjalanan bisnis yang dilakukan Alex dan Steve rupanya tidak membuahkan hasil bagus, sebab ternyata, setelah mereka sampai di kantor, Wisnu tidak berada di tempat.
Dari informasi yang mereka dapat, Wisnu sudah satu minggu lamanya tidak berangkat ke kantor. Semua pekerjaan terabaikan, termasuk kontrak kerjasama mereka. Sang sekretaris, meminta maaf pada Alex atas ketidakprofesionalan pimpinan mereka dan tengah berusaha menghubungi beliau.
__ADS_1
Alex tentu saja marah, sebab dia sama sekali tidak diberitahu soal hal tersebut.
"Sebagai sekretaris, apa yang kamu lakukan? Seharusnya kamu memberitahu saya, agar saya tidak perlu datang jauh-jauh ke sini!" ujar Alex.
Wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya seraya meminta maaf. Jadwal yang berantakan membuat beberapa hal terlewati.
...**********...
"Mbak!" Adelia memeluk erat tubuh Dinda yang baru saja tiba di rumahnya. Wanita itu memang memutuskan untuk mengunjungi sang adik seorang diri. Dia memahami benar jika Adelia menolak pulang ke rumah orang tua mereka untuk sementara waktu.
Setelah puas memeluk sang kakak, Adelia pun melepaskan diri lalu menoleh ke belakang Dinda seolah sedang memastikan sesuatu. "Benar-benar datang sendiri? Memangnya Tiwi tidak rewel ditinggal Mbak?" tanya wanita itu kemudian.
"Asal ada sogokan aman. Lagi pula aku akan repot bila harus mengurus dua bocah!"
Adelia pun mempersilakan Dinda untuk masuk dan merapikan barang-barang bawaannya dulu, sebab dia berencana akan menghabiskan satu minggu di sama.
...**********...
"Jadi bagaimana? Kita langsung pulang lagi?" tanya Steve. Mereka berdua kini sedang berjalan di lobi kantor.
"Memangnya mau apa? Kita tidak ada urusan di sini."
Steve mengangkat alisnya. "Kakak tidak mau lihat apartemen dulu?" tawar pria itu kemudian.
__ADS_1
Alex terdiam sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Dengan langkah cepat, dia pun keluar menuju salah satu taksi online yang baru saja ditinggalkan pelanggannya.
Steve berlari kecil untuk menyusul sang kakak. Suasana lobi yang cukup ramai membuat pria itu tidak menyadari kehadiran seseorang yang baru saja masuk ke dalam lobi.
...**********...
Suara gebrakan meja resepsionis terdengar nyaring, kala Intan dengan raut wajah kesal membanting tasnya di sana.
"Mana Wisnu?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.
Salah seorang dari dua resepsionis yang berada di sana bergegas bangkit dari posisinya guna menanyakan maksud dari Intan.
"Maaf, Ibu, Ibu cari siapa ya? Wisnu siapa yang Ibu maksud?" tanya sang resepsionis dengan nada sopan.
"Wisnu siapa lagi, ya pemilik perusahaan ini! Gimana sih! Di mana dia sekarang?" ujar Intan setengah berteriak.
"Oh, Pak Wisnu. Beliau tidak masuk kantor sudah beberapa hari ini Bu. Kalau boleh tahu, dengan ibu siapa saya bicara? Biar nanti kami sampaikan ke Bapak Wisnu bila sudah masuk kantor."
Intan terdiam. Siapa pun pasti tahu bagaimana wujud istri Wisnu yang telah dinikahinya selama lebih dari sepuluh tahun, smentara dirinya? Tak ada seorang pun yang tahu.
Kini, mereka harus mengetahui bahwa dirinya adalah istri dari Wisnu.
"Saya Intan, istri kedua Wisnu!"
__ADS_1