Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 28. Intan pendarahan.


__ADS_3

Pagi ini merupakan pagi yang cukup sibuk bagi Adelia. Wanita cantik berpenampilan sederhana tersebut kini sedang mengepel lantai seluruh lantai dua menggunakan pel gagang biasa.


Tadi subuh Ratna tiba-tiba mengetuk keras pintu kamarnya guna meminta wanita itu untuk menggantikan asisten rumah tangga mereka yang sedang sakit.


Alhasil, Adelia yang biasanya lebih banyak mengurus cucian dan area dapur, mau tidak mau harus menambah beban pekerjaan dengan menyapu dan mengepel lantai. Namun, yang paling membuatnya miris adalah, Adelia tidak boleh menggunakan pel lantai otomatis, melainkan pel gagang biasa. Jadi wanita itu harus berjuang keras setiap kali memeras pel tersebut menggunakan kedua tangannya.


Tidak lama kemudian, Aminah datang menghampiri Adelia dan menawarkan diri untuk menggantikan tugasnya.


"Biar saya saja Bu, Ibu sarapan dulu di bawah," titah wanita yang jarak usianya tidak terlalu jauh dari Adelia tersebut.


Mendengar itu, Adelia kontan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Aminah, biar saya selesaikan. Nanti saya akan langsung makan kalau sudah selesai semua," tolaknya halus.


Aminah menatap Adelia penuh iba. "Kalau begitu, jangan sungkan meminta pada saya ya jika membutuhkan ya, Bu?" ucap Aminah.


"Iya, Aminah, terima kasih ya?" Adelia tersenyum lembut, lalu membiarkan wanita itu pergi meninggalkannya untuk meneruskan pekerjaan lain.


Di sisi lain, Intan yang baru saja keluar dari kamar untuk sarapan, tanpa sengaja menangkap sosok Adelia yang sedang mengepel lantai. Wanita itu tersenyum senang melihat bagaimana Adelia diperlakukan sedemikian hina oleh sang ibu mertua.


Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu, tiba-tiba sebuah pemikiran gila terlintas di benaknya.


Intan sengaja berjalan perlahan menghampiri Adelia yang sedang berjalan mundur sembari mengepel lantai. Begitu tiba di belakang wanita itu, dia pun memanggil nama Adelia dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


Adelia tentu saja terkejut. Tanpa sengaja dia berbalik sembari mengayunkan gagang pel-nya ke arah Intan.


Saat itu juga lah tubuh Intan terjerembab ke lantai.


Teriakan histeris Intan pun terdengar hingga membuat para penghuni rumah berbondong-bondong datang, termasuk Ratna, Hariadi, dan Wisnu yang baru saja keluar dari kamar.


"Intan, ya Allah!" pekik Adelia terkejut. Wanita itu bergegas melempar gagang pel-nya ke sembarang arah guna membantu membangunkan Intan. Namun, Intan menolak.


"Intan!"


"Intan, anakku!"


Teriakan Wisnu dan Ratna terdengar nyaris berbarengan. Mereka menghampiri Intan yang kini menangis kesakitan.


Adelia seketika panik. Dia sama sekali tidak mendorong Intan. Wanita itu lah yang tiba-tiba muncul di belakangnya, saat dia sedang mengepel lantai. Lagi pula, jangankan mendorong, menyentuh saja tidak.


"Mas ... tidak ... Intan, aku tidak mendorongmu! Aku bahkan tidak tahu kamu ada di belakang sana!" kilah Adelia membela diri.


"Jangan bohong, Mbak! Mbak jelas-jelas tahu aku menegur dan menghampiri, tapi Mbak pura-pura tidak melihatku dan sengaja mengayunkan gagang pel itu!" sahut Intan tidak terima.


"Kurang ajar kamu, Adel!" bentak Ratna. Wanita itu hendak menarik tangan Adelia, tetapi Hariadi menahannya.

__ADS_1


"Kamu harus menjelaskannya dengan jujur, Intan!" seru Hariadi dingin.


"Pa, aku ... Mbak Adel lah ... aww, Mas, sakiiit!" Intan tiba-tiba memegang perutnya. yang terasa mulas, dan saat itu juga Ratna memekik ketakutan saat sebercak darah terlihat di lantai.


Suasana mendadak gempar. Wisnu dengan cepat menggendong Intan dan membawanya ke mobil, sementara yang lain mengikuti mereka, termasuk Adelia.


"Mas, biarkan aku ikut!" pinta Adelia. Namun, Ratna malah mendorong wanita itu hingga terjatuh membentur pot bunga.


"Wanita pembawa sial! Jangan coba-coba menyentuh menantu dan cucuku lagi! Kalau sampai sesuatu terjadi pada cucuku, aku pastikan hidup keluargamu tidak akan tenang!"


Adelia hanya bisa terdiam sembari menangis, menyaksikan mobil yang dikendarai Wisnu pergi meninggalkan kediaman mereka.


Adelia bahkan memeluk kedua lututnya, seraya bergumam meminta maaf, entah pada siapa.


Hariadi yang tidak ikut bersama Wisnu dan Ratna, berusaha menenangkan Adelia.


"Pa, aku benar-benar tidak tahu Intan ada di sana! Bagaimana kalau bayi Mas Wisnu kenapa-kenapa, Pa?" tanyanya histeris.


Hariadi memeluk menantunya yang mulai meronta dan meraung-raung. "Tidak, Adel, tidak akan terjadi apa-apa pada bayi itu ... dan Papa sangat memercayaimu!"


"Tapi Mas Wisnu tidak, Pa!" sahutnya keras. Tangisan wanita itu terdengar sangat menyayat hati.

__ADS_1


Hariadi berusaha menenangkan Adelia yang terus berteriak keras. Selama hidup satu rumah dengan sang menantu, rasa-rasanya baru kali ini Hariadi mendengar tangisan pilu Adelia.


Siapa sangka, Adelia ternyata menyimpan segala kesakitannya dalam hati hingga menumpuk, dan kini dia mengeluarkan semuanya.


__ADS_2