
Adelia tampak berdiri sendirian di sudut aula yang kini ramai oleh para tamu undangan dan pewarta. Matanya tak lepas menatap sosok Alex yang sedang berdiri gagah di atas panggung sembari menjelaskan keberhasilan proyeknya yang terselesaikan dalam waktu singkat.
Alex, pria yang telah membantunya melalui masa-masa sulit setahun silam. Bahunya pernah dia gunakan untuk menangis, dan tangannya pernah dia gunakan untuk berpegangan.
Sampai detik kemarin, Adelia merasa semuanya akan berjalan baik-baik saja meski tidak harus menjalin komitmen dengan Alex. Namun, ketika Carla datang, perasaan itu mendadak hilang.
Adelia merasa sedikit terusik dan takut.
Helaan napas seketika keluar dari mulut wanita itu, bersamaan dengan langkahnya yang selaras menuju pintu aula guna menenangkan pikirannya dari hal-hal di luar pekerjaan.
Akan tetapi, begitu dirinya tiba di ambang pintu aula, sesosok pria lain yang pernah mengisi hidupnya, tiba-tiba muncul di sana.
Adelia tersentak, begitu pula dengan Wisnu dan Hariadi yang turut menatap sosok wanita itu.
Degupan jantung sontak bertalu kencang, ketika Wisnu akhirnya bisa melihat lagi sosok itu. Sosok yang pernah dia sakiti sedemikian rupa, sekaligus sosok yang selama ini dia rindukan.
"Adelia," bisik Wisnu lirih. Suaranya yang bergetar menandakan kehati-hatian dan kesedihan pada diri pria itu.
Adelia tidak merespon Wisnu, melainkan menyapa dengan penuh kesopanan kepada mantan ayah mertuanya. Dia bahkan mengambil tangan Hariadi terlebih dan mencium tangan beliau.
"Papa sehat?" Tidak ada yang berubah dari panggilan Adelia pada Hariadi, sebab baginya, Hariadi tetaplah sosok orang tua yang (pernah) dia miliki.
"Sehat, Nak. Kamu sehat, Adelia?" tanya Hariadi ramah. Interaksi keduanya yang cukup akrab membuat Wisnu iri. Tatapan nanar tak henti-hentinya ditunjukkan pria itu. Namun, Adelia tidak sekali pun memerdulikannya.
__ADS_1
"Sehat, Pa," jawab Adelia sembari mempersilakan Hariadi untuk duduk di tempat yang tersedia.
Sang ayah mertua memang merupakan salah satu tamu undangan mereka, dan Adelia sudah dapat menebak, bahwa Wisnu pasti akan ikut datang bersamanya. Namun, tetap saja perasaan terkejut itu ada.
Sadar bahwa Adelia tidak akan menganggap keberadaannya, Wisnu memilih diam. Matanya hanya mampu bergerak mengikuti ke mana mantan istrinya itu pergi.
...**********...
"Adelia!" teriak Wisnu yang sedang berlari kecil menghampiri Adelia di lorong kantor.
Wanita yang sedang berjalan sendirian tersebut sontak berhenti tanpa menoleh ke belakang.
Wisnu ikut berhenti. Napasnya terdengar sedikit naik turun. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk membuka suara.
"Mau apa lagi? Seingat saya, urusan kita berdua sudah selesai sejak lama." Adelia berbalik dan dengan cepat memotong pembicaraan pria itu, tanpa membalas tatapan matanya.
Dada Wisnu berdenyut menyakitkan, seolah-olah ada batu besar yang menghantam telak dirinya. "Aku tahu ... aku, hanya ingin mengetahui kabarmu saja," ucap pria itu lirih.
Adelia tersenyum sangat tipis. "Untuk apa? Tolong, jangan berlaku seolah-olah Anda adalah orang terdekat saya! Jadi, perhatikan jarak Anda!" Setelah berkata demikian, Adelia berbalik kembali dan berjalan meninggalkan Wisnu.
Saat Wisnu hendak menyusul, tiba-tiba dari belakangnya, Alex muncul mendahului pria itu.
"Del," panggil Alex. Tangannya dengan sigap menggenggam tangan halus Adelia.
__ADS_1
Adelia berhenti dan tersenyum menatap Alex, serta membalas genggaman tangan itu.
"Ada apa?" tanya Alex seraya menatap keduanya bergantian.
Adelia menggelengkan kepala. "Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawab wanita itu.
Alex menatap Adelia secara saksama selama beberapa saat, sebelum kemudian beralih kembali pada Wisnu.
"Kita akan meeting sebentar lagi, Tuan Wisnu. Kalau ada sesuatu yang perlu ditanyakan bisa langsung ke saya, jadi tidak perlu mengganggu sekretaris saya."
Mendengar perkataan tersebut, Wisnu kontan tersentak. Matanya yang sempat terpaku melihat kedua tangan tersebut tertaut, kini mulai teralihkan.
Wisnu tahu benar akan maksud sebenarnya yang diucapkan Alex.
"Baik. Sampai bertemu lagi, Tuan Alex." Wisnu menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan mereka.
Saat Adelia telah memastikan bahwa pria itu benar-benar menghilang, Adelia lantas melepaskan tangannya dari genggaman Alex.
Alex tampak kecewa. "Kenapa?" tanyanya.
"Anda juga, Pak," ujar wanita itu.
"Juga, apa?" tanya Alex yang tidak mengerti arah pembicaraan Adelia.
__ADS_1
"Saya tidak ingin menyakiti seseorang." Tanpa menjelaskan lebih jauh, Adelia langsung berjalan meninggalkan Alex yang kini sibuk mencari arti dari perkataannya.