Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 52: Amarah Wisnu dan kekesalan Ratna.


__ADS_3

Mengetahui sang suami tidak berada di tempat, Intan pergi ke sebuah apartemen yang berada di pinggiran kota. Tidak seperti apartemen lain, apartemen ini merupakan satu-satunya yang sering dikunjungi oleh Wisnu karena jauh dari pusat keramaian.


Benar saja dugaan Intan, sebab Wisnu kini sedang berada di sana.


Setelah berhasil masuk ke dalam apartemen, wanita itu bergegas menghampiri Wisnu yang tampak terkulai di atas sofa. Suasana di dalam apartemen benar-benar sangat berantakan. Banyak sekali sampah minuman beralkohool yang tercecer di lantai.


"Mas, kamu ngapain sih, di sini? Dan ini semua apa-apaan sih, Mas!" seru Intan yang langsung memberondong sang suami dengan sederet kekesalan karena pria itu sudah tidak pulang ke rumah selama berhari-hari.


Alih-alih menjawab, Wisnu malah menutup wajahnya dengan bantal sofa. Namun, Intan dengan kasar mengambil bantal tersebut dan menarik tubuhnya sampai terbangun.


"Ayo, kita pulang! Kamu tahu nggak sih, kalau papa marah dan mengancam akan menurunkan jabatanmu karena tidak pernah ke kantor! Kalau kamu begini terus bisa-bisa ancaman papa jadi kenyataan!


Mendengar hal tersebut, Wisnu refleks tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Intan yang merasa tersinggung dengan respon Wisnu.

__ADS_1


"Jadi kamu datang jauh-jauh ke sini bukan karena mengkhawatirkanku, melainkan karena takut aku akan kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin?"


Intan seketika salah tingkah begitu mendengar perkataan Wisnu yang tepat sasaran. Wanita itu kemudian duduk di samping Wisnu dan berusaha mengelak tudingan tersebut.


"Mas, kenapa sih, semenjak ada masalah jadi sering sekali berkata kasar dan menuduhku yang tidak-tidak? Aku memang bukan wanita yang baik, aku bahkan pernah menjadi wanita simpananmu, Namun, bukan berarti aku seburuk itu! Mbak Adel yang tampak baik-baik pun sebenarnya tidak seperti kelihatannya!" ujar Intan keras.


Wisnu terdiam. Dia terlalu malas menanggapi ocehan Intan.


"Buat apa meratapi perpisahan dengan wanita tidak berguna itu, Mas! Tolong, sadar! Ada aku, dan ada anak kita yang bersamamu!" tegasnya sembari menggenggam erat tangan sang suami.


Wisnu menepis genggaman Intan dan berkata, "pergi dari sini. Aku butuh ketenangan." Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Intan begitu saja menuju lantai dua.


Jutaan kebencian yang sudah pada dirinya terhadap Adelia semakin menumpuk. Intan marah sekali mengetahui bahwa Adelia masih saja mengganggu ketentraman dunianya, meski tidak lagi hadir di antara mereka.


...**********...

__ADS_1


Tangisan Intan sepulang ke rumah membuat Ratna naik pitam sekaligus perihatin. Wanita itu dengan penuh kasih sayang berusaha menenangkan Intan, lalu menyuruh beberapa orang untuk menyeret Wisnu pulang ke sana.


Weisnu tentu saja tidak begitu saja menuruti kemauan beliau. Dia sempat memberontak keras, sebelum akhirnya mengalah setelah Hariadi menelepon.


"Pulang lah, kita bicarakan ini di rumah." Hanya itu sepenggal kalimat yang terucap dari bibir sang ayah melalui sambungan telepon.


"Memangnya Papa mau bicara apa? Kalau hanya untuk membebankan segalanya di pundakku, tidak perlu!" sahut Wisnu sebelum mengakhiri sambungan telepon mereka.


Wisnu yang tidak ingin terjadi keributan besar pun berjalan keluar, mengikuti orang-orang suruhan ibunya.


Tamparan keras didapatkan Wisnu, ketika pria itu baru saja menginjakkan kakinya ke rumah.


Ratna, sang ibu yang baru saja menamparnya, mulai meneriaki Wisnu dan memintanya agar fokus terhadap kesehatan Intan.


"Kalau memang kamu sebegitu cintanya pada Adelia, tinggalkan keluarga ini dan semua yang ada di dalamnya! Tapi ingat Wisnu, jangan harap kamu bisa kembali ke sini dan jangan harap kamu bisa menemui anakmu lagi!"

__ADS_1


Mendengar ancaman sang ibu, Wisnu tersentak. Meski dia sedang bertengkar dengan Intan, tetap saja dia mencintai anak dalam kandungan wanita itu dan tidak akan rela berpisah dengannya.


Wisnu mau tidak mau harus menurunkan amarahnya. Dia meminta maaf pada Intan yang kini sedang menangis tersedu-sedu.


__ADS_2