Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 2 (Season 2): Kehadiran masa lalu.


__ADS_3

Derap langkah sepasang kaki bersepatu hak tinggi terdengar menggema di tengah keramaian area pintu penerbangan internasional.


Seorang wanita berpakaian seksi dengan warna mencolok berjalan keluar area tersebut lalu menghampiri seorang pria tua yang sedang menunggu di depan sebuah mobil sedan hitam mewah. Wanita tersebut menyerahkan troli barangnya tanpa suara, kepada si pria, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil begitu saja.


"Selamat datang, Nona Carla," sapa si pria tua yang tak lama kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Ya." Jawab wanita itu singkat sembari sibuk menatap layar ponselnya guna mengutak-atik seolah sedang mencari sesuatu.


Tahu bahwa tidak ada satu pun pesan singkat atau telepon yang datang dari seseorang yang dia harapkan, membuat wanita bernama Carla tersebut mendengkus kesal. "Tidak adakah seseorang yang sudi datang menjemputku?" tanyanya seraya menoleh ke arah si supir.


Si supir segera menggelengkan kepala lalu berkata, "Tuan sedang sibuk di kantor, sedangkan Nyonya menunggu di rumah."


Mendengar jawaban si supir, Carla mendelik. "Kau tahu, bukan itu maksudku!" serunya dengan nada meninggi.


Supir tersebut sontak terdiam selama beberapa saat, sebelum kemudian menggelengkan kepalanya sekali. "Tuan dan nyonya bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi dengan beliau selama hampir dua tahun ini!"


Carla lantas melempar ponselnya ke kursi sebelah dan spontan mengumpat. Kedua tangan wanita itu kemudian terlipat ke depan sambil meneriaki sang supir untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


...**********...


Hariadi hanya mampu menghela napasnya, tatkala mendapati sang putra semata wayang yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga, lagi-lagi hanya tergeletak tanpa daya di dalam apartemen yang sangat berantakan.


Bau menyengat dari botol-botol beralkohol dan sampah-sampah makanan cukup mengganggu indera penciuman pria itu.


"Bereskan semua!" titah Hariadi kepada tiga orang asisten rumah tangga yang memang dia bawa kemari.


Ketiganya pun mengangguk dan mulai berpencar, sementara Hariadi berjalan menghampiri ranjang tidur, tempat di mana Wisnu berada.


Tak ingin susah payah mengeluarkan tenaganya untuk membangunkan sang putra, Hariadi memilih menendang tubuh pria itu hingga tersungkur ke lantai.


Suara teriakan penuh kesakitan pun menggema memenuhi apartemen tersebut.


"Bangun! Mau sampai kapan kau akan terus-terusan hidup seperti ini, hah!" ujar Hariadi marah.


Wisnu hanya bisa mengerang kesakitan sembari mengelus punggungnya yang tadi menghantam lantai.

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan pernah lagi menggangguku, Pa! Aku akan terus begini!" sahut Wisnu dingin.


" ... dan membiarkanmu hidup layaknya sampah seperti ini? Di apartemen milik Papa? Dengan uang yang masih mengalir ke rekeningmu?" Hariadi mendecih lalu kembali menendang tulang kering Wisnu, hingga pria itu kembali berteriak.


Hariadi bukannya tidak mengerti akan perasaan Wisnu. Namun, bukan berarti dia bisa terus menerus memaklumi pria itu, sebab semua yang terjadi adalah imbas dari perbuatan biadabnya pada Adelia.


Bila saja dia tidak memulai semua ini, kehidupannya dan kehidupan keluarga mereka tidak akan kacau balau seperti sekarang ini.


Entah berkaitan atau tidak, Hariadi juga telah kehilangan Ratna. Setelah masalah sertifikat rumah setahun yang lalu, pria itu langsung mengirim Ratna dan mengasingkannya ke luar negeri, agar wanita itu bisa merenungi segala perbuatan yang pernah dia lakukan terhadap siapa pun, terutama Adelia.


Sejak saat itu Hariadi hidup seorang diri, tetapi dalam-dalam bayang-bayang dua orang pengacau yang masih dia cintai.


"Jangan bercanda Wisnu. Bahkan dibandingkan denganmu dan ibumu, hidup Papa jauh lebih hancur. Semua yang kalian dapatkan adalah pembalasan dari apa yang kalian lakukan, lalu mengapa Papa juga ikut terkena imbasnya?" Ada nada kesedihan yang terdengar samar dari mulut pria itu.


Wisnu bungkam. Matanya yang semula sempat menatap sang ayah dingin, kini segera berpaling.


Wisnu mengambil kaos hitam yang teronggok di dekat kaki Wisnu lalu melemparnya keras ke arah wajah pria itu. "Papa sudah memberimu waktu cukup lama, kini kembalikan semuanya seperti semula. Pergilah bekerja atau Papa akan menghentikan semua fasilitas yang kau dapatkan, termasuk apartemen ini!"

__ADS_1


__ADS_2