Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 37. Sikap Alex.


__ADS_3

Adelia baru saja selesai membereskan meja kerjanya dari tumpukan berkas-berkas. Hari ini dia sudah meminta izin pada Alex untuk pulang lebih cepat, karena ayah, ibu, kakak dan keponakannya akan datang ke rumah.


Ini adalah kunjungan pertama mereka setelah Adelia pindah dan menetap di sana. Wanita itu memang sengaja meminta mereka untuk menunggu cukup lama agar tidak terendus kecurigaan Wisnu yang terkadang masih suka mendatangi rumah atau menyuruh seseorang untuk mengawasi mereka, sebelum akhirnya Arwan dan Dinda melabrak terang-terangan orang suruhan Wisnu.


"Pak, saya permisi dulu. Semua laporan sudah saya kerjakan dan sudah dikirim ke email Bapak, dan saya juga sudah menelepon jasa kebersihan untuk datang ke rumah Bapak sore nanti," ucap Adelia dari ambang pintu ruangan Alex.


Alex menganggukkan kepala lalu kemudian menutup laptopnya. Dia juga merapikan meja kerjanya dari beberapa barang dan mulai berdiri dari sofa.


"Bapak mau ke mana?" tanya Adelia ketika mendapati Alex beranjak dari meja kerjanya menuju pintu keluar di mana dia berdiri.


"Ayo!" seru Alex sambil berjalan melewati Adelia yang malah terbengong di tempat.


Sadar bahwa sang atasan pergi, Adelia bergegas mengejarnya. "Pak, saya harus pulang ke rumah! Kemarin, kan, saya sudah bilang Bapak ... dan hari ini Bapak juga tidak jadwal keluar." Sambil berbicara, Adelia memeriksa kembali jadwal Alex di tabletnya. Takut-takut jika dia salah membaca jadwal. Namun, hal tersebut tidak terjadi. Jadwal pria itu benar semua.


"Pak! Bapak mau ke mana?" Dengan sedikit meninggikan suaranya, Adelia memanggil Alex yang kini sedang berhenti di depan lift.


"Ck, kamu mau pulang, kan? Ya sudah, ayo, saya antar!" seru Alex jengkel. Pria yang sangat menyukai ketenangan tersebut, akhir-akhir ini terlihat selalu kesal karena suara berisik Adelia yang selalu mengoceh soal ini dan itu, terutama urusan kantor.


Ya, jika dibandingkan dengan sekretaris sebelumnya, Adelia memang termasuk wanita yang sangat perfeksionis dalam bekerja dan mengatur jadwalnya. Entah lah, mungkin karena dia ingin memberi kesan baik sebagai karyawan baru atau memang begitu lah perangainya. Namun, entah mengapa di balik ocehan tersebut, Alex merasakan kenyamanan.


"Pak, saya tidak perlu diantar. Saya bisa pulang sendiri!" tegas Adelia begitu mendengar jawaban Alex.


Akan tetapi, Alex sepertinya enggan mendengar. Terbukti dari cari pria itu berpura-pura memainkan ponselnya.

__ADS_1


Saat lift terbuka, pria itu dengan cepat mengambil tas Adelia dan masuk ke dalam lift.


"Pak, tas saya!" Adelia berusaha meraih tasnya sembari masuk ke dalam lift. Mereka sempat berdebat sengit mengenai tawaran Alex yang ingin mengantarnya pulang.


"Kamu tidak ingin memakai credit card-ku untuk berbelanja menyambut keluargamu, dan sekarang kamu juga menolak ajakan pulang bersama!" kata Alex.


Adelia mengembuskan napasnya. Wanita itu bukannya tidak mengerti akan sikap dan gerak-gerik yang diperlihatkan Alex kepadanya, sebab, biar bagaimana pun juga dia adalah seorang wanita yang sudah pernah menjalin hubungan dengan seorang pria.


Itulah mengapa ada kalanya Adelia memperlihatkan sikap tidak nyamannya kepada Alex, agar pria itu bisa menjaga jarak. Namun, ternyata tidak semudah itu. Semakin Adelia menjauh, Alex justru semakin membuatnya dekat, padahal pria itu tahu benar, bahwa Adelia bukanlah wanita single.


Bahkan kedekatan mereka sempat membuat karyawan-karyawan menaruh curiga.


"Pak, saya mohon," ucap Adelia. "Tolong, jangan begini. Orang-orang kantor bisa berpikiran macam-macam, Pak!" tukasnya kemudian.


"Siapa yang berani berpikiran macam-macam tentang kamu, biar saya pecat nanti!" ancam Alex dingin, yang malah membuat Adelia memijit-mijit pelipisnya kuat-kuat.


...**********...


Pertemuan pertama Adelia dan keluarganya setelah hampir dua bulan berpisah terasa sangat mengharukan. Apa lagi kepergian Adelia diliputi konflik yang cukup berat. Wajar jadinya bila kini Aini menangis tersedu-sedu sembari memeluk erat tubuh kurus sang putri bungsu.


"Adel rindu, Bu," ucap Adelia lirih yang juga ikut menangis.


Aini mengangguk-anggukkan kepala sembari bergumam pelan. Setelah puas memeluk sang putri, wanita itu memerhatikan tubuh Adelia dengan saksama.

__ADS_1


"Kamu kurusan, Nak," kata Aini khawatir.


"Tapi aku jauh lebih sehat, Bu," jawab Adelia sambil tersenyum tipis.


Aini kembali mengangguk. Matanya kemudian beralih pada sesosok pria tinggi dengan wajah blasteran yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.


"Siapa pria itu, Nak?" tanya Aini.


Seolah tersadar bahwa dia hampir melupakan Alex, Adelia pun mengenalkan pria tersebut kepada seluruh keluarganya.


"Kenalkan, Pak, Bu, Mbak, Mas, ini Pak Alex, atasanku di kantor. Beliau kebetulan hendak keluar dan menawarkan diri untuk ikut menjemput," kata Adelia dengan nada hati-hati agar seluruh keluarganya tidak salah paham.


Alex pun berjalan mendekati mereka. Dengan penuh santun dia membungkukkan badannya sambil memperkenalkan diri.


"Salam kenal juga Pak Alex, mudah-mudahan putri saya tidak merepotkan Anda." Arwan menyambut uluran tangan Alex dengan ramah.


Alex tersenyum tipis. "Saya lah yang lebih banyak merepotkan Adel, Pak ... dan tolong, tidak perlu memanggil saya demikian. Cukup Alex saja," ujarnya.


"Baiklah, Nak Alex," ucap Arwan.


"Begitu lebih baik," kata Alex menyahuti. Suasana haru pun mendadak cair dengan adanya Alex yang ikut terlibat dalam perbincangan.


Akan tetapi, diam-diam Dinda berbisik pelan di telinga Adelia untuk berhati-hati, sebab biar bagaimana pun dia adalah seorang wanita bersuami.

__ADS_1


"Hanya orang bodoh yang tidak menyadari ketertarikan bosmu kepadamu, Del."


"Aku tahu, Mbak."


__ADS_2