
"Sayang, kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabariku dulu, biar bisa aku jemput." Intan menyambut hangat kedatangan Wisnu yang baru saja kembali dari luar kota. Wanita itu berusaha tidak memikirkan kejadian beberapa hari lalu yang dia hadapi, yaitu pertemuannya dengan Steve.
Sementara Wisnu tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Dia bahkan tidak begitu menghiraukan sambutan Intan dan memilih langsung pergi setelah menolak gelagat Intan yang hendak ingin menerima ciuman darinya.
"Aku lelah, mau langsung tidur," ucap Wisnu pelan.
Intan tentu saja terkejut dengan tindakan Wisnu. Namun, wanita itu enggan menanyakan hal lebih lanjut.
"Mas mandi dulu ya, tapi aku belum menyiapkan air hangatnya. Mas siapkan sendiri seperti biasa tidak apa-apa kan?" ujar Intan begitu mereka tiba di kamar.
Wisnu menghela napas. Tidak seperti Adelia, Intan memang tidak telaten mengurus dirinya dengan alasan mudah kelelahan karena sedang hamil. Padahal kalau dipikir-pikir dia tidak pernah melakukan tugas berat apa pun di rumah itu.
"Kamu tidak bisa menyiapkan air mandi untukku sekali saja?" tanya Wisnu sembari membuka kancing kemejanya di depan lemari pakaian mereka.
Mendengar perintah sang suami, Intan meringis kecil. "Maaf, Mas, aku lelah sekali. Aku bahkan seharian hanya tidur-tiduran saja karena tidak kuat bangun," jawabnya.
Wisnu berbalik menghadap Intan dan menatapnya datar. "Kamu sudah melewati trimester pertama, jadi seharusnya kamu bisa lebih leluasa bergerak, dan, bukan kah ibu hamil justru harus banyak beraktifitas? Minimal mengurusku yang sekarang adalah suamimu."
__ADS_1
Intan tampak canggung mendengar kalimat panjang lebar yang diutarakan Wisnu. Dia pun tersenyum kecil sambil memasang wajah memelas.
"A aku memang sudah melewati trimester pertama, tetapi dokter memintaku untuk banyak-banyak menjaga bayi kita. Maaf ya, aku jadi tidak maksimal mengurusmu?" ucap Intan yang kemudian merubah raut wajahnya agar terlihat sungguh-sungguh. "Ah, tapi aku berjanji akan menjadi istri dan ibu yang baik saat bayi kita lahir nanti!"
Wisnu tidak berkata apa-apa setelahnya. Dia hanya berbalik pergi setelah mengambil beberapa obar pakaian-pakaiannya dan membanting pintu kamar mandi.
Intan yang tersentak hanya bisa menatap pintu kamar mandi dengan pandangan kesal.
Wanita itu mana mau melakukan hal-hal demikian seperti yang dilakukan Adelia dulu. Kalau bukan karena bayi yang dikandungnya dan kekayaan keluarga Wisnu, dia bahkan enggan menikahi pria itu.
...***********...
Pelukan hangat langsung saja diberikan Aini pada sang putri tercinta yang baru tiba di rumah mereka setelah pergi selama tiga bulan.
Ini adalah kepulangan Adelia ke Jakarta untuk pertama kalinya, bersamaan dengan tugas dinas bersama Alex.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Adelia pun meminta izin Alex untuk pergi menemui keluarganya di sana. Tak hanya itu saja, Adelia juga berniat mengurus perceraiannya dengan Wisnu yang tidak bisa lagi dipertahankan.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Nak?" tanya Aini begitu mendengar niat sang putri bungsu.
Adelia tersenyum tipis. "Yakin sekali, Bu. Aku tidak ingin terkekang rasa sakit ini terus menerus. Ibu merestuinya, kan?" kata wanita itu lirih.
Aini dengan mata berkaca-kaca menganggukkan kepala. Wanita yang rambutnya mulai memutih tersebut membebaskan Adelia untuk mengambil keputusan meski pahit sekali pun.
"Ibu akan mendukung apa pun keputusanmu, Sayang," ujar Aini seraya mengelus lembut surai Adelia. Dalam hatinya dia merasa sangat sedih dengan masih malang pada rumah tangga sang putri bungsu karena harus hancur setelah sepuluh tahun dibangun dengan suka dan duka. Namun, beliau akan lebih bersedih bila Adelia masih bertahan dengan Wisnu yang otomatis tidak akan pernah membuatnya bahagia.
Maka, setelah memantapkan hatinya, Adelia dengan langkah tegap mendaftarkan perceraian mereka ke pengadilan agama tanpa menuntut apa pun atas apa yang mereka miliki selama berumah tangga. Sebab, yang diinginkannya hanya satu, yaitu pergi sejauh mungkin dari hidup Wisnu.
...**********...
Wisnu dengan tangan bergetar menerima surat panggilan sidang pertamanya di pagi hari yang mendung.
"Kenapa Adelia? Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?" Pria itu mencengkeram erat surat tersebut hingga tidak berbentuk lagi, dan melemparnya sembarang.
"KENAPAAAAAAAA!" Teriakan kemarahan pun terdengar nyaris di seluruh sudut rumah.
__ADS_1
Intan dan Ratna berusaha menenangkan emosi Wisnu.
Kendati demikian, Intan diam-diam merasa sangat senang dengan keputusan Adelia. Dia merasa tidak perlu lagi repot-repot membuang tenaga dan pikiran untuk menyingkirkan wanita itu dari hidup Wisnu.