
Suara barang-barang pecah terdengar lantang di kamar hotel tempat Wisnu menginap. Suasana kamar tersebut tampak sangat kacau balau. Bahkan, televisi milik hotel tak luput dari incarannya. Namun, Wisnu tidak peduli, sebab yang ada di pikirannya saat ini adalah Adelia.
"Pak, tolong, hentikan!" Laras, sekretarisnya yang baru saja bekerja dua minggu lalu, berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perbuatan Wisnu. Wanita muda itu sama sekali tidak menyangka, bahwa Wisnu memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini dilihatnya di kantor.
Laras tidak mengerti apa yang terjadi selepas pulang dari perusahaan calon koleganya, sebab dia diminta untuk mengurus hal lain terlebih dahulu di kantor cabang.
Wisnu mendudukkan dirinya di atas ranjang sembari mencengkeram erat kepalanya dengan raut frustrasi.
"Pak, Anda baik-baik saja?" tanya Laras dengan nada hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Wisnu.
Wisnu bungkam. Matanya menatap lantai kamar dengan tatapan kosong.
"Pak," panggil Laras sekali lagi sambil menyentuh lengan Wisnu.
'Apa yang dia lakukan di sini, dan bagaimana bisa dia bekerja di perusahaan tersebut?' Alih-alih menjawab panggilan Laras, Wisnu malah sibuk memikirkan segala kemungkinan tentang keberadaan Adelia.
Selama ini Adelia yang dia kenal merupakan wanita yang tidak berani mengambil resiko, terlebih sampai merantau ke kota orang. Jangankan merantau, berpergian jauh sebentar saja, mereka harus bersama.
__ADS_1
Belum lagi sifat wanita itu yang benar-benar berubah. Wisnu seperti tidak mengenali wanita yang telah dikenalnya selama belasan tahun.
Dalam hati, Wisnu meyakini satu hal bahwa yakin Adelia tidak mungkin memutuskan segalanya sendirian. Pasti ada seseorang yang menghasutnya untuk melepaskan diri. Namun, siapa? Keluarganyakah? Atau oramg terdekat lainnya?
Saat memikirkan hal tersebut, Wisnu tiba-tiba tersentak kaget, ketika mengingat satu orang lagi yang paling menyayangi Adelia selain keluarganya. Siapa lagi kalau bukan sang ayah, Hariadi.
Secepat kilat Wisnu berdiri dari posisinya dan berjalan pergi meninggalkan kamar. "Bereskan kekacauan ini, aku akan pergi sebentar!" serunya dingin tanpa menoleh sedikit pun ke arah Laras.
Laras mengangguk canggung. Saat ini dia tidak mungkin mengeluarkan sepatah kata pun selain menuruti perintah sang bos.
...**********...
Dengan perasaan membara Wisnu terus menginjak pedal gasnya dalam-dalam hingga sampai di depan rumah sang ayah.
"Wisnu, tumben sekali mampir ke rumah. Ada apa? Apa ada hal yang belum selesai? Semua sudah ayah berikan pada Laras?" Hariadi membukakan pintu rumah ketika mendapati sang anak datang ke sana.
Mengetahui raut wajah Wisnu, Hariadi sudah bisa menebak akan apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
Ya, tadi siang di kantor, Laras sudah memberitahu pria itu, jika Wisnu pergi menemui salah satu kolega mereka yang akan diajak bekerja sama, yaitu Alex.
Di sana Wisnu pasti sudah bertemu dengan Adelia, dan cepat atau lambat dia akan menemui dirinya seperti sekarang ini.
"Tidak perlu basa-basi Pa, Papa pasti tahu maksud kedatanganku ke sini!" seru Wisnu tajam.
Hariadi berusaha bersikap tenang dan tidak tahu apa-apa. "Apa maksudmu, Nak? Papa sama sekali tidak mengerti."
Wisnu mendecih sinis. Ditatapnya mata sang ayah dengan raut menyeramkan. Namun, Hariadi sama sekali tidak merespon.
"Papa, kan, yang sudah membawa Adelia kemari dan mempekerjakannya di perusahaan itu?" Tanpa berbasa-basi Wisnu langsung melancarkan sebuah pertanyaan pada Hariadi.
Hariadi mengerutkan keningnya. "Memangnya Adelia ke sini?" Aloh-alih menjawab, pria itu malah bertanya balik, yang malah membuat Wisnu naik pitam.
Wisnu yang kini benar-benar diliputi kemarahan mencoba mendesak sang ayah dengan mendekatinya. Namun, sang ayah malah mencengkeram kerah kemeja Wisnu. "Tidak perlu kurang ajar pada ayahmu sendiri, Wisnu. Papa selama ini diam bukan karena takut pada ibumu, hanya saja Papa tak ingin terjadi ribut-ribut di rumah dan mencoba menghormati beliau. Namun, semakin didiamkan, ibumu ternyata semakin bersikap kurang ajar, dan itu malah memperngaruhi dirimu!"
Wisnu terkejut dengan perubahan sikap ayahnya. Raut wajahnya yang semula keras kini berubah lunak.
__ADS_1
Ada apa ini? Mengapa dua orang yang terlihat sangat baik dan lemah di mata Wisnu, kini mulai menunjukkan taringnya?
Hariadi dengan kasar menghempaskan Wisnu, lalu kemudian berkata dengan tatapan tajam. "Ceraikan Adelia!"