Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 27. Ultrasonografi.


__ADS_3

Seluruh tubuh Adelia bergetar hebat ketika dengan jelas matanya menatap sesosok bayi mungil di layar monitor ultrasonografi. Bayi tak berdosa itu tumbuh sehat di rahim ibunya.


Dia adalah putra yang didamba-dambakan Wisnu. Putra yang seharusnya tumbuh di rahim Adelia, tapi tak kunjung datang.


Adelia tidak memungkiri perasaan iri hati yang timbul di hatinya. Mengapa dari sekian banyak wanita, dia lah salah satunya yang mengalami hal ini? Apa dosanya? Padahal selama ini Adelia tak pernah menyakiti orang lain. Namun, mengapa Tuhan dengan tega menimpakan cobaan atau balasan sedemikian berat.


Kenapa bukan Intan saja yang jelas-jelas berdosa karena telah menghancurkan hidup orang lain?


Astagfirullahaladzim! Ampuni pemikiranku, ya Allah! Batin Adelia seketika.


"Anak yang sehat dan ibunya juga sehat. Tetap minum vitamin yang saya berikan dan perbanyak makan makanan bergizi." Dokter Kusuma membuka suaranya.


"Baik, Dok," jawab Intan lembut. Wanita itu kemudian menatap Wisnu dan Adelia. "Bayi kita lucu, kan, Mas? Mbak?" tanya Intan.


Wisnu dengan sorot mata penuh keharuan menganggukkan kepalanya. Pria itu juga mencium lembut tangan Intan. Sementara Adelia hanya mampu melebarkan senyum tipisnya selama dua detik.


"Maaf, omong-omong, Anda siapanya Nyonya Kencana?" tanya sang dokter.


Aku? Aku adalah Nyonya Kencana yang asli! Batin Adelia marah, ketika ada orang lain yang menyebut Intan demikian. Namun, dia tak berani mengutarakannya.


"Dia i—"


"Saya kakaknya Intan, Dok." Belum sempat Intan menjawab, Adelia sudah mendahului.

__ADS_1


Mendengar itu, Dokter Kusuma hanya mengangguk-anggukkan kepala.


Selesai melakukan pemeriksaan, Intan pun turun dari ranjang dan duduk bersama Wisnu di hadapan sang dokter. Mereka berbincang singkat dengan beliau tentang bagaimana kelahiran nanti, hingga Intan tiba-tiba mengangkat masalah soal kesuburan.


"Jadi, faktor apa yang membuat wanita tidak bisa hamil, padahal dia sudah menikah lama dan juga sudah melakukan pengobatan, Dok?"


Mendengar itu, Adelia tercekat, begitu pula dengan Wisnu.


Dokter Kusuma tampak berpikir. "Ada banyak hal. Bisa jadi pengobatannya belum tuntas atau kembali kambuh," jawab pria paruh baya itu kemudian.


"Ah, begitu rupanya."


"Kalau boleh tahu, siapa memangnya yang sedang Anda bicarakan ini?" tanya Dokter Kusuma penasaran.


"Kalau memang membutuhkan second opinion, Nyonya bisa rekomendasikan beliau kepada saya," kata Dokter Kusuma ramah.


"Baik, Dok." Intan menganggukkan kepalanya.


"Ahh, jangan lupa suaminya juga dibawa," sambung beliau.


Intan, Wisnu, dan Adelia menatap sang dokter serempak.


"Ya, karena faktor kesuburan tidak hanya dilihat dari pihak istri saja, melainkan juga pihak suami. Banyak kasus yang awalnya mengira istrinya yang tidak subur, tapi ternyata salah."

__ADS_1


Mimik wajah Intan sedikit berubah. "Tapi kerabat saya ini dijamin subur Dok, soalnya dia duda beranak satu," kilah wanita itu.


"Ah, tidak apa-apa, tetap bawa saja suaminya supaya bisa diberi pengertian kalau memang sang istri tidak baik-baik saja, agar tidak menimbulkan perselisihan atau hal-hal semacamnya." Jawab Dokter Kusuma lagi


Adelia menghela napas berat. Ketiganya pun pamit undur diri dari sana.


Saat sedang berjalan menuju lantai satu untuk menebus obat, sekaligus pulang, Intan pamit ke kamar kecil dan menyuruh Wisnu untuk pergi ke bagian farmasi lebih dulu.


Adelia pun mengikuti. Saat langkah mereka sama, wanita itu mengaitkan tangannya ke jari-jari Wisnu.


"Biarkan seperti ini Mas, aku ingin merasakan kehangatan jarimu lagi," ucap Adelia lirih.


Wisnu mengangguk. Entah apa yang dipikirkannya, dia malah mengeratkan genggaman tangan Adelia.


Bersama keduanya berjalan dan duduk di kursi tunggu.


"Melihatmu begitu bahagia dan terharu, membuatku sadar akan posisiku di sini, Mas," ucap Adelia tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" tanya Wisnu.


Adelia menggeleng lalu tersenyum. "Bukan apa-apa, aku hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih saja. Jangan tanyakan alasannya," sergah Adelia tatkala Wisnu hendak membuka suara kembali.


Wanita itu terus menggenggam tangan Wisnu sampai Intan muncul kembali di hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2