
"Cih, pelit sekali dia, begitu saja pakai tanya-tanya segala!" Suara Mona terdengar sangat jengkel di telinga Intan. Keduanya kini tengah berkomunikasi melalui panggilan telepon. Intan sengaja memberitahu Mona agar untuk sementara tidak melakukan sesuatu yang dapat membuat Wisnu marah.
Mona tentu saja tersinggung dengan hal tersebut. Namun, mau tidak mau ia harus menuruti perkataan Intan dan tidak bisa berbuat apa-apa demi tujuan bersama.
Hari demi hari terus berlalu. Kehamilan Intan kini sudah memasuki minggu ke-tiga puluh. Wisnu dan Ratna tampak semakin memerhatikan wanita itu. Semua hal yang Intan inginkan selalu dituruti oleh Wisnu. Intan tak ubahnya seperti seorang putri di istana yang megah.
Hal tersebut tentu berbanding terbalik dengan Adelia, yang tetap diperlakukan semena-mena oleh kedua wanita tersebut. Intan bahkan sudah mulai terang-terangan bersikap jahat padanya. Ketidakhadiran Wisnu dan sang mertua, Hariadi, memungkinkan Intan untuk menyiksa Adelia dengan leluasa. Apa lagi Hariadi yang memang sering keluar kota untuk mengurus kantor cabang.
"Mas, aku masih istrimu, kan?" tanya Adelia saat menghampiri Wisnu di ruang kerjanya. Wanita itu ternyata sedang membahas sikap Wisnu yang kurang adil pada kedua istrinya. Pria itu bahkan baru dua kali tidur di kamar Adelia dan tak pernah kembali.
Wisnu yang sibuk menatap laptopnya hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Kalau begitu, mengapa kini aku tampak tidak terlihat di matamu, Mas?" tanya Adelia lagi.
Wisnu mengangkat wajahnya dan memandang Adelia datar. Sorot kekecewaan jelas terlintas di mata wanita itu.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar, Del. Kamu tahu sejak awal, bahwa semua perhatianku saat ini akan tercurahkan pada Intan karena semata-mata dia sedang hamil," ucap Wisnu.
"Aku tahu, aku sangat tahu. Namun, apa tidak bisa kamu sedikit saja berpaling dan melihat aku? Aku butuh bahumu untuk bersandar Mas!" balas Adelia. "Kamu bisa bilang begini dengan alasan kehamilan Intan, nanti saat bayi itu lahir, kamu pasti akan memberi alasan bahwa anakmu butuh perhatian. Lalu, bagaimana denganku?" sambungnya lirih.
Wisnu berdiri dari kursinya. "Jangan seperti anak kecil, Del. Usiamu jauh lebih tua dari Intan, jadi seharusnya kamu bisa menempatkan diri sebagai orang yang dituakan."
__ADS_1
"Tapi Intan tak pernah mengganggapku demikian! Dia tak pernah benar-benar menghormatiku, Mas!" Suasana di dalam ruangan kantor Wisnu sempat hening sejenak. "Oke, aku tidak perlu itu, yang kuperlukan hanyalah dirimu, suamiku."
Wisnu sontak mengerutkan keningnya. Sejujurnya pria itu cukup terkejut dengan perdebatan mereka. Pasalnya, Adelia bukan wanita yang berani melakukan hal demikian.
"Kamu tidak biasanya seperti ini, Del. Apa yang membuatmu bisa bersikap begini? Apa Mbak Dinda mempengaruhimu?" tanya Wisnu dengan tatapan sengit.
"Jangan bawa-bawa keluargaku, Mas. Mereka bahkan tidak tahu aku diperlakukan sebagai apa di rumah ini!"
Mendengar nada tinggi yang terlontar dari mulut Adelia, Wisnu malah jadi tersinggung. Ia pun bergegas mendorong Adelia keluar dari ruangannya dan melarang wanita tersebut untuk tidak mengganggu.
Adelia sempat menolak diusir, hingga Ratna dan Intan yang sudah beristirahat di kamar masing-masing, keluar dan pergi menuju sumber suara.
Melihat Adelia yang seperti sedang mengganggu Wisnu, Ratna sontak naik pitam. Ia menghardik wanita itu dan memintanya untuk pergi.
"Cih, masih berani kamu mengganggap dirimu sebagai istri, padahal kamu tidak bisa berperan sebagai seorang istri yang semestinya! Intan lah yang pantas menyandang istri dari Wisnu, karena di rahimnya kini tumbuh seorang pewaris keluarga Kencana!"
Intan yang berada di sana tidak berkata apa-apa. Ia hanya sibuk menenangkan Wisnu yang sebenarnya terlihat menyesal karena telah membuat Adelia kembali bersinggungan dengan Ratna. Namun, mengingat perkataan Adelia tadi, membuat Wisnu enggan membantu wanita itu.
Adelia masih berusaha membela diri di hadapan mereka, tetapi itu malah membuat Ratna semakin naik pitam. Saat Ratna —yang sudah dikuasai emosi— hendak menamparnya, Hariadi tiba-tiba muncul. Pria yang baru saja tiba di rumah itu dengan keras membentak sang istri.
"Sudah kubilang padamu untuk tidak menyentuh Adelia!" seru Hariadi. Entah mengapa, pria yang semula lebih banyak mengalah kini tampak siap memasang badan untuk sang menantu.
__ADS_1
Mendapat kemarahan sedemikian rupa, Ratna panik. Meski Hariadi terlihat lebih banyak mengalah, sebenarnya ia adalah pria yang cukup menyeramkan.
"Pap Papa sudah pulang? Kenapa tidak menelepon Mama, Pa, biar Mama jemput?" katanya seraya menghampiri sang suami.
"Supaya aku tidak bisa melihat kejadian ini ya? Aku bahkan baru tahu soal CCTV yang hampir setengahnya dimatikan atas permintaan Intan," ujar Hariadi. Kesibukannya mengurus kantor cabang membuat pria itu jarang di rumah. Ia memang sering pulang ke rumah, tetapi saat pulang ke rumah suasana tampak biasa-biasa saja.
Intan mendadak kikuk. Ia hendak mengatakan alasan, tetapi Wisnu keburu buka suara. "Aku lah yang menyetujuinya, Pa. Kurasa hal tersebut benar, karena kita juga butuh privasi, terlebih Intan yang sedang hamil."
Hariadi tersenyum tipis. Di saat seperti ini putranya masih saja membela Intan dari pada Adelia. Dalam hati ia merasa sangat malu dengan kelakuan Wisnu.
"Papa harap, kamu tidak akan menyesal, Wisnu!" Setelah berkata demikian, Hariadi membantu Adelia menuju kamar wanita itu.
Melihat kepedulian sang suami, Ratna berteriak keras. Namun, Hariadi tidak peduli.
"Terima kasih, Pa," ucap Adelia, ketika mereka telah tiba di depan kamar.
Hariadi menganggukkan kepalanya. "Beristirahat lah. Besok pagi Papa ingin membicarakan sesuatu padamu," ucap Hariadi.
"Apa itu Pa?" tanya Adelia penasaran.
"Nanti saja."
__ADS_1
Adelia kembali mengangguk lalu permisi undur diri untuk masuk ke dalam kamarnya.
Hariadi masih terdiam beberapa saat di depan kamar Adelia, sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut.