Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 50. Kemarahan Wisnu dan penantian Alex.


__ADS_3

Berbanding terbalik dengan keadaan Adelia, Wisnu terlihat sangat frustrasi. Keributan di antara dirinya dan Intan pun akhirnya pecah, setelah Wisnu dengan kasar menuding Intan sebagai penyebab dari perpisahannya dengan Adelia.


"Yang benar saja Mas! Kenapa kamu malah nyalahin aku? Aku juga korban di sini!" teriak Intan tak terima.


Wisnu menatap Intan penuh amarah. "Korban kamu bilang? Korban di sini adalah Adelia! Sebab, karena kehadiran kamu lah, aku bercerai darinya!"


"Hei, kamu nggak salah ngomong, Mas? Yang deketin aku itu, kamu! Yang lebih dulu ngajakin aku itu, ya kamu! Aku hamil itu gara-gara kamu!" Intan menunjuk wajah Wisnu yang berdiri tepat di hadapannya. Dia sama sekali tidak gentar dengan tatapan keji pria itu.


"Arghh!" Wisnu mengambil salah satu vas bunga dan membantingnya ke lantai.


Intan yang terkejut lantas berteriak ketakutan. Para penghuni rumah terbangun, tetapi tidak berani mendekati kamar majikan mereka.


Ratna yang ikut terbangun dari tidurnya tak bisa berbuat banyak, sebab Hariadi yang sedang berada di rumah, melarang wanita itu untuk melangkah se-mili pun dari sana.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri!" ujar Hariadi dingin.


"Tapi, Pa, Intan sedang hamil!"


Hariadi hanya terdiam sambil menatap sinis Ratna selama beberapa saat, sebelum akhirnya kembali merebahkan diri di atas ranjang. Ratna yang ketakutan memilih untuk ikut merebahkan diri di sebelah sang suami.


...***********...

__ADS_1


Keesokan paginya, Wisnu memilih pergi meninggalkan rumah sambil membawa sebuah koper. Pria itu berniat tinggal di salah satu apartemen miliknya selama beberapa hari untuk menangkan diri. Dia menolak keras bujukan sang ibu dan Intan yang berusaha memohon untuk tetap di sini.


"Mas, jangan pergi. Kamu nggak kasihan sama aku dan bayi kita? Please, jangan pergi!" desak Intan sambil beruraian air mata. Di sebelahnya, Ratna juga turut meminta pada sang putra untuk tetap di rumah dan berpikir dengan kepala dingin.


"Aku hanya akan pergi selama beberapa hari saja. Aku tidak bisa berpikir jernih bila tetap berada di sini!" jawab Wisnu kepada sang ibu tanpa memerdulikan keberadaan istrinya.


Intan yang sedang memegang erat tangan Wisnu, akhirnya terpaksa melepaskan pria itu, ketika Ratna dengan lembut merangkul pundaknya seolah memberi untuk merelakan sang suami sementara waktu.


Intan mengalah. Sambil menangis dia pun hanya bisa berdiri seraya memandangi kepergian suaminya.


...**********...


Tiga hari kemudian.


Alih-alih menenangkan diri, Adelia justru merasa seperti dia lah yang sedang menemani Alex berlibur guna menenangkan pikirannya dari berbagai pekerjaan di kantor. Namun, dia juga tidak bisa memungkiri perasaan senang, karena tidak merasa kesepian.


"Sama-sama, Del," jawab Alex kalem.


"Lain kali saya harap Bapak tidak berlaku seperti ini lagi. Liburan saya yang seharusnya tenang jadi buyar gara-gara Bapak!" keluh Adelia tanpa memerdulikan waut wajah kesal yang kini hadir di wajah tampan sang bos.


"Loh, jadi aku tidak membawa ketenangan? Padahal niatku ke sana untuk menenangkan dirimu."

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Adelia mendengkus kesal. Bisa-bisanya pria itu bergurau di saat seperti ini, dan sejak kapan dia jadi pandai bergurau dan menyahuti setiap perkataannya. Ke mana Alex yang dingin seperti yang dia temui pertama kali.


"Anda benar-benar berubah," celetuk Adelia tiba-tiba.


Alex mengerutkan kening. "Berubah? Apanya?"


Adelia menatap Alex dengan pandangan yang cukup intens. "Saat pertama kali saya bertemu Anda, saya merasa Anda cukup sulit didekati. Beberapa karyawan juga mengatakan bahwa Anda adalah pria yang dingin dan cukup menakutkan. Namun, pada kenyataannya, Anda tidak semenakutkan itu."


Sepersekian detik, pupil mata Alex bereaksi. Dalam hati dia mempertanyakan pada dirinya sendiri, apakah sikapnya setransparan itu.


Dia harap, Adelia tidak menyadari bahwa perubahan yang terjadi pada dirinya adalah berkat kemunculan wanita itu sendiri.


"Itu hanya perasaanmu saja," jawab Alex sembari berdeham.


Adelia mengerutkan keningnya. "Iya kah?"


"Iya!" sahut Alex jengkel. "Ya sudah, masuk lah. Besok kamu sudah harus bekerja lagi seperti biasa. Ingat, siapkan berkas yang aku minta besok!"


Adelia memiringkan bibirnya sedikit. Alex benar-benar pria yang pandai menghancurkan mood-nya. "Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Hati-hati di jalan." Wanita itu pun keluar dari mobil Alex dan pergi menuju pintu pagar. Di sana, dia menunggu Alex pergi.


Alex menggerakkan mobilnya meninggalkan kediaman Adelia. Sesekali pria itu menatap kaca spion tengah untuk melihat pantulan Adelia yang masih setia berdiri di sana, menunggu hingga mobilnya benar-benar menghilang.

__ADS_1


Tangan kanan Alex terangkat menuju dadanya, kala perasaan berdebar itu datang kembali. Perasaan yang hingga saat ini berusaha tidak dia perlihatkan ke permukaan, agar Adelia tidak merasa risih dan menjauhinya.


"Aku akan menunggu sampai masa iddahmu selesai," gumam Alex yang telah menetapkan hatinya.


__ADS_2