Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 6 (Season 2): Peringatan.


__ADS_3

Steve dengan wajah datar kembali memeriksa ponselnya untuk kesekian kali. Namun, hasilnya nihil. Harapannya mendengar kabar dari wanita yang dia benci tak kunjung tiba.


Steve memang membenci Intan, wanita yang telah mempermainkannya. Steve bahkan tidak menginginkan anak dalam kandungan Intan dan dia juga lah yang telah menghancurkan semua. Namun, sebagai manusia biasa, hatinya tentu saja tergelitik untuk mengetahui nasib mereka.


Butuh waktu bagi Steve untuk menenangkan diri dengan melupakan sosok Intan. Namun, tidak dengan darah dagingnya sendiri. Bukannya lupa, Steve justru malah semakin mengingatnya. Itu lah mengapa, sejak kembali ke rumah, dia berusaha mencari keberadaan wanita itu.


Ingatannya pun kembali mengingat bagaimana usahanya mencari Intan.


Seorang wanita paruh baya menggelengkan kepalanya, saat Steve menunjukkan foto Intan. Dari kabar yang dia dengar, Intan tinggal di wilayah ini selama beberapa waktu, setelah Attan masuk penjara.


"Dulu dia memang tinggal di sini, tetapi hanya sebentar. Padahal saya dan beberapa tetangga memintanya untuk tinggal karena sedang hamil tua. Namun, wanita itu tidak mau."


"Dengan siapa dia tinggal?" tanya Steve pada si wanita paruh baya tersebut.


"Seorang diri. Saya tidak berani menanyakan soal suami atau keluarganya yang lain."


Steve terdiam mendengar hal tersebut. Dia pun berterima kasih pada si wanita dan pamit pergi. Pria itu berdiri di depan mobilnya seraya menatap foto Intan.


"Hei!" Tepukan keras yang dilayangkan Alex seketika menyadarkan lamunan Steve. Pria itu mengumpat kecil sembari membenarkan posisi duduknya.


"Apa yang sedang kau pikirkan sampai mengabaikan panggilanku?" tanya Alex yang baru saja pulang ke rumah. Dari wajahnya, pria itu seperti sedang merasa senang.


Steve mengerutkan kening. "Wajahmu cerah sekali? Bertemu dengan Carla?" tanya Steve tanpa menjawab pertanyaan Alex.


Alex mencibir lalu menenggak minuman dingin yang baru diambilnya dari kulkas. "Omong-omong, apa yang kau katakan pada Adelia? Mengapa dia tahu kalau Carla adalah mantanku?" ujar Alex kemudian.

__ADS_1


"Pertanyaan apa itu? Tak perlu kujawab, kau pun sudah paham. Aku hanya merasa perlu memberitahukan semuanya pada Adelia. Tidak masalah kan? Dari wajahmu sepertinya tidak."


Alex tidak menjawab perkataan Steve dan memilih duduk di samping pria itu. Diam-diam dia mengerling ke arah ponsel Steve yang diletakkan di atas meja.


"Masih mencari?" tanya Alex.


Steve terdiam. Sebagai seorang adik, apa lagi mereka tinggal bersama, dia tentu tidak bisa menyembunyikan hal tersebut darinya. Hanya saja Steve meminta agar Alex tidak mengatakan apa pun pada Adelia agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan mereka?" Alex kembali membuka suaranya.


Embusan napas keluar dari mulut Steve. "Tidak tahu. Aku ... hanya ingin perasaan tak nyaman ini. Mungkin saja dengan melihat mereka perasaan ini terasa lebih ringan."


Suasana hening pun tercipta. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


...**********...


Acara besar ini tentu membutuhkan persiapan sematang mungkin, oleh sebab itu, Alex meminta Adelia untuk turun tangan langsung mengawasi persiapan.


Wanita itu dengan telaten mengecek aula besar tersebut. Mulai dari layar, mimbar, kursi tamu, sampai makanan yang akan mereka suguhkan nanti.


"Baik, Bu!" jawab Denis, salah seorang office boy yang ikut membantu di sana.


Saat Adelia sedang sibuk-sibuknya, seorang wanita tiba-tiba mencolek pundaknya dari belakang.


Adelia berbalik dan terkejut, kala mendapati Carla berdiri di hadapannya dengan senyuman tipis seraya bersedekap.

__ADS_1


"Kamu sekretaris Alex, kan? Adelia?" kata Carla.


Adelia mengernyitkan keningnya. Kemarin kan mereka sudah kenalan, kenapa harus tanya lagi.


"Ya, benar. Ada apa, Nona?" tanya wanita itu sesopan mungkin. "Omong-omong, Pak Alex belum datang, Nona, dan bagaimana Anda bisa masuk ke sini?" sambungnya.


"Aku bukan ingin bertemu dengan Alex, dan siapa yang berani menentangku datang ke sini."


Begitu mendengar Carla berkata demikian, Adelia sontak mengerling pada dua orang security yang diminta berjaga di depan pintu aula. Dua orang security tersebut hanya bisa meringis sambil meminta maaf.


Adelia pun mengajak Carla menuju ruangan lain.


"Ada apa, No—"


"Jauhi Alex!"


Adelia mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat mendengar perkataan Carla tiba-tiba.


"Maaf," ujar Adelia.


"Jauhi dia! Aku tahu, hubungan kamu dan Alex bukan hanya sekadar atasan dan bawahan, kan? Alex itu kekasihku dulu. Kami berpisah tanpa konflik, jadi ada kemungkinan kami akan kembali bersama."


Adelia terdiam sesaat lalu tersenyum tipis. "Saya sama sekali tidak tahu apa yang telah Anda dengar, atau Anda simpulkan tentang kami berdua, yang jelas hubungan kami memang hanya sebatas antara atasan dan bawahan, Nona. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot memberi saya peringatan."


Carla mengerling, menatap Adelia dengan senyum manis nan menyebalkan. "Baguslah kalau begitu. Jadi, aku tidak perlu khawatir tentang kalian berdua, kan?" tanya Carla.

__ADS_1


Adelia berusaha mempertahankan senyumnya yang kali ini terasa sangat hambar. "Ya, tentu saja."


Carla mengangkat bahunya, lalu pergi meninggalkan Adelia tanpa sepatah kata pun lagi. Sementara Adelia hanya bisa memandang punggung terbuka Carla dengan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2