
Butuh dua hari bagi Adelia untuk mengembalikan keceriaan di wajahnya setelah menangisi kehidupan pahit yang pernah dia sambangi. Kini Adelia bertekad untuk menjalani kehidupan baru dengan lebih bahagia, meski harus menyandang predikat janda.
Alex yang memahami masalah Adelia menyuruh wanita itu untuk mengambil cuti lebih lama.
Untuk kali ini Adelia tidak menolak, sebab dia juga membutuhkan waktu untuk sekadar me-refresh otaknya. Alhasil, dia memilih berlibur ke pantai yang berada di luar kota seorang diri.
Aroma pantai yang menenangkan dihirup Adelia dalam-dalam begitu sampai di tempat tersebut.
Pantai yang dia datangi bukan lah pantai wisata yang ramai oleh pengunjung. Hanya ada beberapa wisatawan lokal saja yang memilih berlibur di sana karena pantai tersebut sedikit tersembunyi.
Tak jauh dari pantai, berdiri puluhan bangunan kecil yang menyerupai rumah panggung. Itu adalah kamar penginapan untuk para wisatawan yang datang berkunjung dan hendak menginap.
Setelah mendapatkan kunci kamar, Adelia pun mulai menaiki undakan-undakan kayu untuk menghampiri salah satu bangunan yang terletak di paling sudut. Bangunan tersebut tak ubahnya seperti apartemen studio, kecil dengan berbagai fasilitas yang cukup mumpuni.
"Indahnya!" gumam Adelia saat membuka jendela kamarnya yang langsung menghadap ke laut. Setelah puas memeriksa dan merapikan kopernya, dia pun membersihkan diri.
Dering ponsel berbunyi sesaat setelah wanita itu berganti pakaian.
"Kamu sudah sampai?" ujar Alex tanpa basa-basi begitu Adelia mengangkat sambungan teleponnya.
"Sudah Pak, baru saja. Ada apa Pak? Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor?" tanya Adelia cemas.
"Tidak ada!" jawab Alex singkat.
"Lalu?" tanya Adelia lagi.
__ADS_1
Alex tidak langsung menjawab. "Buka pintu kamar penginapanmu!"
Mendengar perkataan Alex, Adelia sontak mengerutkan keningnya. "Maksud Bapak?" tanya wanita itu tidak mengerti.
"Buka saja dan keluar!" titah Alex yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Adelia yang kebingungan dengan perkataan aneh sang atasan, akhirnya memilih menurut saja. Dia pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Setelah berdiri di ambang pintu dan menoleh ke arah kiri, matanya menangkap sosok Alex yang berdiri tepat di kamar penginapan di sebelahnya.
"Bapak ngapain ke sini? Menguntit saya ya!" tuding Adelia dengan mata melotot.
Alex tersentak. "Jangan sembarangan! Aku juga butuh liburan dan kebetulan aku juga ingin ke sini saat kamu meminta izin cuti berlibur!"
Adelia tanpa repot-repot mengendurkan raut wajahnya berjalan mendekati Alex. "Bapak tidak bisa berbohong! Bapak menguntit saya, kan?"
Mendapat tatapan intimidasi dari wanita itu, Alex akhirnya mengalah. Sembari terus mempertahankan raut dinginnya, pria itu pun berkata, "aku hanya takut, kamu putus asa dan memilih bvnuh dirri. Maka dari itu, demi mencegah sesuatu hal buruk terjadi padamu, lebih baik aku ikut mengawasi."
"Buat apa saya melakukan hal seperti itu, Pak! Justru saya merasa sangat bebas dan bahagia. Bapak sendiri kan, sudah saya kasih tau kalau cuti ini saya ambil selain untuk menenangkan diri, juga untuk merayakan status baru saya."
Wajah Alex memerah, tatkala Adelia menjelaskan panjang lebar soal itu. Ya, alasan yang baru saja terlontar dari mulut Alex memang terbilang konyol. Namun, dia tidak mungkin berkata yang sesungguhnya, yaitu mengkhawatirkan kondisi Adelia.
"Ya sudah Bapak lebih baik pulang saja. Saya di sini tidak akan lama. Lagi pula ada banyak pekerjaan yang tertunda nantinya, kan?" kata Adelia kemudian.
"Tidak bisa. Aku baru saja menyogok pemilik kamar ini dengan bayaran mahal agar bisa bertukar. Jadi, aku akan ikut merayakan statusmu itu."
Adelia membelalakkan matanya. Yang benar saja, masa dia mau merayakan status janda dengan seorang pria lajang di pantai. Aneh dan kurang ajar sekali kedengarannya.
__ADS_1
Adelia baru saja hendak membantah, tetapi Alex malah melipir masuk ke dalam penginapannya tanpa berkata sepatah kata pun pada Adelia.
"Pak! Pak!" teriak Adelia. Wanita itu mendengkus kesal kala pintu kamar penginapan Alex tertutup keras.
"Ada apa dengan pria itu!" batinnya jengkel.
...**********...
Angan-angan Adelia untuk menikmati segalanya seorang diri benar-benar harus kandas. Sebab, saat ini dia malah bersama dengan Alex yang sejak tadi fokus menghabiskan makan malamnya.
Mereka kini tengah makan malam bersama di salah satu restoran pinggir pantai dalam keadaan tenang tanpa bicara. Hanya ada suara deburan ombak dan live music yang tidak terlalu bisa didengar.
"Bapak benar-benar tidak ingin pulang?" tanya Adelia tanpa repot-repot menyembunyikan perasaan kesalnya.
"Tidak!" jawab Alex datar tanpa mengalihkan pandangannya pada makanan yang dia miliki.
"Pekerjaan di kantor bagaimana? Terus Bapak Steve bagaimana?" tanya Adelia.
Alex mengangkat kepalanya. "Kamu tidak perlu memikirkan masalah tersebut. Nikmati saja liburan ini tanpa banyak bertanya soal kantor."
Mendengar itu, Adelia jadi semakin kesal.
"Bagaimana saya bisa tenang tanpa memikirkan hal itu kalau Bapak sendiri ada di sini!"
Alex yang baru saja hendak memasukkan makanannya kembali ke dalam mulut, malah meletakkan sendoknya. "Semua sudah aman terkendali. Aku meminta orang lain untuk menggantiku sementara. Puas!"
__ADS_1
Adelia tentu saja menggelengkan kepala, sebab itu berarti dia melalaikan tugasnya. Entahlah, Adelia merasa tak enak hati karena sejak kehadiran dirinya, Alex jadi terlihat kurang disiplin. Pria itu juga tidak lagi bersikap dingin (untuk yang satu ini Adelia boleh dibilang mensyukurinya).
Keduanya pun sempat berdebat, sebelum akhirnya Adelia memutuskan untuk mengalah dan membiarkan pria itu menemaninya.