
"Ck, kakak siiaalan, uang tabunganku hampir habis dan aku tidak memiliki kartu kredit untuk digunakan!" Steve menyimpan kembali kartu atm-nya ke dalam dompet, sebelum keluar dari bilik ATM.
Dengan langkah gontai Steve berjalan menuju unit apartemen mewah yang selama ini jarang sekali dia tinggali.
Maklum saja, sebab apartemen tersebut bukanlah apartemen miliknya. Sang kakak lah yang memberikan pria itu salah satu unit apartemen mewah miliknya, setelah mengetahui Steve akan melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja di luar kota. Sebab Steve memang tidak berminat meneruskan perusahaan keluarga mereka.
Akan tetapi, alih-alih kuliah atau pun bekerja, Steve justru memilih hidup serampangan tidak tahu arah. Semua uang yang dikirimkan sang kakak lebih banyak dihabiskan di klub malam untuk bersenang-senang. Dia bahkan lebih sefing tidur di luar apartemen dan numpang sana-sini seperti gelandangan.
Tidak ada satu pun orang yang tahu, bahwa Steve adalah anak bungsu dari keluarga Jefferson, pengusaha di bidang ekspor import sukses di salah satu kota besar.
Pada akhirnya, hidup Steve yang berantakan membawa pria itu kepada seorang wanita muda nan cantik jelita. Wanita yang sebenarnya sempat dia cintai setulus hati, sebelum akhirnya sebuah fakta kelam terkuak, bahwa wanita tersebut merupakan simpanan dari pimpinan perusahaan tersukses di ibu kota.
Steve yang sakit hati memilih untuk memanfaatkan sang wanita demi menghabiskan uangnya. Namun, masalah timbul ketika tiba-tiba wanita itu diketahui hamil.
Steve tentu saja menolak bertanggung jawab, meski si wanita tidak meminta. Namun, dia tidak menampik kenyataan bahwa anak dalam kandungan si wanita adalah darah dagingnya.
Hal tersebut tentu saja berbanding terbalik dengan pernyataan si wanita yang malah menampiknya keras. Dengan penuh keyakinan dia berkata bahwa anak ini merupakan hasil hubungannya dengan si pria beristri.
Tawa kecil meluncur dari mulut Steve setiap kali mengingat perkataan wanita tersebut.
"Dia adalah anakku. Kamu tidak bisa menafikkan kenyataan tersebut, Intan!"
"Bukan! Dia bukan anakmu, Pria siaaall!"
__ADS_1
"Cih, lalu menurutmu, bayi itu milik siapa? Apa milik pria beristri yang telah memacarimu selama hampir dua tahun itu? Hahaha, jangan bermimpi Intan!"
"Brengsek! Diam kau!"
"Ingat Intan, meski aku tidak menyukainya, tetapi aku tidak akan memungkiri darah yang mengalir di tubuhnya!"
"Diam! Diam!"
"Kau sendiri yang bilang kalau—"
"Diaaaaam!"
Tawa kecil meluncur dari bibir Steve tiap kali mengingat percakapannya dengan sang wanita.
Entah keberuntungan atau bukan, wanita yang baru saja dipikirkannya tiba-tiba muncul tepat di depan mata pria itu.
Intan dengan perut buncitnya keluar dari lift bersama Mona.
Melihat sosok Steve, Intan tampak terguncang. Wajahnya seketika itu juga berubah pias, seolah tak ada darah yang mengalir di sana.
"Intan, kamu kah itu?" tanya Steve sembari berjalan mendekat.
Intan refleks mundur.
__ADS_1
Mona bergegas memasang badan untuk melindungi keponakannya tersebut.
"Hei, mau apa kau? Kenapa kau bisa berada di sini, Steve? Apartemen ini bukan tempat sembarangan yang bisa dimasuki oleh orang miskin seperti dirimu!" pekik Mona sembari mendorong tubuh Steve menjauh.
Steve melempar senyum menyebalkan pada Mona. "Aunty sendiri kenapa bisa berada di sini? Wow, tampaknya hidup kalian benar-benar sudah berubah ya? Aku jadi penasaran siapa pria beruntung yang telah menjadikannya ratu," ujar Steve sambil melirik Intan.
Mona melotot tak suka. Jari telunjuknya pun teracung ke wajah Steve. "Jaga bicaramu, Steve! Dari pada hanya mengacau, lebih baik kau pergi dari sini! Aku tahu, kau memata-matai kami sampai kemari, kan?" tuding Mona. Tanpa menunggu jawaban Steve, wanita itu segera memanggil security.
"Pak, tolong singkirkan orang ini! Bagaimana keamanan apartemen ini, sampai seorang gelandangan saja bisa leluasa masuk!" maki Mona pada kedua orang security yang baru tiba di sana.
Mendengar perkataan Mona, kedua security tersebut tentu saja bingung. "Siapa yang Ibu maksud dengan gelandangan?" tanya salah seorang security.
Mona tanpa segan menunjuk wajah Steve. "Dia lah, siapa lagi! Lihat saja penampilan urakannya!"
Dua security tersebut sontak terkejut. Mereka hendak mengeluarkan suaranya untuk membantah, tetapi Steve diam-diam memberi mereka kode untuk tetap bungkam.
"Baiklah, aku akan pergi dari sini. Semoga kalian bisa terus hidup tenang!" ucapnya sembari berlalu menuju keluar lobi apartemen.
Begitu Steve menghilang dari pandangannya, Intan lantas bersandar di dinding apartemen.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Mona khawatir.
"Tante, kenapa dia selalu saja muncul? Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi, Tante, aku tidak ingin!" pekik Intan ketakutan.
__ADS_1
Mona segera memeluk Intan demi menenangkan hati wanita hamil tersebut.