
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak," ucap Adelia dengan penuh hormat kepada Alex. Adelia dan Alex kini berada di ambang pintu apartemen guna mengantar kepergian Alex.
Tak hanya berterima kasih soal tumpangan saja, Adelia juga berterima kasih atas semua makanan yang telah dipesan Alex di salah satu restoran mewah langganannya.
Adelia sebenarnya sudah menolak keras pemberin tersebut, tetapi Alex memaksa. Adelia yang tidak ingin ada perdebatan di tengah-tengah kehadiran keluarganya memutuskan untuk menerima, meski dengan berat hati.
"Saya juga sangat berterima kasih atas pemberian Bapak. Namun, saya berharap agar ke depannya Anda tidak melakukan hal seperti ini lagi, Pak, karena sejujurnya saya merasa tidak enak hati menerimanya," ucap Adelia jujur.
Alex mengangguk. "Saya tidak bisa berjanji, tetapi saya akan mengingat baik-baik perkataanmu barusan."
Setelah berkata demikian, Alex pun berpamitan. Adelia masih tetap berada di pintu sampai pria itu menghilang dari hadapannya.
"Bunda!" Tiwi dengan lincahnya berlari menuju Adelia. Sejak tiba di sana, gadis itu memang selalu berlari ke sana kemari karena penasaran dengan apartemen megah Adelia.
"Tiwi, jangan lari-lari dong! Nanti kalau ada barang-barang Bunda yang jatuh, bagaimana!" seru Dinda yang memelototi putri semata wayangnya sembari bertolak pinggang.
"Mami cereweet! Aku ngerti, kok!" sahut Tiwi seraya menjulurkan lidahnya kesal, yang langsung mendapat teguran halus dari Adelia untuk bersikap baik pada sang ibu.
"Habisnya Mami dari tadi larang aku untuk melakukan ini dan itu, Bun! Takut banget aku merusakkan barang-barang Bunda, padahal jelas-jelas aku udah ngerti!" Tiwi memajukkan bibirnya.
Adelia tersenyum lembut lalu menjawil hidung keponakan tersayangnya itu. "Mami sebenarnya bukan mengkhawatirkan barang-barang Bunda, tetapi kamu. Hanya saja mami terlalu gengsi mengatakannya," bisik wanita itu di telinga Tiwi.
__ADS_1
Tiwi tertawa kecil karena merasa tergelitik. "Benarkah?" tanya gadis kecil itu dengan mata berbinar.
Adelia menganggukkan kepalanya. "Ssstt, rahasia kita saja ya?"
Tiwi mengangguk semangat. Wajahnya yang tadi terlihat muram kini bersemangat kembali. Dia pun berbalik pergi meninggalkan Adelia yang berjalan mengikutinya.
Wanita itu kemudian menyalakan saluran televisi anak-anak yang tidak pernah ditemukan di rumah mereka. Maklum saja, televisi di rumah keluarganya masih televisi biasa. Adelia sudah berkali-kali menawarkan televisi baru, tapi sang ayah menolak.
Aini sontak terkejut, ketika pinggangnya tiba-tiba dipeluk oleh Adelia.
Wanita itu memeluk tubuh sang ibu sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh beliau yang menenangkan.
Aini tersenyum. Dielusnya punggung tangan Adelia yang melingkari pinggangnya. "Tidurmu nyenyak, Sayang?" tanya Aini lembut.
Aini menghela napas. Ditatapnya langit-langit apartemen mewah tersebut. "Ibu ikhlas jika kamu memang ingin berpisah dengan Wisnu. Rasanya itu berkali-kali lipat lebih baik setelah melihat kehidupan tenangmu di sini."
Adelia mengangkat wajahnya dan meletakkan dagu di salah satu pundak sang ibu. "Biar dia yang mengajukan gugatan cerai, Bu. Aku tidak ingin repot-repot memikirkannya."
Aini menganggukkan kepala.
...**********...
__ADS_1
Wisnu melempar pulpen yang sedang dipegangnya, setelah mendengar laporan salah satu anak buah suruhannya soal kediaman keluarga Adelia yang telah kosong.
"Mengawasi keluarga seperti itu saja kau tidak becus!" hardik Wisnu.
"Ma maaf, Tuan, warga di sana sangat ketat menjaga wilayah mereka setelah insiden terakhirPak Arwan melabrak kami. Jadi, kami tidak berani mengawasi lebih dekat."
Wisnu semakin marah. Dia pun mengumpat dan mengusir kasar pria tersebut.
Sedetik kemudian seorang wanita datang ke dalam ruangan sembari membawa sebuah map. "Pak, ini proposal yang akan diajukan kepada Crystal Company."
"Letakkan saja di sana, dan batalkan seluruh janji hari ini. Bilang juga pada semua orang untuk tidak datang ke ruangan ini, saya tidak ingin diganggu!" seru Wisnu tanpa menoleh pada karyawannya.
Si wanita menganggukkan kepala, lalu dengan hati-hati berlalu pergi meninggalkan ruangan Wisnu.
Wisnu memijit pelipisnya sambil melirik sebuah figura foto yang masih bertengger manis di atas meja kerja.
Itu adalah foto Adelia dan dirinya yang sedang berlibur ke Swiss beberapa tahun lalu sebagai bulan madu ke tiga mereka.
Waktu itu dunia terasa sangat indah, meski Adelia baru saja mengganti dokter kandungannya demi mengobati ketidaksuburan yang dia derita.
Tak ada air mata mau pun kesedihan, sebab mereka telah berjanji untuk melewati semua dengan penuh sukacita. Dan hal tersebut membuat Wisnu sadar, bahwa Adelia jauh lebih bahagia dan tabah menghadapi cobaan tersebut dari pada apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Ya, mungkin hanya wanita bodoh saja yang tahan menghadapi kedzaliman keluarga suaminya. Sekuat apa pun hati yang mereka miliki, mereka tetap lah seorang wanita biasa yang bisa mencapai batas, dan Adelia telah mencapai batas itu.