
Steven dengan wajah datarnya mengemudikan mobil menembus hujan deras yang baru saja turun. Benaknya masih saja melayang pada perkataan Nia perihal kematian Intan yang terjadi beberapa bulan setelah kelahiran Bobby.
"Mbak Intan sempat mengalami masalah saat melahirkan Bobby karena pre-eklampsia. Dia juga mengalami baby blues hingga terpaksa dirawat di rumah sakit. Setelah berjuang beberapa bulan, Mbak Intan menyerah."
Steven mengeratkan cengkeraman tangannya pada kemudi. Meski dia membenci Intan, tetapi tetap saja jauh di dalam lubuk hatinya, Steven merasakan sesuatu yang amat tidak nyaman. Steven ... enggan berspekulasi.
...**********...
"Mbak!" Nia dengan pelan menyentuh pundak seorang wanita yang sejak tadi berdiri menatap jendela yang berada di lantai dua. Wanita itu berbalik seraya menatap sendu Nia.
"Apa yang dia katakan, Nia?" tanyanya lirih.
"Katanya, beliau akan kembali lagi ke sini," jawab Nia. Suasana sempat hening sejenak, sebelum kemudian Nia kembali bicara. "Mbak benar-benar yakin akan memberikan Bobby padanya?"
Helaan napas keluar dari mulut wanita berpakaian sederhana tersebut. "Ya, kalau dia meminta. Bobby akan jauh lebih bahagia dan hidup layak jika bersama dengan ayahnya." Setelah berkata demikian, Intan kembali berbalik menatap suasana luar melalui jendela. Tempat dimana tadi dia melihat sosok Steven di sana.
Sosok yang sempat membuatnya terkejut beberapa waktu lalu. Sebab dia lah yang sebenarnya pertama kali mendapati kedatangan pria itu. Namun, Intan dengan cepat meminta Nia untuk keluar menyambutnya, setelah meminta wanita muda itu untuk mengarang cerita tentang dirinya.
Intan memilih menjalani hidup di panti tersebut, setelah Mona pergi entah kemana. Dari kabar yang dia dengR, Mona turut ditangkap polisi atas kasus kriminal yang tidak dia ketahui. Sementara Attan akan menetap di penjara dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Intan tidak punya pilihan. Dia terlalu malu untuk menginjakkan kakinya di ibu kota, tempat dimana keluarga Wisnu berada. Dia juga tidak ingin menemui Steven yang telah menghancurkan hidupnya dengan membongkar kebohongannya di depan keluarga Wisnu.
Awalnya Intan merasa sangat marah, tetapi kini dia mengerti bahwa apa yang dilakukan Steven adalah wujud hukuman yang memang seharusnya dia terima. Kini dia berniat untuk memperbaiki diri dengan menjalani hidup sebagai seseorang yang baru lagi tanpa embel-embel orang-orang di masa lalunya.
"Maaf," bisik Intan lirih.
...**********...
Adelia terkejut kala mendapati Wisnu berdiri di halaman rumahnya dalam suasana gerimis. Hujan baru saja reda dan kini hanya tinggal rintik-rintik saja yang masih setia membasahi bumi.
Setelah mempertimbangkan diri sejenak, Adelia memutuskan keluar dari dalam rumahnya guna menemui Wisnu.
"Tahu dari mana alamat rumahku?" tanya Adelia dingin, yang langsung membuat Wisnu merasa tak enak hati.
"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Wisnu dengan nada canggung.
"Bicara apa?" Tanpa memedulikan kondisi Wisnu yang sedikit basah, Adelia membuka suaranya. Dia sama sekali tidak berniat mempersilakan pria itu masuk.
Wisnu menggigit bibirnya, merasa sedikit menyesal karena telah menemui Adelia. Namun, dia tak bisa menahan diri lagi. Dia ingin bertemu dengan Adelia sebelum pulang. Setidaknya untukk terakhir kali.
__ADS_1
"Meski aku tahu hal ini mungkin tidak akan membawa perubahan, izinkan aku untuk tetap meminta maaf sekali lagi. Aku sangat senang mengetahui kehidupanmu yang begitu baik di sini."
Adelia terdiam.
"Sejujurnya, aku menyesal telah melukaimu, Del. Andai Tuhan mengizinkan, aku ingin mencoba memperbaiki semuanya dari awal lagi. Namun, Tuhan justru membiarkanku melihat, bahwa kamu telah menemukan laki-laki terbaik."
Wisnu berjalan mendekat ke arah Adelia, sembari menyerahkan seuntai kalung yang sangat Adelia kenal.
Adelia tentu saja terkejut, sebab kalung tersebut adalah kalung kesayangannya yang telah direbut oleh Ratna. Kalung tersebut pernah diberikan Wisnu sebagai hadiah ulang tahun saat mereka baru menikah.
"Apa maksudmu?" tanya Adelia.
"Biar bagaimanapun benda ini milikmu. Mau diapakan terserah padamu, Del, aku hanya mengembalikan yang seharusnya menjadi milikmu. Dan dengan ini aku juga berjanji tidak akan muncul lagi di hadapanmu. Berbahagialah, Del, kamu pantas mendapatkannya."
Adelia bungkam. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk memutuskan menerima kalung tersebut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Wisnu undur diri. Pria itu berjalan keluar dari halaman rumah Adelia dan pergi meninggalkan wanita itu.
Adelia mematung. Tidak ada setitik pun air mata yang keluar membasahi pipinya. Semua telah beku. Perasaannya pada Wisnu tak lagi tertinggal. Kendati begitu, Adelia berharap, Wisnu dapat menjalani semua balasan ini dengan ikhlas agar bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
__ADS_1