Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 54: Pertemuan pertama Steve dan Wisnu.


__ADS_3

Pemberitaan tentang dirinya yang masih hangat diperbincangkan membuat seluruh perhatian karyawan kantor tertuju pada pria itu. Apa lagi Intan ternyata pernah datang ke sana untuk mencari Wisnu dan dengan gamblang mengatakan bahwa dia adalah istrinya.


Mata-mata liar para penghuni kantor tentu saja membuat Wisnu marah sekaligus risih dan malu.


"Lihat apa kalian? Berani sekali memandang saya dengan tatapan seperti itu! Kalian mau saya pecat, hah!" ancam Wisnu ketika mendapati beberapa orang karyawan yang satu lift dengannya memerhatikan diam-diam.


Mendapat ancaman demikian, karyawan-karyawan tersebut sontak meminta maaf sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ma—maaf, Pak," ucap mereka nyaris serempak. Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Mereka semua kompak keluar meninggalkan Wisnu sendirian, meski sebenarnya masih ada yang belum mencapai lantai yang dituju.


Pemandangan yang sama pun terjadi saat Wisnu keluar dari lift di lantai berikutnya. Beberapa di antaranya bahkan sampai berhenti beraktifitas lalu kemudian berbisik-bisik sembari melirik ke arah pria itu.


"Karyawan-karyawan kurang ajar!" desis Wisnu.


"Apa yang kalian lihat!" teriaknya keras. "Jika berita itu membuat kalian risih dan menilai saya buruk, lebih baik serahkan surat pengunduran diri kalian sekarang juga! Jangan jadi orang munafik dengan masih mencari nafkah di tempat ini!"


Mendengar teriakan penuh ancaman Wisnu, mereka sontak terkejut dan langsung melanjutkan aktifitas masing-masing.


Wisnu yang masih terlihat marah bergegas menghampiri salah satu karyawan yang semula melihatnya sinis untuk memberi pelajaran. Namun, kehadiran sekretarisnya membuat Wisnu mengurungkan niat.


Wanita itu dengan lembut dan hati-hati meminta Wisnu untuk tidak memerdulikan mereka semua. Toh, biar bagaimana pun mereka adalah bawahan Wisnu dan tidak akan berani berbuat lebih jauh.


"Siapa pun yang mencoba membahas saya, langsung pecat!" titah Wisnu.


"Baik, Pak," jawab wanita itu.

__ADS_1


...**********...


"Intan, Sayaaaang!" Mona dengan wajah sumringah berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri sang keponakan tercinta. Mereka berdua memang memiliki janji temu di salah satu mall besar, setelah Mona menonton wanita itu di televisi kemarin.


Intan dengan wajah berseri-seri menyambut pelukan hangat Mona. Wanita itu tidak lagi terlihat sedih dan stres seperti sebelum-sebelumnya. Wajar saja, sebab statusnya sebagai istri kedua kini telah gugur sepenuhnya. Terlebih, ketika Wisnu dengan gamblang melakukan konferensi pers kemarin, sekaligus memperkenalkan dirinya ke khalayak ramai.


Intan jadi merasa lebih percaya diri. Kini dia yakin tak akan ada lagi hal yang mampu menghalanginya untuk memiliki Wisnu secara utuh.


"Aku bahagia, Tan," ucap Intan kemudian.


Mona tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tante tahu, Sayang, Tante tahu. Semua terlihat jelas di wajahmu," jawab wanita itu seraya menjawil kecil pipi Intan.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Sayang?" tanya Mona kemudian.


Intan berpikir sejenak. "Untuk Wisnu, tidak ada, Tan. Semua berjalan dengan baik tanpa aku harus bersusah payah. Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa semua yang aku lakukan semata-mata hanya membutuhkan air mata saja."


Wanita itu menepuk-nepuk lengan Intan. "Syukurlah, tak akan ada lagi penghalang antara dirimu dan Wisnu, Sayang. Semua sudah kamu dapatkan!"


"Belum semua Tan!" seru Intan.


Mona mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?"


"Wisnu masih memiliki ibunya yang tidak akan melepaskan pria itu begitu saja! Aku tidak ingin hidup seperti Adelia!" katanya tegas.

__ADS_1


"Tidak akan Sayang. Sudah jelas terlihat kalau ibu mertuamu sangat menyayangimu," ujar Mona.


Intan menggelengkan kepala. "Tidak, Tan, dia hanya menyayangi anakku. Aku yakin setelah lahir, nasibku akan nyaris sama seperti menantunya terdahulu."


"Lalu, bagaimana?" tanya Mona.


Intan menatap Mona dengan seulas senyum misterius yang cukup membuat wanita itu bungkam.


...**********...


Beberapa hari kemudian pertemuan Alex dan Wisnu dijadwalkan kembali. Dan lagi-lagi pria itu meminta Steve untuk menemaninya ke sana.


Saat itu lah Steve terkejut, karena ternyata kolega sang kakak adalah Wisnu, pria yang baru saja dia ketahui merupakan suami dari Intan. Maklum saja, dia tak pernah sekali pun melihat dokumen-dokumen yang dimiliki Alex sebab tidak tertarik sedikit pun. Niatnya ke sana hanya murni menemani sang kakak menggantikan Adelia.


"Saya dengar Anda datang ke kantor waktu itu. Maaf, membuat kedatangan Anda sia-sia, Tuan Alex," ucap Wisnu setelah sebelumnya melirik ke sana kemari guna mencari seseorang.


"Tidak apa, saya memahaminya," jawab Alex tanpa perlu menjelaskan panjang lebar maksudnya.


Wisnu sekali lagi berterima kasih. "Omong-omong, Anda sepertinya datang dengan sekretaris baru?" tanya pria itu kemudian.


Alex tersenyum kecil. "Bukan, ini adik saya, Steve. Untuk sementara dia yang akan menemani saya," ujar Alex memperkenalkan sang adik.


Wisnu yang terkejut sontak meminta maaf. "Maaf, saya tidak tahu." Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Steve dan mengajaknya berkenalan.

__ADS_1


Steve dengan wajah datar menyambut uluran tangan Wisnu. Keduanya sempat bertemu pandang selama beberapa saat sebelum saling melepaskan diri.


Sikap Steve yang kurang bersahabat, membuat Wisnu sedikit tak nyaman. Entah mengapa, Wisnu merasa kalau Steve sangat membenci dirinya.


__ADS_2