
Wisnu tersentak kaget. Ada raut ketakutan yang hinggap di wajah tampan pria itu kala mendengar ucapan tegas dari orang yang paling dihormatinya.
"Apa maksud Papa?" tanya Wisnu tanpa memperlihatkan sikap gentarnya.
"Kamu tahu apa yang Papa maksud, Wisnu!" sahut Hariadi.
"Pa, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan Adelia, jadi, Papa tidak perlu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku! Aku lah yang harusnya memberi peringatan pada Papa karena telah membawa pergi Adelia!"
Mendengar perkataan Wisnu, Hariadi mendecih. "Tak ada yang salah dari tindakan Papa. Terlebih pada seorang suami brengseekk sepertimu, Wisnu!"
Wisnu membelalakkan matanya. Seumur hidup, Hariadi tidak pernah terlihat semarah dan sefrontal itu padanya.
Suasana yang mulai panas terasa semakin memanas saat tiba-tiba pagar rumah Hariadi terbuka.
Wanita yang saat ini tengah mereka perbincangkan rupanya datang ke sana.
Adelia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendapati keberadaan Wisnu di tempat sang ayah mertua. Dia lupa bahwa pria itu mungkin saja mengunjungi beliau.
Melihat kehadiran Adelia membuat Wisnu benar-benar berang. "Kalian telah bersekongkol rupanya!" Wisnu kemudian mendekati Adelia dan mengambil tangannya kasar.
"Apa-apaan kamu!" sentak Adelia keras.
__ADS_1
"Ikut aku pulang! Apa kamu lupa, kalau kamu masih menjadi istriku?" Wisnu menajamkan matanya memandang Adelia.
Adelia menggelengkan kepala. "Aku tidak mau pulang! Lagi pula di sana bukan lah rumahku!" seru Adelia yang berhasil melepaskan diri dari genggaman tangan Wisnu. "Lagi pula, rumah itu bukan lah rumahku. Ibumu dan Intan adalah orang yang sempurna untuk mendampingimu, bukan aku!"
"Adelia!" teriak Wisnu. Napasnya tampak naik turun menahan emosi. Ingin sekali Wisnu menyeret kasar Adelia, tidak peduli jika tubuh wanita itu terluka karena terseret di atas aspal. Namun, dia berusaha menahan diri.
Akan tetap, tiba-tiba sebuah pikiran gila lainnya melintas di kepala pria itu.
Wisnu tersenyum sinis sembari menatap Hariadi dan Adelia bergantian. "Ah, aku tahu sekarang! Jangan-jangan di belakangku, kalian diam-diam menjalin hubungan, kan?"
Mendengar tudingan tersebut, Hariadi dan Adelia terkejut bukan kepalang. Mereka sama sekali tidak menyangka Wisnu dapat berpikiran segila itu.
Wajah Adelia seketika merah padam. Tangannya terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Suara hantaman terdengar sedetik setelah Wisnu berkata demikian. Pria itu ambruk setelah menabrak pintu mobil Hariadi.
Adelia dengan mata berkaca-kaca mengepalkan tangannya yang masih terasa panas karena baru saja melakukan kekerasan kepada suaminya sendiri.
"Asal kamu tahu Wisnu, aku bukan lah wanita rendahan seperti istri mudamu! Satu hal yang harus kamu tahu, berkaca lah sebelum menghina orang lain! Tanyakan pada dirimu sendiri, aku, atau Intan dan dirimu yang ******!" ucap Adelia dingin. Tatapannya kemudian beralih pada Hariadi. "Pa, aku berubah pikiran. Aku akan menceraikan anak Papa."
...**********...
__ADS_1
"Sendiri lagi, Bu? Suaminya sibuk sekali ya sampai-sampai tidak bisa menemani ibu." Seorang wanita berusia empat puluhan tiba-tiba menghampiri Intan yang tengah duduk di kursi tunggu bagian farmasi. Dia baru saja memeriksakan kehamilannya sendirian. Biasanya ada sang ibu mertua atau Mona yang menemani, tetapi kali ini mereka berdua sedang ada kegiatan sendiri.
Intan hanya bisa tersenyum ramah tanpa menjawab. Wanita yang sedang merasa sensitif tersebut tidak ingin menambah beban pikiran dengan menanggapi celotehan si wanita.
Mereka memang sering kali berjumpa karena kebetulan memiliki jadwal pemeriksaan bersama. Itu lah mengapa wanita itu hafal betul dengan sosok Intan.
"Kalau suami saya sesibuk apa pun pasti menyempatkan waktu untuk menemani, Bu, padahal sekarang penantian anak ketiga kami. Jadi, seharusnya anak pertama terasa lebih spesial, kan?" kata sang wanita sekali lagi.
Helaan napas keluar dari mulut Intan. Demi menghindari celotehan wanita itu, Intan memilih memainkan ponselnya.
"Nyonya Intan Permata Swastika!"
Kelegaan tampak dari raut wajah Intan, ketika apoteker memanggil namanya. Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan si wanita tanpa bicara sepatah kata pun. Setelah menerima vitamin tersebut, dia pun berbalik pergi menuju keluar rumah sakit dengan langkah cepat.
Akan tetapi, langkahnya yang terburu-buru membuat wanita itu tanpa sengaja menabrak seseorang hingga vitaminnya terjatuh.
Seseorang tersebut dengan sigap mengambil vitamin Intan dan membaca namanya.
"Ah, ma maaf, saya tidak sengaja," ucap Intan pada pria yang sedang membungkukkan badannya tersebut.
"Tidak apa-apa, Intan. Tidak kusangka, kita bertemu lagi di sini."
__ADS_1
Mata Intan terbelalak lebar, tatkala mendapati Steve berdiri tegak sembari menyerahkan vitamin milik Intan yang tadi diambilnya.