Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 59: Berusaha mempertahankan kepercayaan.


__ADS_3

Tak ada yang lebih mengejutkan bagi Adelia, dari pada apa yang baru saja dia dengar beberapa saat lalu.


Setelah insiden yang dilakukan Steve, Hariadi menyuruh orang-orangnya untuk segera membubarkan pesta tersebut detik itu juga.


Walau Hariadi yang selama ini bersikap baik pada Alex dan sangat membenci sikap buruk Ratna, bukan berarti dia bisa menerima perlakuan kurang ajar Steve. Apa lagi, Steve diketahui menyuruh orang untuk menyabotase acara tersebut.


Hariadi sempat memaki Steve, yang langsung mendapat pembelaan dari Alex. Mereka sempat berdebat sengit mengenai fakta yang baru saja Steve ungkapkan. Hariadi bahkan mengancam akan melaporkan Steve ke polisi karena telah mencemarkan nama baik mereka. Namun, Steve dengan santai mempersilakan.


"Saya tidak keberatan, tetapi sebelum itu, lebih baik tanyakan pada Intan kebenarannya! Intan yang lebih tahu soal itu!" Hanya itu sebaris jawaban yang terlontar dari mulut Steve sambil berlalu meninggalkan tempat.


...**********...


Mata sembab Adelia menjadi saksi perasaan wanita itu saat ini. Terlebih, ketika mengingat fakta bahwa anak yang dikandung Intan merupakan anak dari Steve.


Wanita itu semula meragukan cerita Steve. Namun, melihat apa yang dilakukan pria itu terhadap perusahaan mantan suaminya, membuat keraguan tersebut sirna.


Adelia memang tidak lagi memiliki perasaan pada Wisnu, tetapi dia merasa semuanya sia-sia, ketika mengetahui bahwa langkahnya berpisah dengan Wisnu demi Intan dan bayinya ternyata hanya tipu daya dari wanita itu.


Langkah Adelia kembali gontai, jika saja Alex yang sedari tadi memapahnya tidak sigap memegangi bahu wanita itu. Setelah beberapa lama berjalan, mereka kemudian tiba di depan kamar hotel yang memang telah dipesan.

__ADS_1


Steve tanpa berkata apa-apa memilih masuk ke dalam kamar lain yang berada di seberangnya, sedangkan Alex menemani Adelia di depan kamar wanita itu.


"Tolong, jangan sia-siakan air matamu untuk mereka," pinta Alex sembari mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi halus Adelia.


Adelia tersentak dan reflek mundur selangkah. Namun, Alex menahannya. Seolah hal tersebut bukanlah hal besar, dia dengan lembut membantu menghapus jejak-jejak air mata itu hingga tidak bersisa.


Adelia hanya bisa mematung. Tangannya yang hendak menampik Alex tiba-tiba terasa kaku tak mampu bergerak.


...**********...


Sementara itu ketegangan kembali terlihat di kediaman keluarga Kencana. Intan yang kini menjadi fokus perhatian seluruh keluarga dengan penuh derai air mata bersimpuh di hadapan Wisnu dan kedua mertuanya sembari mengucap sumpah, bahwa apa yang dikatakan Steve tidak lah benar.


"Benar! Saya tahu betul bagaimana Intan. Masa lalunya juga tidak seperti yang dikatakan pria siaalaan itu!" Mona berusaha memasang badan untuk melindungi keponakannya tersebut.


"Lalu, bagaimana dengan masa lalu Anda berdua dan juga Intan?" Hariadi dengan wajah dingin mengutarakan pertanyaan yang langsung membuat Mona dan Attan terdiam sejenak.


Keduanya tampak bimbang sembari sesekali bertukar tatapan, sebelum akhirnya, Attan dengan tiba-tiba ikut bersimpuh di sebelah Intan. "Kami memang memiliki masa lalu yang buruk. Mungkin, orang kaya raya seperti kalian tidak lah mengerti bagaimana hidup orang kecil seperti kami. Namun, kami telah bertobat. Intan memang keponakan kami, tapi bukan berarti dia sebejjaat itu!"


Helaan napas keluar dari mulut pria itu. "Kalian bisa menghakimi kami, tapi, tolong, jangan dengan Intan," ucapnya sendu.

__ADS_1


Melihat sang suami berlaku demikian di hadapan keluarga Wisnu, Mona mengambil kesempatan dengan berpura-pura menangis. Mau tidak mau, dia harus sekuat tenaga melindungi Intan agar tetap berada di singgasana dinasti keluarga ini.


"Soal masa lalu, saya tidak peduli, sebab yang saya inginkan hanyalah kebenaran soal anak yang dikandung Intan!" Hariadi kembali membuka suaranya tanpa sedikit pun tertarik dengan drama murahan ketiga orang tersebut.


"Kita akan segera lakukan tes DNA!" sambung Hariadi tegas


Mendengar itu, Intan sontak terkejut. "Tapi, Pa, aku sedang hamil ... Mana bisa ...?"


"Teknologi sekarang sudah canggih, semua bisa dilakukan bahkan ketika bayimu masih berada di sana," ucap Hariadi dengan raut wajah tidak bersahabat.


"Ta tapi, bukankah itu beresiko, Pak?" tanya Mona kemudian.


"Kalian tidak berusaha mencari alasan, kan?" ujar Hariadi tajam.


Mona refleks menggelengkan kepala. Intan mengalihkan pandangannya pada Ratna dan Wisnu yang sedari tadi hanya diam sambil memasang wajah kosong.


"Kalau begitu, secepatnya kita akan lakukan!" Setelah berkata demikian, Hariadi pergi meninggalkan tempat menuju ke kamarnya. Sementara Intan langsung berdiri dan memeluk Wisnu guna meminta pertolongan agar tes DNA dilakukan saat bayi itu sudah lahir.


"Turuti kata Papa," ucap Wisnu yang langsung menyusul Hariadi pergi, sedangkan Ratna masih terdiam mematung, meski Mona berusaha mengguncang-guncang tubuhnya.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar terlihat sangat syok.


__ADS_2