
Intan terdiam dengan raut wajah penuh ketakutan. Dia sama sekali tidak menghiraukan uluran tangan Steve yang memegangi vitaminnya, sampai kemudian Steve berinisiatif mengambil tangan Intan dan meletakkan benda tersebut di tangan wanita itu.
Intan mundur selangkah. Dengan tangan gemetaran dia melepaskan diri dan berusaha menghindari Steve yang kini tengah memandangi perutnya. Namun, perkataan Steve setelahnya membuat wanita itu mematung.
"Tampaknya akhir-akhir ini kita sering sekali dipertemukan ya? Kira-kira kenapa bisa begitu Intan? Apa langit sedang menuntunku untuk membongkar kebusukanmu atau menuntunku untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu?"
Sekujur tubuh Intan tiba-tiba dingin, seolah-olah dia baru saja disiram dengan seember penuh air es.
Steve berjalan menghampiri Intan dan kembali memandangi perut buncitnya.
Intan refleks mengelus perutnya, seperti sedang melindungi sang bayi dari terkaman hewan buas.
Steve tersenyum lebar. Perlahan dia mendekati telinga Intan dan berbisik, "kuharap, bayi kita selalu sehat di dalam sana."
...**********...
__ADS_1
Wisnu hanya bisa menatap kepergian Adelia dari rumah Hariadi dengan tatapan syok. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Adelia akan mengambil keputusan seberani itu.
Hariadi sendiri memilih meninggalkan sang putra di luar rumah dan mengunci pintu. Pria itu masih terlihat emosi dengan tuduhan keji tak berdasar putranya tersebut soal hubungan dirinya dan Adelia.
Sementara Adelia memilih masuk ke dalam taksi yang kebetulan berhenti tepat di depannya. Namun, saat taksi itu hendak pergi suara ketukan di pintu terdengar.
Itu adalah Alex. Pria itu ternyata sengaja mengikuti Adelia karena mengkhawatirkannya.
"Pak Alex!" seru Adelia dengan suara sumbang dan mata basah.
Tanpa melakukan protes Adelia mengikuti Alex dan masuk ke dalam mobilnya.
Selama beberapa menit awal tidak ada satu pun suara terdengar di dalam mobil, sampai akhirnya Alex membuka pembicaraan terlebih dahulu setelah melihat Adelia sudah lebih tenang. "Sudah merasa lebih baik?" tanya Alex hati-hati.
Adelia mengembuskan napasnya dan mengangguk pelan. "Maaf, Pak saya jadi merepotkan. Maafkan saya juga atas kejadian di kantor tadi, saya t—"
__ADS_1
"Sudah, hentikan minta maafnya. Sekarang bagaimana?" Alex sengaja memotong perkataan Adelia sebab tidak ingin membahas pelukan yang dia lakukan terhadap wanita itu.
Entah apa yang ada di pikiran Alex hingga tiba-tiba tanpa pikir panjang memberikan pelukan kepada Adelia. Dia memang menyadari betul tentang keanehan yang dirasakan hatinya setiap berdekatan dengan wanita itu. Namun, bukan berarti dia bisa secara sembarangan menunjukkannya di tempat umum, meski tidak ada yang melihatnya.
"Bagaimana apanya, Pak?" tanya Adelia yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Alex.
Alex tampak salah tingkah, sebab dia juga tidak mengerti dan asal bicara saja agar Adelia tidak terlalu memikirkan masalahnya.
Alex berdeham. "Maksudku, sekarang kamu mau pulang atau pergi ke suatu tempat?"
"Untuk apa saya pergi ke suatu tempat?" tanya Adelia dengan wajah polos.
Alex melipat kedua bibirnya seraya menghela napas. Kenapa orang sedingin dia bisa grogi seperti ini sampai salah bicara, dan lagi, mengapa Adelia bisa sebodoh ini dengan apa yang dia katakan. Seharusnya, sebagai sekretaris, dia mampu menelaah maksud perkataannya.
"Sudah lah, lupakan. Kita makan saja. Kamu mau makan di mana?"
__ADS_1
Adelia terdiam sejenak. "Terserah Bapak saja."