Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 63: Hyacint.


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Suara gemuruh terdengar lantang dari salah satu ruang rapat perusahaan Crystal Company. Tepatnya berasal dari para peserta rapat yang baru saja mendengarkan presentasi hebat Adelia.


Sudah bukan rahasia lagi, jika wanita itu sering diberikan hak istimewa oleh Alex dengan ikut turun tangan dalam beberapa proyek, padahal posisinya hanya sebagai sekretaris pribadi saja. Awalnya, hal tersebut membuat Adelia sedikit dipandang sebelah mata oleh beberapa karyawan. Namun, kini mereka tahu bahwa Adelia memang memiliki kemampuan di sana.


Adelia sempat meminta jabatan pada Alex agar dia bisa bekerja di kantor tanpa harus mengikuti pria itu ke mana-mana, tetapi Alex tentu saja menolak keras. Alhasil, Adelia hanya bisa berpuas hati dengan posisinya sekarang.


Senyum sumringah terpatri di wajah wanita cantik itu. Sekali lagi dia membungkukkan badannya dalam-dalam. "Terima kasih banyak," ucap Adelia.


Tak berapa lama rapat pun dibubarkan. Semua peserta rapat mulai berjalan keluar ruangan.


"Kamu hebat, Del," puji Alex, "mulai minggu depan sepertinya kamu akan sangat sibuk karena ikut mengawasi proyek tersebut," sambungnya.


"Maka dari itu, seharusnya Bapak mengizinkan saya untuk hanya bekerja di kantor saja," kata Adelia.


Alex terdiam sembari melangkah perlahan menuju Adelia, hingga wanita itu bersandar pada dinding. Di ruangan tersebut memang hanya tinggal mereka berdua saja.


"Kamu tahu, aku tidak bisa melakukannya, dan jangan panggil aku seperti itu, ketika kita sedang berdua." Tangan Alex terangkat guna mengelus pipi ranum Adelia. Pria itu lagi-lagi berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hal lebih.


"Tetap saja kita sedang berada di kantor," jawab Adelia.


Alex mendecih kecil lalu tersenyum tipis. Ya, sejak tiga bulan lalu, dia telah memberanikan diri mengutarakan perasaannya pada Adelia di sebuah acara makan malam yang sengaja disiapkan oleh pria itu. Namun, Adelia tidak begitu saja menerima pengakuan cinta Alex.


Maklum saja, pengalamannya akan hubungan pernikahan dengan Wisnu membuat wanita itu cukup mengalami trauma mendalam. Butuh waktu bagi Adelia, sekaligus dia ingin menikmati kesendiriannya terlebih dahulu.


Alex yang mengerti, mempersilakan Adelia untuk melakukan hal tersebut, dengan catatan bahwa dia tidak boleh jauh-jauh dari pria itu.


Jadi, hubungan mereka sejak saat itu mulai berubah. Meski Adelia menolak, tetap saja dia merasa Alex tak lagi sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Alex yang masih berdiri tegak di hadapan Adelia, lantas menyingkirkan tubuhnya, kala ponsel wanita itu tiba-tiba terdengar berdering.


Helaan napas keluar dari mulut Adelia begitu melihat pesan singkat di dalam ponselnya.

__ADS_1


"Buket bunga lagi?" tanya Alex yang tampaknya sudah hafal dengan hal tersebut.


Adelia hanya membalas tatapan Alex tanpa menjawab. Dia kemudian melangkah pergi menuju meja kerjanya yang berada persis di luar ruangan Alex.


Di sana dia menemukan sebuket bunga hyacinth biru yang tergeletak manis di atas meja kerjanya.


Melihat itu, Alex tampak kesal. "Kapan dia akan berhenti mengganggumu? Atau perlukah aku beri pelajaran saja?" ucap pria itu kemudian.


Adelia menggelengkan kepala. "Jangan!" katanya tegas.


"Kenapa?" tanya Alex sambil mengerutkan kening. "Kamu membela dirinya? Apa kamu masih mengingatnya?" sambung pria itu kesal.


Adelia mendelik. "Ck, aku tidak mau kamu mengotori tanganmu!" sahut wanita itu yang langsung membuat Alex mengendorkan raut wajahnya.


Adelia kemudian meminta Alex untuk pergi menuju ruangannya. Setelah memastikan pria itu pergi, Adelia duduk di kursinya dan mengambil buket bunga tersebut.


Bunga Hyacint biru yang ada di tangannya saat ini adalah pemberian Wisnu untuk kesekian kalinya. Bunga yang melambangkan permintaan maaf tersebut tidak pernah absen datang ke meja Adelia sejak setahun lalu, tepatnya setelah Wisnu datang ke kantor dan membuat kehebohan di sana.


Kehebohan yang benar-benar membuat Adelia malu bukan main.


Alex dan Adelia baru saja melangkahkan kaki di lobi kantor, saat seorang pria berpenampilan berantakan merangsek masuk ke dalam sana.


"Woy, berhenti! Jangan sembarangan masuk!" teriak salah seorang satpam dari tiga orang yang sedang mengejar pria itu. Namun, pria itu dengan gesit menghindari mereka hingga berhasil berdiri si hadapan Adelia.


Adelia yang terkejut lantas memundurkan langkahnya, begitu pula dengan Alex yang langsung sigap melindungi Adelia. Namun, keduanya tersentak kala mendapati bahwa pria itu ternyata adalah Wisnu.


"Wisnu!" seru Alex. Saat ketiga orang satpam tersebut hendak membawa Wisnu, Alex dengan cepat menghentikannya.


Wisnu menatap Adelia yang berdiri di belakang Alex dengan tatapan sendu. "Lex, tolong, biarkan aku bertemu dengan Adelia," ucap pria itu lirih tanpa embel-embel panggilan kehormatan kepada Alex.


Alex sama sekali tidak tersinggung. Namun, dia tidak begitu saja memberikan izin. "Mau apa lagi kau? Bukankah semuanya sudah selesai, jadi kau tidak memiliki urusan lagi dengan Adelia!" jawab Alex tegas.


"Tidak, Lex! Aku ingin berbicara dengannya, kumohon!" pinta Wisnu.

__ADS_1


Alex terdiam lalu menoleh ke arah Adelia yang sedang menatap Wisnu dengan pandangan dingin.


Melihat keduanya tidak bereaksi, Wisnu pun secara tiba-tiba menekuk kedua lututnya di lantai.


Adelia terkejut. Wisnu, seorang pria sempurna yang dia kenal memiliki harga diri setinggi langit, kini malah dengan mudah bersimpuh di hadapan mereka. Ratusan karyawan yang berada di sana tentu saja menyaksikan hal tersebut.


Ke mana aura kekuasaan yang selalu bertengger di kedua pundak Wisnu? Belum lagi penampilannya yang sangat berantakan dengan kumis dan jenggot halus yang tumbuh di wajahnya. Alih-alih seorang pengusaha, Wisnu terlihat lebih pantas disebut tunawisma.


Adelia dengan wajah datar akhirnya berjalan keluar dari posisinya. Wanita itu berhenti tepat di sebelah Alex.


"Aku akan mendengarkannya bicara," ucap Adelia.


Alex terdiam. Dia tentu tidak bisa membantah kemauan Adelia tersebut. "Baiklah, aku akan menunggu di luar," ucap Alex.


Adelia menggelengkan kepala. "Di sini saja."


Mendengar Adelia berkata seperti itu, Alex mau pun Wisnu terkejut. Terlebih Wisnu yang tidak hanya merasa terkejut, tetapi juga malu jika harus disaksikan oleh pria itu. Namun, harga dirinya di hadapan Adelia memang tidak lagi berharga.


Alex menganggukkan kepala, tetapi dia memilih melangkah sedikit menjauh. Pria itu juga dengan tegas meminta seluruh penghuni kantor membubarkan diri.


"Berdirilah!" titah Adelia.


"Tidak! Aku akan terus seperti ini agar kamu bisa memaafkan segala kesalahanku, Adelia," ucap Wisnu.


Mendengar itu, Adelia terdiam. "Bahkan, jika kau merebahkan dirimu di bawah kakiku sekali pun, belum tentu aku mau memaafkannya, Wisnu."


Wisnu tersentak mendengar panggilan yang diberikan Adelia padanya sekarang. Rasa perih dan panas sontak saja menggulung hatinya yang telah hancur porak-poranda.


Wisnu berusaha menahan diri agar tidak goyah dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Maafkan aku atas segalanya Adel. Tuhan telah memberikan aku pembalasan luar biasa. Semua yang Steve katakan merupakan kebenaran ... anak dalam kandungan Intan bukanlah anakku!"


Adelia yang terkejut mencoba untuk tetap terlihat biasa-biasa saja. "Apa maksudmu, dan dari mana kau tahu hal itu? Bukankah kau sendiri yang dengan keras menentang pernyataan Steve!"


Wisnu bungkam. Tangannya kini semakin mengepal hingga membuat buku-buku jari pria itu memutih. Sambil tertunduk, Wisnu berkata, "selama ini bukan kamu lah yang tidak bisa memiliki anak, Del, tetapi aku." Pria itu kemudian mengangkat kepalanya guna menatap mata indah Adelia. "Akulah yang ternyata tidak bisa memberikanmu dan keluarga ini keturunan!"

__ADS_1


Sekujur tubuh Adelia sontak meremang, begitu mendengar pengakuan Wisnu. Alex dengan mata terbuka lebar dengan sigap memandang wanita itu, agar bisa berjaga-jaga jika saja Adelia butuh bantuannya.


Detik itu juga Wisnu kembali bersimpuh memohon ampun di hadapan Adelia, dan kini, Adelia bahkan sama sekali enggan meminta pria itu untuk berdiri guna menyelamatkan harga dirinya.


__ADS_2