Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 48: Putusan Cerai.


__ADS_3

Proses perceraian antara Adelia dan Wisnu cukup alot. Sebagai pihak tergugat, Wisnu dibantu pengacaranya mendapatkan kesempatan untuk melakukan pembelaan. Wisnu menjelaskan dengan gamblang bahwa dia menolak gugatan perceraian karena tidak merasa memiliki masalah berarti dalam rumah tangganya. Soal pernikahan kedua yang dia laksanakan pun, Adelia menyetujuinya.


Sementara Adelia melalui pengacaranya membeberkan beberapa alasan lain terkait perceraian yang dia ajukan. Sebab, selain perselingkuhan yang menjadi faktor utama, kekerasan verbal dan non verbal pun diterima Adelia dari Wisnu dan Ratna.


Visum memang tidak bisa dilakukan, tetapi dengan bantuan Hariadi, dia bisa menghadirkan saksi mata yang merupakan para asisten rumah tangga, juga salah satu rekaman CCTV yang masih terpasang di sana. Belum lagi kenyataan bahwa Wisnu menikahi Intan karena wanita itu telah hamil sebelumnya.


Berbekal bukti-bukti tersebut, hanya dalam waktu satu bulan saja, hakim dengan tegas memutuskan kemenangan Adelia.


Adelia terdiam mematung sembari memandangi halaman rumahnya dari balik jendela, kala Christine, sang pengacara, menelepon wanita itu untuk memberikan kabar tersebut.


Ada satu beban besar yang akhirnya terangkat dari pundak Adelia. Namun, entah mengapa dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan seutuhnya.


Maklum saja, mungkin karena kebersamaan Adelia dengan Wisnu sudah berlangsung selama satu dekade.


Adelia terus terdiam tanpa setetes air mata pun yang jatuh ke pipinya. Wanita itu baru benar-benar bereaksi ketika Hariadi datang ke rumah setelah mendapat telepon dari orang suruhannya di Jakarta.


Adelia dengan langkah tertatih meraih tubuh sang mantan ayah mertua lalu memeluknya erat. Dia menumpahkan seluruh air matanya yang sejak tadi ditahannya di pelukan beliau. Namun, alasan Adelia menangis bukan lah karena telah bercerai dengan Wisnu, melainkan karena tak ada lagi ikatan yang terjalin antara dirinya dan Hariadi.


"Biar bagaimana pun, ada atau tidak adanya ikatan pernikahan antara kamu dan Wisnu, kamu tetap putri Papa, Nak," ujar Hariadi sembari mengelus lembut surai Adelia. Matanya yang basah menandakan kesedihan yang juga dirasakan oleh pria itu.


"Maafkan aku, Pa, maafkan aku," ucap Adelia di sela-sela tangisannya.


Hariadi menggelengkan kepala. "Tidak ada yang perlu dimaafkan darimu, justru Papa lah yang harus meminta maaf karena keluarga Pap telah membuat hidupmu menderita selama ini." Hariadi menarik napasnya dalam-dalam guna meminimalisir kesedihan yang dia alami. "Tolong, maafkan semua kesalahan kami, Del. Maafkan Papa karena sempat menjadi pengecut dan tidak bisa melindungimu dengan baik."

__ADS_1


Mendengar suara Hariadi yang bergetar, Adelia malah mengeraskan tangisannya.


Sungguh, demi apa pun, beliau tidak seharusnya meminta maaf, sebab semua yang terjadi murni di luar kuasanya.


Adelia melepaskan diri dan menatap Hariadi dengan linangan air mata. "Papa tidak perlu meminta maaf, karena Papa tidak salah apa-apa."


Tangan Hariadi terangkat. Dia menghapus linangan air mata di pipi putrinya dan kembali memeluk tubuh ringkih wanita itu. "Berbahagialah putriku, raihlah semua keinginan yang sempat tertunda."


Adelia menganggukkan kepala.


...**********...


Wisnu terdiam tanpa kata di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Wajah pria itu tampak pucat pasi dengan tatapan mata yang kosong.


Tak ada lagi sosok istri terbaik di hidup Wisnu. Sosok istri terbaik yang pernah dia khianati sedemikian rupa. Sosok istri terbaik yang pernah membuatnya berhenti mencintai hanya karena memiliki satu kekurangan saja, dan sosok istri terbaik yang masih mampu tersenyum meski sempat mendapat kekerasan fisik darinya.


Wisnu sadar, dia tak pernah benar-benar berhenti mencintai Adelia. Sejak dulu hingga detik ini, perasaan itu masih bersemayam dalam hatinya. Wisnu hanya pernah berusaha memadamkan perasaan tersebut, demi wanita spesial lain yang telah melahirkannya ke dunia.


Andai saja dia tidak salah berpijak, mungkin dia tidak akan pernah kehilangan Adelia.


"Del," bisik Wisnu lirih seraya mencengkeram erat dadanya yang terasa sangat sakit.


Ada satu hal besar yang hilang dari dirinya saat ini, dan itu amat lah menyedihkan.

__ADS_1


"Del!" Tangis Wisnu pecah, saat memori indah mereka kembali diputar dalam otaknya. Memori indah yang seharusnya terbingkai abadi menjadi kenangan yang akan terurai kembali di masa tua.


Wisnu menyesali segalanya.


...**********...


"Kamu menang Sayang, kamu menang!" pekik Mona kegirangan sembari memeluk tubuh sang keponakan dengan erat.


Mona kemudian melepaskan pelukan tersebut dan memegang kedua lengan Intan sambil menatapnya dengan wajah meyakinkan. "Sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi soal apa pun, Intan. Wisnu sepenuhnya sudah milik kamu, dan sudah saatnya kamu mulai menguasai keluarga tersebut!" seru Mona.


Intan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Kendati kebahagiaan terasa di hatinya, tetapi tetap saja Intan merasakan hal lain di sana.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Mona ketika melihat perubahan raut wajah Intan.


"Semua yang aku lakukan benar, kan, Tante?"


Mona mengerutkan keningnya saat mendengar sepenggal keraguan Intan. Bagaimana tidak, Intan yang dia kenal adalah sosok yang cukup ambisius. Terlebih ketika masih menjalin hubungan bersama Wisnu di belakang Adelia. Jadi, saat sekarang dia sudah benar-benar sah mendapatkan Wisnu, mengapa keraguan itu timbul?


"Tentu saja Sayang! Kamu ibu dari anak Wisnu. Jadi tentu saja kamu yang lebih berhak hidup berdampingan dengan pria itu. Kamu lah yang ditakdirkan Tuhan untuk bersama Wisnu, bukan wanita itu! Dia hanya beruntung mendapatkannya lebih dulu!" Dengan berbagai perkataan manis, Mona meyakinkan Intan.


Intan pun kembali tersenyum, bahkan kini lebih lebar.


Dalam hati dia berjanji untuk tidak akan membiarkan posisinya terusik oleh siapa pun juga!

__ADS_1


__ADS_2