Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 26. Ingatan Adelia.


__ADS_3

"Mbak, hari ini Mbak ikut menemaniku ya?"


Adelia yang tengah asyik menunaikan sarapan paginya tiba-tiba berhenti. Wanita itu mengangkat wajahnya untuk menatap Intan, orang yang baru saja berkata demikian.


"Ha?" respon Adelia.


Intan tersenyum. "Hari ini jadwalku check up, dan aku ingin mengajak Mbak Adel untuk ikut bersama kami. Mau kan, Mbak? Boleh kan, Mas?" ujar wanita muda itu seraya mengalihkan pandangannya secara bergantian pada Adelia dan Wisnu yang duduk saling berseberangan. Kepulangan Hariadi membuat Adelia tak lagi duduk di ujung meja makan.


"Untuk apa, Sayang? Sebaiknya tak perlu karena dia pasti akan mengganggu," kata Ratna yang duduk persis di sebelah Adelia.


Adelia tersenyum samar. Dirinya yang semula enggan dan ingin menolak, jadi menerima tawaran tersebut. "Boleh. Lagi pula aku ingin melihat bayi kalian."


Ratna sontak mendengkus. "Cih, besar sekali jiwamu! Kamu mau melihat, apa berniat macam-macam pada cucuku?"


"Ma, jangan ikut campur pembicaraan mereka!" Hariadi membuka suaranya. Ratna segera mengalihkan pandangannya pada sang suami yang kini terlihat lebih berbeda.


Sejak kembali bekerja, Hariadi memang tampak lebih berbeda. Pria yang biasanya diam dan lebih banyak mengalah dengan kelakuan Ratna pada Adelia, kini selalu membela menantunya tersebut di berbagai kesempatan.


Ratna sendiri tidak mengerti. Mungkin Hariadi menjadi lebih peduli setelah melihat sendiri bagaimana mereka memperlakukan Adelia.


Apa bagusnya membela menantu mandul tak tahu diri! Batin Ratna kesal.


"Mama hanya mengeluarkan pendapat saja Pa! Siapa yang tahu bagaimana perasaan seorang istri yang tidak bisa hamil, ketika melihat bayi milih suami dan madunya," ujar Ratna tajam.


Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Ratna tersebut jelas membuat Adelia tertohok.

__ADS_1


"Maksud Mama apa?" tanya Adelia dengan nada biasa.


Ratna tersenyum sinis. "Ya, bisa saja kamu diam-diam melakukan sesuatu agar cucu dan menantuku celaka!"


"Ma!" sentak Hariadi.


"Tidak pernah terlintas dalam benakku sedikit pun untuk melakukan sesuatu pada mereka. Aku bahkan sudah sejak awal berdamai dengan keadaan yang ada."


Mendengar itu, Ratna tertawa kecil. "Berdamai katamu? Memang apa yang dilakukan putraku hingga membuatmu merasa tidak terima? Ingat Adel, dia seperti itu karena kamu tidak becus menjadi seorang istri!"


Suara gebrakan meja tiba-tiba menggelegar. Alih-alih Wisnu yang melakukan pembelaan terhadap Adelia, malah Hariadi kembali memasang badan. Pria itu meminta Ratna untuk menutup mulut rapat-rapat dan tidak lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga Wisnu.


Keributan pun sempat pecah di atas meja makan, sebelum akhirnya Wisnu membuka suaranya.


"Sudah, Del, kamu tak perlu ikut," pinta Wisnu.


...**********...


Sore hari pun tiba. Adelia, Wisnu, dan Intan sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Ratna yang semula hendak ikut bersama mereka dilarang keras oleh suaminya. Perdebatan sempat terjadi sebelum kemudian Ratna memilih menurut.


"Hati-hati di jalan ya Sayang, kalau ada apa-apa kamu bisa melaporkannya pada Mama," ucap Ratna pada Intan yang kini dirangkulnya menuju keluar rumah. Hariadi sama sekali tidak berkenan menemani mereka dan lebih memilih menyibukkan diri di perpustakaan.


"Iya, Ma," jawab Intan senang. Ketiganya pun tiba di depan rumah.


Melihat Wisnu membukakan pintu depan mobil, Intan dan Adelia berjalan berbarengan. Namun, saat Adelia hendak sampai lebih dulu, Ratna segera menarik lengannya kasar dan segera menghempaskan wanita itu ke kursi belakang.

__ADS_1


Melihat itu, Intan tersenyum senang. Seolah berpura-pura tidak tahu, dia dengan santai masuk dan duduk di kursi depan.


Adelia sendiri hanya bisa pasrah mendapat perlakuan dari Ratna. Lagi pula dia memang tidak berniat duduk di depan. Ratna saja yang terlalu berprasangka.


Setelah semua siap, Wisnu pun mengemudikan mobilnya keluar dari kediaman mereka. Di sepanjang perjalanan, Adelia harus tabah mendengar setiap ocehan Intan soal bayinya kepada Wisnu.


"Jadi, nanti aku ingin bayi kita memiliki kamar dengan nuansa biru laut Mas. Mas setuju, kan?" tanya wanita itu.


Wisnu menganggukkan kepalanya. "Boleh juga. Nanti aku akan meminta kenalanku untuk mendesainnya. Apa lagi yang kamu mau?"


Intan tampak berpikir, lalu kemudian menoleh ke belakang. "Mbak, menurut Mbak, apa lagi yang harus aku siapkan nanti?" tanya Intan meminta pendapat.


Adelia terdiam sejenak. Ingatannya tiba-tina bergulir pada obrolan beberapa tahun lalu bersama Wisnu.


Dulu setelah dinyatakan sehat, Adelia dengan penuh kegembiraan mulai membahas segala hal bersama sang suami, termasuk apa-apa saja yang kelak akan dibutuhkan bayi mereka nanti.


Alih-alih menyiapkan kamar sendiri, Adelia lebih menyukai 'bayi mereka' tidur dalam dekapan agar kontak batin antara mereka berdua dan sang bayi tetap terjaga ... dan itu lah yang dia katakan pada Intan secara sadar tak sadar.


Genggaman tangan Wisnu pada kemudi tiba-tiba mengerat, setelah mendengar pendapat Adelia.


Dia jelas masih mengingat perbincangan mereka dulu. Perbincangan yang hingga saat ini hanyalah khayalan semata.


"Wah, bagus juga idenya, Mbak. Sepertinya memang bena—"


"Tidur bersama kita memang bagus, tapi aku akan tetap membuatkan kamar seperti yang kamu mau!" potong Wisnu.

__ADS_1


Adelia sontak mengalihkan pandangannya pada sang suami, dan disaat yang bersamaan, Wisnu juga tengah memandang ke belakang melalui kaca spion tengah.


__ADS_2